7 Ramuan Herbal untuk Mahasiswa di Tengah Jadwal Kuliah Padat

Ramuan Herbal untuk Mahasiswa
Ilustrasi Ramuan Herbal untuk Mahasiswa

Jadwal kuliah yang padat sering membuat mahasiswa harus membagi energi untuk banyak hal sekaligus. Pagi mengikuti kelas, siang mengerjakan tugas kelompok, sore mengikuti organisasi, lalu malam masih harus menyelesaikan tugas.

Ketika tubuh mulai terasa lelah, kopi, minuman energi, suplemen, atau ramuan herbal terkadang menjadi pilihan agar bisa kembali beraktivitas.

Namun, menjaga kondisi tubuh sebenarnya tidak sesederhana mencari minuman yang membuat kita merasa lebih bertenaga. Tidur yang cukup, makan bergizi, aktivitas fisik, dan waktu istirahat tetap menjadi bagian penting dari pola hidup sehat.

Di sisi lain, Indonesia memiliki banyak tanaman yang sejak lama dimanfaatkan sebagai rempah, bahan pangan, maupun jamu. Beberapa di antaranya juga telah menjadi objek penelitian ilmiah untuk mengetahui kandungan dan potensi manfaatnya.

Hal yang perlu dipahami adalah herbal sebaiknya tidak diposisikan sebagai “obat penambah stamina” yang memungkinkan mahasiswa terus beraktivitas meskipun tubuh sudah kelelahan.

Lebih tepat melihatnya sebagai bagian dari pola konsumsi sehari-hari.

Berikut tujuh bahan herbal yang dapat kamu kenali.

1. Jahe

Jahe (Zingiber officinale) mungkin menjadi salah satu bahan herbal yang paling mudah ditemukan mahasiswa.

Kamu tidak perlu membeli produk herbal khusus untuk mengonsumsinya. Jahe dapat digunakan sebagai bumbu masakan atau cukup diseduh dengan air hangat.

Salah satu alasan jahe banyak diteliti adalah kandungan senyawa bioaktifnya, antara lain gingerol, shogaol, dan oleoresin.

Penelitian Tejasari dan Fransiska Rungkat Zakaria yang diterbitkan dalam Jurnal Teknologi dan Industri Pangan IPB University menguji senyawa bioaktif rimpang jahe terhadap respons sitolitik sel natural killer (NK) secara in vitro.

Penelitian tersebut menemukan bahwa beberapa senyawa bioaktif jahe dapat meningkatkan respons sitolitik sel NK pada kondisi dan konsentrasi tertentu.

Namun, ada kata penting yang tidak boleh dilewatkan: in vitro.

Artinya, penelitian dilakukan dalam kondisi laboratorium dan bukan dengan memberikan minuman jahe kepada mahasiswa yang sedang kelelahan.

Karena itu, hasil tersebut tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi klaim bahwa minum jahe akan meningkatkan daya tahan tubuh atau membuat mahasiswa lebih kuat menghadapi jadwal kuliah.

Bagi mahasiswa, jahe lebih masuk akal ditempatkan sebagai bahan pangan atau minuman. Secangkir jahe hangat boleh menemani saat mengerjakan tugas, tetapi tidak dapat menggantikan tidur ketika tubuh sudah membutuhkan istirahat.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Homesick bagi Mahasiswa Baru agar Lebih Mudah Beradaptasi

2. Temulawak

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) mempunyai tempat tersendiri dalam tradisi jamu Indonesia.

Tanaman ini juga menarik untuk dibahas karena memperlihatkan mengapa kita perlu berhati-hati membedakan pengetahuan tradisional, persepsi masyarakat, dan hasil penelitian ilmiah.

Penelitian Mira Dewi dan rekan-rekan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia IPB University melakukan survei terhadap 80 orang mengenai manfaat temulawak sekaligus uji klinis pemberian minuman ekstrak temulawak selama dua minggu kepada 21 orang dewasa dengan obesitas.

Hasil survei menunjukkan bahwa manfaat temulawak yang paling banyak diketahui responden adalah meningkatkan nafsu makan dan menjaga stamina.

Namun, hasil uji klinisnya justru tidak dapat digunakan untuk mengatakan temulawak meningkatkan sistem imun. Peneliti menemukan penurunan populasi limfosit B yang mengindikasikan penurunan fungsi imun humoral setelah intervensi.

Temuan tersebut memberikan pelajaran penting.

Sesuatu yang sudah lama dipercaya masyarakat belum tentu dapat langsung dinyatakan sebagai manfaat yang terbukti secara klinis.

Bagi mahasiswa, temulawak tetap dapat dinikmati sebagai minuman tradisional. Namun, jangan menganggapnya sebagai jalan pintas untuk meningkatkan stamina atau kekebalan tubuh.

3. Kunyit

Siapa yang tidak mengenal kunyit?

Rempah berwarna kuning ini mudah ditemukan dalam berbagai masakan Indonesia. Kunyit juga digunakan sebagai bahan minuman tradisional seperti kunyit asam.

Salah satu senyawa yang paling dikenal dari kunyit adalah kurkumin. Senyawa tersebut banyak menjadi objek penelitian karena aktivitas biologisnya.

Namun, bagi mahasiswa yang sehat, tidak ada alasan untuk terburu-buru mengonsumsi ekstrak atau suplemen kurkumin hanya karena sedang menjalani jadwal kuliah yang padat.

Cara paling sederhana memanfaatkan kunyit adalah tetap menjadikannya bagian dari makanan atau minuman.

Kita juga perlu berhati-hati terhadap klaim yang menyebut kunyit dapat menghilangkan kelelahan atau secara otomatis meningkatkan stamina.

Kelelahan setelah mengikuti kuliah dan berbagai kegiatan seharian dapat menjadi tanda bahwa tubuh memang membutuhkan istirahat.

Jika penyebabnya kurang tidur, kunyit tidak dapat menggantikan beberapa jam tidur yang hilang.

Baca juga: 7 Cara Menjaga Kesehatan Mahasiswa selama Mengerjakan Skripsi

4. Pegagan

Pegagan (Centella asiatica) cukup menarik karena tanaman ini sering dikaitkan dengan daya ingat dan fungsi kognitif.

Sejumlah penelitian memang telah dilakukan untuk mempelajari potensi tersebut.

Penelitian Marcus Laurentius Yudhi Purwoko, Syamsudin, dan Partomuan Simanjuntak dalam Jurnal Sains Farmasi & Klinis Universitas Andalas menguji kombinasi ekstrak herba pegagan dan daun kelor terhadap fungsi memori dan pembelajaran.

Hasil penelitian menyebutkan:

“kombinasi ekstrak herba pegagan dan daun kelor perbandingan 1:1 meningkatkan fungsi memori dan pembelajaran.”

Namun, hasil tersebut harus dibaca bersama metode penelitiannya.

Peneliti menggunakan radial 8-arm maze test, passive avoidance test, dan pemeriksaan histopatologi otak.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition College Universitas Diponegoro juga meneliti pengaruh ekstrak pegagan terhadap memori jangka pendek. Subjek penelitian tersebut adalah tikus putih jantan galur Wistar yang terpapar asap rokok.

Apa artinya bagi mahasiswa?

Hasil-hasil tersebut menunjukkan pegagan merupakan tanaman yang menarik untuk terus diteliti terkait fungsi kognitif. Namun, bukti tersebut tidak boleh diubah menjadi klaim sederhana seperti:

“Minum pegagan membuat mahasiswa lebih mudah menghafal.”

Klaim seperti itu melampaui apa yang sebenarnya dibuktikan penelitian.

5. Ginseng

Ginseng cukup populer dalam berbagai produk herbal dan suplemen.

Berbeda dari jahe atau kunyit yang biasa ditemukan sebagai bumbu dapur, mahasiswa mungkin lebih sering menemukan ginseng dalam bentuk ekstrak, minuman kemasan, atau suplemen.

Artikel versi lama menyebut penelitian Fakultas Farmasi Universitas Indonesia membuktikan ginseng dapat meningkatkan kapasitas fisik dan mental sekaligus memperbaiki konsentrasi. Namun, tautan yang diberikan hanya mengarah ke halaman utama Universitas Indonesia, bukan penelitian spesifik yang mendukung klaim tersebut.

Karena sumber penelitiannya tidak dapat diverifikasi dari naskah tersebut, klaim itu tidak kita pertahankan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah anggapan bahwa semua produk herbal otomatis aman karena berasal dari tumbuhan.

Jika ginseng dikonsumsi dalam bentuk ekstrak atau suplemen, perhatikan komposisi, dosis pada label, aturan penggunaan, dan kondisi kesehatan masing-masing.

Terutama jika kamu sedang menggunakan obat tertentu, sebaiknya jangan sembarangan mengonsumsi suplemen herbal tanpa mencari informasi mengenai kemungkinan interaksinya.

6. Madu

Madu menjadi bahan yang mudah dipadukan dengan makanan maupun minuman.

Mahasiswa dapat menambahkannya pada minuman jahe atau menggunakannya sebagai bagian dari menu sehari-hari.

Namun, madu juga sering menjadi sasaran klaim kesehatan yang terlalu luas.

Artikel lama, misalnya, menyebut madu dan propolis dapat meningkatkan sistem imun, menjaga stamina, melawan infeksi, dan memberikan energi tambahan berdasarkan penelitian LIPI.

Klaim tersebut tidak kita pertahankan karena naskah tidak menunjukkan penelitian spesifik yang dapat diperiksa pembaca.

Madu tetap dapat dikonsumsi sebagai bahan pangan.

Hanya saja, tidak perlu menganggap satu atau dua sendok madu sebagai “obat penambah stamina” yang membuat tubuh sanggup terus bekerja ketika sudah kelelahan.

Jika kamu sudah beraktivitas sejak pagi dan mengantuk pada malam hari, tubuh mungkin memang sedang meminta tidur.

7. Serai

Daftar terakhir adalah serai.

Serai dipilih menggantikan daun sirsak yang terdapat pada artikel sebelumnya karena serai jauh lebih umum digunakan sebagai bahan pangan dan minuman sehari-hari.

Mahasiswa dapat menemukan serai dengan mudah di pasar maupun supermarket. Cara mengolahnya juga sederhana.

Serai dapat digunakan dalam masakan atau dikombinasikan dengan jahe untuk membuat minuman hangat.

Namun, kita tidak perlu memberikan klaim kesehatan berlebihan terhadap minuman tersebut.

Minuman jahe dan serai tidak perlu disebut “meningkatkan stamina”, “membuang racun”, atau “meningkatkan konsentrasi” agar tetap layak dikonsumsi.

Terkadang, nilai suatu bahan pangan memang sesederhana menjadi bagian dari makanan atau minuman yang kita nikmati.

Alami Tidak Selalu Berarti Aman

Ada anggapan bahwa sesuatu yang berasal dari tumbuhan pasti aman.

Padahal, kata “alami” tidak sama dengan “bebas risiko”.

Hal tersebut semakin penting ketika tanaman herbal dikonsumsi dalam bentuk ekstrak, kapsul, atau suplemen dengan konsentrasi tertentu.

Kondisi setiap orang juga berbeda.

Produk yang dapat dikonsumsi seseorang belum tentu sesuai untuk orang lain, terutama apabila mempunyai kondisi kesehatan tertentu atau sedang menggunakan obat.

Karena itu, jangan menggunakan produk herbal untuk menggantikan obat atau penanganan medis yang memang diperlukan.

Jika sedang menggunakan obat tertentu atau mempunyai kondisi kesehatan tertentu, konsultasikan dengan tenaga kesehatan sebelum rutin menggunakan produk herbal atau suplemen.

Mahasiswa juga perlu kritis ketika menemukan produk yang menawarkan klaim seperti “meningkatkan imun”, “detoksifikasi”, “meningkatkan konsentrasi”, atau “menghilangkan kelelahan”.

Pertanyaan sederhananya adalah: apa buktinya?

Herbal Tidak Bisa Menggantikan Tidur dan Istirahat

Ini justru menjadi bagian terpenting dari pembahasan.

Ketika tugas sedang banyak, mahasiswa terkadang mengurangi waktu tidur agar mempunyai lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan.

Setelah itu, muncul kebutuhan mencari sesuatu yang dapat membuat tubuh tetap terjaga.

Kopi, minuman energi, vitamin, suplemen, hingga ramuan herbal akhirnya digunakan agar aktivitas dapat terus berjalan.

Padahal, tidak ada ramuan yang dapat menggantikan seluruh kebutuhan dasar tubuh.

Jika kamu terus merasa lelah, coba lihat kembali aktivitas beberapa hari terakhir.

  1. Apakah kamu tidur cukup?
  2. Apakah makan secara teratur?
  3. Apakah tubuh mendapatkan cukup cairan?
  4. Apakah kegiatan akademik dan organisasi sudah terlalu padat?

Pertanyaan tersebut sering kali lebih penting daripada mencari ramuan apa yang harus diminum.

Herbal dapat menjadi bagian dari makanan dan minuman. Namun, tubuh tetap membutuhkan istirahat.

Mahasiswa Juga Perlu Kritis Membaca Penelitian Herbal

Sebagai mahasiswa, kamu mempunyai keuntungan: kemampuan untuk belajar membaca sumber.

Ketika menemukan artikel yang mengatakan “berdasarkan penelitian”, jangan langsung menganggap klaim tersebut benar.

Coba buka penelitian aslinya.

Pertama, periksa siapa subjek penelitiannya.

Penelitian pada tikus atau sel di laboratorium tidak otomatis membuktikan efek yang sama pada manusia.

Penelitian jahe yang dibahas sebelumnya, misalnya, dilakukan secara in vitro. Sementara salah satu penelitian pegagan menggunakan tikus putih jantan galur Wistar.

Kedua, periksa apa yang diberikan kepada subjek penelitian.

Ekstrak tanaman dengan konsentrasi tertentu tidak selalu sama dengan secangkir minuman herbal yang dibuat di kos.

Ketiga, lihat apa yang sebenarnya diukur peneliti.

Penelitian tentang pegagan dan kelor tadi mengukur fungsi memori dan pembelajaran menggunakan metode eksperimental tertentu. Hasilnya tidak dapat diubah menjadi klaim bahwa minum pegagan membuat nilai ujian mahasiswa meningkat.

Keempat, perhatikan apakah hasil penelitian telah diuji pada manusia dengan jumlah peserta yang memadai.

Cara membaca seperti ini membantu kita membedakan antara tanaman yang mempunyai potensi berdasarkan penelitian awal dan sesuatu yang sudah mempunyai bukti klinis kuat pada manusia.

Kesimpulan

Jahe, temulawak, kunyit, pegagan, ginseng, madu, dan serai merupakan beberapa bahan yang dapat ditemukan dalam makanan, minuman, maupun produk herbal.

Sebagian tanaman tersebut memang telah menjadi objek penelitian ilmiah.

Namun, hasil penelitian tidak boleh dilepaskan dari konteksnya. Penelitian pada sel tidak otomatis berlaku pada manusia. Hasil penelitian terhadap hewan juga tidak otomatis dapat diterapkan kepada mahasiswa.

Penelitian temulawak bahkan menunjukkan pelajaran yang menarik: manfaat yang dipercaya masyarakat tidak selalu sama dengan hasil yang diperoleh melalui uji klinis.

Karena itu, mahasiswa tidak perlu melihat herbal sebagai jalan pintas untuk memperoleh energi atau meningkatkan konsentrasi.

Kamu boleh menikmati jahe hangat ketika mengerjakan tugas, menggunakan kunyit dalam makanan, menikmati jamu temulawak, atau mencoba minuman serai.

Namun, ketika tubuh benar-benar lelah, berikan apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh: makanan yang cukup, cairan, aktivitas fisik yang sesuai, dan istirahat.

Herbal dapat menjadi bagian dari pola hidup, tetapi bukan pengganti pola hidup sehat.

Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis, pengobatan, atau konsultasi dengan tenaga kesehatan.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses