Siapkah Indonesia dengan Bonus Demografi 2030?

bonus demografi
Foto: Pixabay.com

Bonus demografi diprediksi akan terjadi di Indonesia pada tahun 2030-2040. Bonus Demografi adalah fenomena yang terjadi akibat jumlah penduduk usia produktif, yaitu berumur sekitar 15-64 tahun lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia non-produktif, yaitu penduduk yang berumur sekitar dibawah 15 tahun dan diatas 64 tahun.

Masalah yang Timbul

Setiap peristiwa yang terjadi, bisa jadi akan menyebabkan suatu masalah. Tinggal bagaimana cara kita mengantisipasi masalah tersebut. Dengan adanya bonus demografi, angka pengangguran di Indonesia terancam meningkat. Hal ini dikarenakan adanya kompetisi penduduk usia produktif dalam mendapatkan pekerjaan.  Oleh karena itu, dibutuhkan kesiapan antara dua pihak, yaitu pemerintah dan penduduk. Pemerintah melakukan antisipasi dengan cara penambahan lapangan pekerjaan di berbagai bidang dan penduduk mempersiapkan diri untuk dapat bersaing dengan individu lain di masa yang akan datang.

Kondisi Indonesia

Seperti yang kita ketahui, kesehatan dan pendidikan merupakan hal dasar yang dibutuhkan oleh setiap penduduk untuk bisa menjadi SDM yang berkualitas. Namun, pada kenyataannya kualitas kesehatan dan pendidikan di Indonesia jauh dari kata baik dibanding dengan negara lain. Dalam ranah bidang pendidikan, banyak sekolah di Indonesia yang tidak mengajarkan soft skill dan membantu mengasah keterampilan siswanya. Mereka hanya mendapatkan ilmu dan rumus yang perlu mereka hafalkan agar lulus ujian dan naik kelas. Pola pendidikan seperti inilah yang membuat banyak lulusan di Indonesia tidak siap menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.

Badan pusat statistik (BPS) menyebutkan bahwa,tingkat pengangguran di Indonesia masih tergolong cukup tinggi. Tercatat 11,24% dari mereka adalah lulusan SMK, 7,95% lulusan SMA, 6,02% lulusan diploma, 5,89% lulusan universitas, 4,8% lulusan SMP, dan 2,43% lulusan SD. Hal tersebut dikarenakan mereka tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan lapangan pekerjaan yang tersedia.

Dilihat dari kondisi sumber daya manusia yang ada saat ini, Indonesia bisa dikatakan belum siap menghadapi bonus demografi dalam waktu dekat. Mengingat sekarang memasuki era digital 4.0 dengan dampak beberapa pekerja konvensional bisa jadi akan tergantikan. Hal tersebut merupakan pilihan tepat setiap perusahaan yang tentunya membuat pekerjaan lebih cepat dan tepat. Oleh karena itu, kebanyakan perusahaan saat ini membutuhkan orang-orang yang memiliki keahlian dalam mengolah data, app developer, atau orang yang ahli dalam digital marketing dan sejenisnya. Hal ini kembali lagi karena kita berada di era digital 4.0.

Persiapan yang dibutuhkan

Bonus demografi bisa menjadi peluang baik untuk pembangunan Indonesia di masa depan. Seperti yang kita ketahui, jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah kurang lebih sebanyak 269,6 juta jiwa. Diperkirakan tahun ini penduduk usia produktif menyentuh angka 68.75% dari total populasi. Namun, apakah 68.75% orang itu sudah siap menghadapi bonus demografi yang akan terjadi dalam 10 tahun yang akan datang? Mungkin penduduk Indonesia saat ini belum siap, mengingat total penduduk pengangguran masih berada di angka 6.88 juta orang. Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan kenaikan angka dari tahun sebelumnya.

Persiapan terhadap sumber daya manusia diharapkan dapat dilakukan sedini mungkin. Para orang tua bisa mempersiapkan kesiapan anaknya dengan menjaga kesehatan anak, memperhatikan pendidikan, melatih keahlian, dan hal lain yang dapat membentuk anak menjadi individu yang siap menghadapi bonus demografi.

Dibutuhkan kesadaran orang tua untuk mengawasi perkembangan anak agar tidak menjadi individu stunting. Hal tersebut dikarenakan aspek di atas saling berhubungan satu sama lain apabila orang tua mampu mengontrol kesehatan anak dan memberikan makanan bergizi. Maka kondisi tubuh dan otak akan mampu menerima ilmu dengan baik selama pendidikan di sekolah sehingga ilmu yang mereka dapatkan tidak hanya lewat begitu saja, namun bisa diterapkan. Mengingat saat ini kita berada di era digital dengan kesiapan skills dan penguasaan teknologi juga diperlukan, hal tersebut adalah aspek dasar agar individu bisa dikategorikan siap.

Pemerintah telah menyampaikan strategi Indonesia terkait dengan ketenagakerjaan dan pendidikan dalam siaran pers. Kementerian PPN/Bappenas mengadakan kerangka kerja inisiatif Reverse Linkage. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara pemerintah dengan Islamic Development Bank (IsDB), the Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) dan peserta dari beberapa negara dengan kegiatan berupa peer learning dan Knowledge-Sharing Workshop on Skills Development Strategy Formulation.

Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap agar pihak yang bergabung dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman yang dimaksud adalah kebijakan keterampilan dan ketenagakerjaan, serta penyusunan dan pelaksanaan strategi pengembangan keterampilan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemerintah sudah sadar apa yang perlu dipersiapkan untuk bonus demografi. Namun, akan lebih baik jika masyarakat Indonesia dapat berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan tersebut dan dapat dilakukan secara bertahap.

Soft skills

Untuk menghadapi kompetisi yang akan terjadi antar individu, dibutuhkan soft skill yang dapat membuat mereka bertahan. Menurut Tony Wagner, terdapat skills yang menjadi penentu kesuksesan individu di abad 21. Ketujuh skills tersebut adalah pemikiran kritis dan pemecahan masalah, kolaborasi lintas jaringan, ketangkasan dan kemampuan beradaptasi, inisiatif dan wirausaha, komunikasi lisan dan tertulis yang efektif, mengakses dan menganalisis informasi, dan rasa ingin tahu.

Kenyataannya, banyak orang tua yang tidak mengerti akan hal tersebut. Selain itu banyak Lembaga pendidikan yang tidak menerapkan soft skills tersebut. Banyak sekolah yang memfokuskan siswa dengan materi hafalan dan menjadikan ujian sebagai tolok ukur pemahaman. Pada nyatanya soft skill merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap individu agar mampu bersaing. Indonesia memerlukan banyak persiapan dan juga aksi untuk bisa menghadapi bonus demografi dengan baik. Perlu kesadaran dari setiap individu yang ada dan juga kemauan untuk belajar dari negara lain.

Trio Bayu Wicaksono
Mahasiswa Sampoerna University

Editor: M. Ridhwan Suriawijaya

Baca Juga:
Bonus Demografi dan Sikap Kita Menghadapinya
Kualitas dan Efektivitas Pendidikan Indonesia dalam Menghadapi Periode Bonus Demografi di Tengah Penularan Pandemi Covid-19
Pemuda dan Bonus Demografi

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI