Pengalaman global menghadapi COVID-19 telah mengubah cara dunia memandang ancaman penyakit infeksi.
Namun, munculnya kembali perhatian terhadap zoonosis lain seperti hantavirus menunjukkan bahwa risiko pandemi tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus berevolusi mengikuti perubahan lingkungan, perilaku manusia, dan interaksi dengan hewan.
COVID-19 dan hantavirus memiliki karakteristik berbeda, tetapi keduanya memperlihatkan pola yang sama: berasal dari hewan, dipengaruhi oleh faktor lingkungan, serta dapat menyebabkan penyakit berat pada kelompok rentan.
Kondisi ini menegaskan bahwa ancaman kesehatan global tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga ekologis.
COVID-19 sendiri menunjukkan spektrum klinis yang sangat luas, mulai dari infeksi tanpa gejala hingga kondisi berat seperti acute respiratory distress syndrome (ARDS) dan kegagalan multiorgan.
Variasi ini membuat pengelolaan pasien menjadi kompleks karena setiap individu dapat menunjukkan perjalanan penyakit yang sangat berbeda.
Situasi semakin berat pada kelompok rentan, terutama lansia serta individu dengan komorbid, seperti diabetes, hipertensi, obesitas, dan penyakit kardiovaskular.
Pada kelompok ini, infeksi cenderung berkembang lebih cepat menjadi kondisi berat akibat adanya inflamasi kronis, gangguan metabolik, dan penurunan respons imun.
Sementara itu, hantavirus menjadi pengingat bahwa ancaman zoonosis tidak selalu datang dalam bentuk wabah besar yang cepat menyebar.
Virus ini ditularkan melalui hewan pengerat dan dapat menyebabkan sindrom paru hantavirus Hantavirus Pulmonary Syndrome HPS, yang pada kasus berat memiliki tingkat kematian tinggi.
Tantangan utama dari penyakit ini adalah gejala awal yang tidak spesifik, sering menyerupai influenza, sehingga berisiko menimbulkan keterlambatan diagnosis.
Dela Riadi menilai bahwa kedua penyakit ini memperlihatkan satu pelajaran penting yaitu sistem kesehatan global masih cenderung reaktif dalam menghadapi ancaman zoonosis.
COVID-19 menunjukkan bahwa kita sering terlambat merespons ketika wabah sudah meluas.
Sementara hantavirus mengingatkan bahwa banyak ancaman lain yang mungkin belum terlihat jelas, tetapi sudah ada di sekitar kita, ujarnya.
Menurut Dela, pendekatan kesehatan masyarakat ke depan tidak dapat hanya berfokus pada pengobatan dan fasilitas layanan kesehatan, tetapi harus memperkuat aspek pencegahan berbasis lingkungan.
Baca Juga: Aktivitas dan Potensi Meniran (Phyllanhtus niruri) sebagai Penghambat Virus Hepatitis B
Perubahan tata guna lahan, urbanisasi, serta meningkatnya kontak manusia dengan hewan liar dan rodensia menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan.
Ia menekankan bahwa pendekatan One Health menjadi semakin relevan dalam konteks ini, karena menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam satu sistem yang saling memengaruhi.
Jika kita hanya fokus pada manusia tanpa melihat lingkungan dan hewan sebagai bagian dari ekosistem penyakit, maka kita akan terus berada dalam siklus krisis yang berulang, tambahnya.
Dalam konteks kesiapsiagaan kesehatan masyarakat, Dela menilai bahwa penguatan surveilans penyakit zoonosis harus menjadi prioritas.
Sistem deteksi dini yang terintegrasi antara data klinis, lingkungan, dan kesehatan hewan dapat membantu mengidentifikasi potensi ancaman sebelum berkembang menjadi wabah besar.
Ia juga menegaskan bahwa edukasi masyarakat mengenai risiko zoonosis perlu diperluas, terutama terkait perilaku hidup bersih, pengelolaan lingkungan, dan pengendalian populasi hewan pengerat di area pemukiman.
Pada akhirnya, COVID-19 dan hantavirus memberikan pelajaran yang sama bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari ekosistem di sekitarnya.
Tantangan ke depan bukan hanya pada kemampuan mengobati penyakit, tetapi pada kemampuan membaca tanda tanda awal munculnya ancaman sebelum menjadi krisis global.
Penulis: Dela Riadi, S.K.M., M.K.M.
Dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












