Selalu Ada Sisi Baiknya: Perubahan Membawa Harapan Baru di Tengah Pandemi Covid-19

sisi baik covid-19
Gambar: Pixabay.com

Pandemi virus COVID-19 yang terjadi pada saat ini  memiliki banyak pengaruh bagi kehidupan. Seperti yang bisa kita lihat di TV, koran, dan sosial media bahwa di seluruh dunia banyak orang yang sakit bahkan meninggal. Sekolah-sekolah ditutup, kebutuhan sistem pelayanan kesehatan yang melebihi kapasitas, karyawan yang kehilangan pekerjaan, perusahaan yang rawan bangkrut dan pasar saham yang runtuh. Negara-negaraharus menghabiskan miliaran anggaran dana dan bantuan medis untuk menghadapi pandemi ini. Namun, di balik situasi tersebut terdapat dampak lain yang sangat positif bagi lingkungan. Hal ini merupakan kabar baik di tengah kabar buruk terkait semakin luasnya penyebaran virus COVID-19 di dunia.

Citra satelit Copernicus Sentinel-5P milik ESA dari langit di Italia Utara, menunjukkan penurunan polusi udara secara drastis setelah Italia menyatakan lockdown karena wabah pandemi virus corona, Covid-19.

Melansir dari Science Alert, Selasa (17/3/2020), para astronom menunjukkan adanya penurunan emisi nitrogen dioksida di langit Eropa. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan instrumen Tropomi pada satelit Copernicus Sentinel-5P dimana astronom mengambil gambar permukaan Bumi yang diambil dari 1 Januari hingga 11 Maret 2020. Gambar tersebut menunjukkan penurunan nitrogen dioksida, yang berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor dan asap industri, yang turun secara drastis. Selain Italy, negara- negara besar seperti Cina, Paris, Madrid, Roma, Amerika Serikat bahkan di seluruh dunia ternyata juga mengalami hal serupa.

Komponen paling penting yang menyebabkan polusi dan lapisan ozon berlubang adalah penggunaan gas chlorofluorocarbon (CFC) yang berasal dari pembakaran bahan fosil dan berbagai kegiatan industri lainnya. Selain itu, penurunan lalu lintas udara, darat dan laut serta pergerakan manusia di alam dan lingkungan luar ruangan juga dapat mengurangi jumlah polusi. Keadaan ini membuat emisi gas rumah kaca pada Maret 2020 menjadi sama kondisinya dengan 1990-an, yaitu 30 tahun yang lalu.

Hal ini pun juga dialami oleh Indonesia, walaupun pemerintah tidak menerapkan kebijakan lockdown, namun aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diambil pemerintah juga berpengaruh pada berhentinya sebagian besar roda ekonomi. Banyak perusahaan-perusahaan besar di Indonesia terpaksa menghentikan aktivitas pekerjaan normalnya di kantor dan mengikuti aturan pemerintah untuk Work From Home.

Seperti dilansir dari Merdeka.com, Kebijakan Work From Home atau kerja dari rumah mampu memperbaiki kualitas udara di Jakarta. Bukan hanya itu, curah hujan yang turun di beberapa perkotaan pun turut dalam membantu membersihkan udara dari polusi yang ada. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan di lima Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, perbaikan kualitas udara semakin meningkat. Terutama menurunnya konsentrasi parameter PM 2.5 selama penerapan WFH. PM 2.5 merupakan polutan yang berbentuk partikel-partikel debu halus berukuran 25 mikrogram/m.

Selain berkurangnya polusi, menurunnya keberadaan manusia di daerah dan habitat alami sejak pandemi virus corona juga membuat kehidupan satwa liar meningkat secara signifikan. Sebelumnya, populasi satwa liar di banyak negara telah menurun dari 29 sampai 40 persen selama dekade terakhir. Namun, perbaikan dan peningkatan populasi satwa liar mulai tampak sejak pandemi virus COVID-19 terjadi. Dampak positif dari wabah virus COVID-19 lainnya terkait keanekaragaman hayati adalah berkurangnya kunjungan wisatawan di habitat alami sehingga pemulihan habitat alami pun semakin cepat.

Situasi yang terjadi saat ini mungkin bisa dijadikan pelajaran. Bahwasanya, jika kita mampu menjaga Bumi dan tidak serakah, maka alam pun akan memberikan hasil yang baik, seperti udara yang segar. Kondisi Bumi yang sedang memulihkan dirinya sendiri  bisa menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk melakukan perbaikan. Kita bisa juga mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Misalnya dengan belajar memilah sampah sendiri di rumah dan membuat kompos.

Meski begitu, tak dapat dipungkiri, ada ketakutan mengenai kondisi Bumi yang akan kembali seperti sebelum wabah terjadi. Pasalnya, kegiatan produksi bisa jadi meningkat berkali-kali lipat untuk mengejar ketertinggalannya. Oleh sebab itu, perubahan gaya hidup ini sebaiknya tidak hanya melibatkan pihak individual saja, melainkan juga kepedulian dari seluruh masyarakat, pemerintah dan industri agar dapat bersama merefleksikan diri di tengah situasi seperti ini dan juga memikirkan upaya yang bisa  dilakukan dalam membantu sesama sekaligus menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan setelah wabah ini berakhir.

Sumber:
https://amp-kompas-com.cdn.ampproject.org/
https://nationalgeographic-grid-id.cdn.ampproject.org/

Susilawati
Mahasiswa Universitas Mataram

Baca juga:
Resesi Ekonomi Akibat Wabah Pandemi Covid-19 Memicu Mahasiswa Memilih Cuti Kuliah
Gotong Royong Indonesia dalam Menghadapi Krisis Komunikasi di Tengah Pandemi Covid-19
Kualitas dan Efektivitas Pendidikan Indonesia dalam Menghadapi Periode Bonus Demografi di Tengah Penularan Pandemi Covid-19

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI