Dinamika Emosional Pasca Putus Cinta

Putus Cinta
Sumber: pexels.com

Putus cinta adalah pengalaman emosional yang mendalam dan dapat mempengaruhi seseorang dalam berbagai aspek kehidupannya.

Proses ini tidak hanya melibatkan rasa kehilangan atas hubungan yang telah berakhir. Di sini ada berbagai dinamika emosional yang sering dialami seseorang setelah putus cinta.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tahap Syok dan Penolakan

Seseorang mungkin merasa sulit untuk percaya bahwa hubungan telah berakhir. Ini bisa disertai dengan perasaan bingung dan tidak percaya, seolah-olah dunia di sekitar kita tiba-tiba berubah.

Tahap Kesedihan dan Kemarahan

Kenangan manis mantan pasangan dapat memicu kesedihan yang mendalam, ini bisa terjadi kapan saja, seperti saat mendengarkan lagu tertentu, mengunjungi tempat favorit saat masih bersama, atau foto-foto lama.

Setelah kesedihan mulai mereda, kemarahan sering kali muncul sebagai penyembuhan. Seseorang mungkin mencari pelampiasan itu bisa berpengaruh positif atau negatif kepada dirinya jika tidak bisa mengendalikannya.

Jika perasaan tersebut berlarut-larut pasca putus cinta, dapat menyebabkan sejumlah dampak negatif yang signifikan pada kesehatan mental dan fisik seseorang.

Baca Juga: Geser Pengertian Cinta: Dampak Negatif Aplikasi Kencan di Era Modern

Dampak pada kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan self-esteem rendah, dampak kepada fisik seperti masalah tidur, kesehatan, kelelahan kronis, dan juga bisa berdampak pada hubungan teman dan keluarga. Beberapa metode yang bisa mengurangi perasaan negatif.

Mengatasi perasaan yang berlarut-larut pasca putus cinta adalah langkah yang penting untuk kembali ke keseimbangan emosional dan kesejahteraan.

Itu bisa dengan dukungan keluarga, teman, dan cobalah mengalirkan energi negatif tersebut ke hal yang positif. Jika hal tersebut kurang membantu cobalah terapi atau konseling ke Psikolog.

Pendapat Para Ahli

Purwatmoko Pandaming Tyas dan Kollektif (2012)

Menurut Purwatmoko Pandaming Tyas dan Kollektif (2012): Penelitian mereka menemukan bahwa remaja akhir yang mampu mengendalikan emosinya setelah putus cinta cenderung tidak mengalami stres yang berlebihan dan dapat menjalani kehidupan sosial dengan baik.

Sebaliknya, mereka yang kurang mampu mengendalikan emosinya cenderung mengalami stres dan kesedihan yang lebih intens.

Sbarra dan Emery (2014)

Sbarra dan Emery menekankan bahwa putus cinta adalah salah satu pengalaman paling menyakitkan yang dapat dialami seseorang, yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan emosional dan fisik.

Baca Juga: Analisis Mendalam: Perspektif Jatuh Cinta Hanya Sekali Sisanya Melanjutkan Hidup

Mereka mengemukakan bahwa meskipun putus cinta dapat menyebabkan emosi negatif seperti kesedihan dan kehilangan, hal itu juga dapat menjadi peluang untuk pertumbuhan pribadi dan pemahaman diri yang lebih baik.

Menurut mereka, proses pemulihan pasca putus cinta melibatkan adaptasi psikologis yang kompleks, termasuk memproses emosi negatif, memperbaiki identitas diri, dan membangun kembali rasa kontrol dan tujuan hidup.

Wiwien Dinar Pratisti (2012)

Peneliti ini mengeksplorasi bagaimana jenis kelamin dan kepribadian mempengaruhi regulasi emosi pasca putus cinta. Dalam penelitiannya, Pratisti menemukan bahwa laki-laki dan perempuan cenderung menggunakan strategi regulasi emosi yang berbeda.

Laki-laki cenderung lebih mengutamakan pendekatan kognitif, seperti menganalisis alasan di balik putus cinta dan mencari solusi logis, sementara perempuan lebih mengutamakan pendekatan emosional, seperti menangis dan berbicara dengan teman.

Selain itu, kepribadian individu juga memainkan peran penting. Misalnya, individu yang lebih terbuka terhadap pengalaman baru cenderung lebih mudah menerima kenyataan putus cinta dan melihatnya sebagai kesempatan untuk pertumbuhan pribadi.

Teori

Teori tahap kesedihan oleh Elisabeth Kübler-Ross, seorang psikiater Swiss-Amerika, mengembangkan model lima tahap kesedihan yang dikenal sebagai Model Kübler-Ross atau Five Stages of Grief.

Baca Juga: Tidak Percaya Diri Seringkali Membuat Resah, Ini Alasan Untuk Mencintai Diri Sendiri

Meskipun awalnya dikembangkan untuk menjelaskan proses kesedihan akibat kematian, model ini juga relevan untuk memahami emosi pasca putus cinta. Tahap-tahap tersebut adalah:

Denial (Penolakan)

Merasa tidak percaya bahwa hubungan telah berakhir.

Anger (Kemarahan)

Merasa marah terhadap diri sendiri, mantan pasangan, atau situasi.

Bargaining (Tawar-menawar)

Mencoba mencari cara untuk memperbaiki atau menghidupkan kembali hubungan.

Depression (Depresi)

Merasakan kesedihan yang mendalam dan kehilangan harapan.

Acceptance (Penerimaan)

Menerima kenyataan bahwa hubungan telah berakhir dan mulai mencari cara untuk melanjutkan hidup.

Baca Juga: Pentingnya Resiliensi Moral terhadap Fenomena Toxic Relationship Hubungan Pacaran pada Generasi Millenial

Teori resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali setelah menghadapi kesulitan atau trauma, termasuk putus cinta.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat resiliensi tinggi cenderung lebih cepat pulih dan melanjutkan hidup mereka dengan cara yang konstruktif. Beberapa faktor yang mendukung resiliensi meliputi:

Dukungan Sosial

Memiliki jaringan dukungan yang kuat dari keluarga, teman, atau komunitas dapat membantu individu merasa lebih diterima dan didukung selama masa sulit.

Sumber Daya Intrapersonal

Kepercayaan diri, harga diri yang sehat, dan kemampuan untuk melihat makna dalam pengalaman negatif semuanya berkontribusi pada resiliensi.

Pengalaman Hidup Sebelumnya

Pengalaman dalam mengatasi tantangan sebelumnya dapat memperkuat kemampuan seseorang untuk menghadapi putus cinta.

Adaptasi yang Fleksibel

Kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan tetap fleksibel dalam rencana dan harapan juga penting untuk resiliensi.

Baca Juga: Melangkah Menuju Ketenangan: Mengatasi Rasa Cemas dengan Terapi SEFT

Dampak Positif

Dari banyaknya dampak negatif yang kita bahas, ada beberapa hal positif misalnya menjadi peluang untuk belajar lebih banyak tentang diri sendiri dan meningkatkan diri, hal ini juga mendorong seseorang bisa mengontrol emosi dengan lebih baik.

Kesimpulan

Putus cinta bisa menjadi untuk refleksi diri dan kesempatan untuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri, ini juga mendorong seseorang untuk lebih mandiri, membangun kepercayaan diri, dan mengejar minat atau hobi yang mungkin sebelumnya terabaikan.

Selain itu, membangun peluang baru untuk menjalani hubungan lebih sehat dan belajar lebih baik dalam mengelola emosi secara keseluruhan, putus cinta meski menyakitkan dapat membawa banyak Pelajaran berharga dan peluang untuk pertumbuhan pribadi yang signifikan.

Penulis: Tirta Rahmadani
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Referensi

The structure and process of emotional experience following nonmarital relationship dissolution: Dynamic factor analyses of love, anger, and sadness: https://experts.arizona.edu/en/publications/the-structure-and-process-of-emotional-experience-following-nonma

Universitas Psikologi: Artikel ini menjelaskan definisi, aspek, faktor, dan keterkaitan resiliensi dengan kesehatan individu berdasarkan teori-teori ahli. Anda dapat membacanya di sini: https://www.universitaspsikologi.com/2020/01/teori-resiliensi-dan-pengertian-resilience.html

Menurut Para Ahli – Universitas Psikologi: https://www.universitaspsikologi.com/2020/01/teori-resiliensi-dan-pengertian-resilience.html.

UM Surabaya: Tinjauan pustaka ini membahas konsep teori resiliensi, termasuk definisi, ciri-ciri, dan faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi: https://repository.um-surabaya.ac.id/5983/3/BAB_2.pdf

Connor & Davidson (2003): Penelitian ini mengidentifikasi lima dimensi atau aspek dari resiliensi, seperti toleransi terhadap perasaan negatif, penerimaan positif terhadap perubahan, dan kepercayaan pada intuisi: https://repository.um-surabaya.ac.id/517/3/BAB_II.pdf

Five Stages of Grief atau Five Stages of Dying. Model ini mencakup tahap-tahap: Denial, Anger, Bargaining, Depression, dan Acceptance. Judul Buku: On Death and Dying, Penulis: Elisabeth, Kübler-Ross Tahun: 1969, Penerbit: Macmillan.

Purwatmoko Pandaming Tyas dan Kollektif (2012): Regulasi Emosi Pasca Putus Cinta Pada Remaja Tahap Akhir https://eprints.ums.ac.id/20321/

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses