Ketika Laba Perusahaan Terlihat Tinggi, tetapi Kondisinya Belum Tentu Baik
Belakangan ini, masyarakat semakin merasakan dampak inflasi. Harga kebutuhan pokok naik, biaya hidup meningkat, dan daya beli masyarakat mulai menurun.
Namun di sisi lain, banyak perusahaan justru melaporkan kenaikan laba dalam laporan keuangannya.
Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan: apakah perusahaan benar-benar mendapatkan keuntungan besar, atau angka laba tersebut hanya terlihat tinggi di atas kertas?
Dalam dunia akuntansi, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah laba semu.
Artinya, laba perusahaan terlihat meningkat, tetapi sebenarnya belum tentu menunjukkan kondisi ekonomi perusahaan yang benar-benar membaik.
Fenomena ini sering muncul ketika inflasi tinggi dan laporan keuangan masih menggunakan metode pencatatan lama.
Baca Juga: Harga Pasar Naik, Bisnis Tercekik: Bagaimana Menyiasati Dampaknya pada Laporan Keuangan?
Mengapa Inflasi Bisa Membuat Laba Terlihat Lebih Besar?
Sebagian besar perusahaan masih menggunakan konsep historical cost dalam laporan keuangannya.
Sederhananya, aset perusahaan dicatat berdasarkan harga saat aset tersebut dibeli, bukan berdasarkan harga saat ini.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan membeli mesin produksi lima tahun lalu dengan harga Rp500 juta.
Sampai sekarang, mesin tersebut masih dicatat berdasarkan harga lama itu.
Padahal, jika membeli mesin yang sama hari ini, harganya mungkin sudah jauh lebih mahal akibat inflasi.
Masalahnya, pendapatan perusahaan saat ini sudah mengikuti harga pasar yang baru dan lebih tinggi, sedangkan beberapa biaya masih dihitung menggunakan harga lama.
Akibatnya, laba perusahaan terlihat besar karena ada selisih antara pendapatan sekarang dan biaya yang masih menggunakan nilai masa lalu.
Di sinilah muncul yang disebut sebagai laba semu. Secara angka perusahaan memang terlihat untung besar, tetapi secara ekonomi belum tentu benar-benar mengalami peningkatan keuntungan.
Baca Juga: Laporan Keuangan Terlihat Rapi tapi Apakah Masih Jujur?
Ketika Laporan Keuangan Mulai Kehilangan Relevansi

Bagi investor atau masyarakat umum, laba yang tinggi biasanya dianggap sebagai tanda bahwa perusahaan sedang berkembang dengan baik.
Padahal, kondisi sebenarnya bisa saja berbeda. Perusahaan mungkin hanya terdampak kenaikan harga akibat inflasi, bukan karena kinerjanya benar-benar meningkat.
Menurut penulis, hal ini menunjukkan bahwa laporan keuangan tidak cukup hanya akurat dalam pencatatan, tetapi juga harus relevan dengan kondisi ekonomi yang sedang terjadi.
Jika angka-angka dalam laporan keuangan sudah tidak menggambarkan kondisi nyata perusahaan, maka informasi tersebut bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi para penggunanya.
Akuntansi memang membutuhkan sistem yang objektif dan teratur.
Namun, di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, terutama saat inflasi tinggi, metode pencatatan lama mulai memiliki keterbatasan.
Karena itu, muncul berbagai pendekatan akuntansi yang mencoba menyesuaikan laporan keuangan dengan kondisi ekonomi saat ini, seperti General Price Level Accounting (GPLA) dan Current Cost Accounting.
Baca Juga: Harga Naik, tapi Gaji Tidak Naik: Bagaimana Masyarakat Bisa Bertahan di Tengah Inflasi Saat ini?
Akuntansi Harus Mampu Mengikuti Perubahan Zaman
Pada akhirnya, inflasi menunjukkan bahwa angka laba tidak selalu bisa diartikan secara sederhana.
Laporan keuangan yang terlihat bagus belum tentu menggambarkan kondisi perusahaan yang benar-benar sehat.
Oleh sebab itu, masyarakat, investor, maupun pengguna laporan keuangan perlu lebih kritis dalam membaca informasi keuangan.
Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, akuntansi tidak hanya dituntut untuk mencatat angka dengan benar, tetapi juga harus mampu menggambarkan kondisi ekonomi secara lebih nyata dan relevan.
Penulis: Ahmad Baihaqi
Mahasiswa Prodi Akuntansi, Universitas Negeri Surabaya
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












