Di tengah ketidakadilan sistem global pada hari ini, saat rakyat-rakyat kecil hanya terus menerus mendapat tuntutan kewajiban tanpa adanya pemenuhan hak. Gerakan sosial dari sejumlah elemen masyarakat merupakan suatu tontonan harian.
Mahasiswa sebagai elemen masyarakat yang sedang berada di ujung tombak semangat untuk menegakkan keadilan, serta mahasiswa sebagai segelintir yang sangat beruntung untuk merasakan Pendidikan tinggi menjadi elemen paling vokal dalam menyuarakan hak rakyat.
Namun, sejumlah gerakan mahasiswa beberapa waktu belakangan terasa tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, malah keluhan rakyat yang semakin sering terdengar bahwa gerakan yang dilakukan seringkali hanya kembali merugikan rakyat.
Mengapa kiranya hal ini dapat terjadi? Sedangkan, di belahan dunia lain, di belahan yang seringkali kita fikir berada pada kondisi terburuk justru hadir sebuah gerakan mahasiswa yang tumbuh kuat hingga menjadi suatu aktor politik yang diakui dalam dunia internasional. Gerakan tersebut ialah Front Polisario dan apakah rahasia di balik transformasi luar biasa ini?
Pada tahun 1884 Spanyol datang dan mendeklarasikan bahwa wilayah Sahara Barat merupakan teritori yang berada di bawah perlindungannya. Kemudian, kedatangan ini resmi menjadi kolonialisasi pada tahun 1934 setelah terjadi perlawanan sengit dari rakyat Sahrawi sebagai penduduk asli wilayah Sahara Barat yang dipadamkan paksa oleh Spanyol.
Selanjutnya, pada 1960-an ketika dunia telah berada pada proses dekolonisasi yang sangat masif sehingga tekanan kepada Spanyol untuk mendekolonisasi Sahara Barat datang dengan sangat kuat. PBB secara resmi memasukkan wilayah ini dalam daftar wilayah yang harus didekolonisasi dan memiliki kebebasan dalam menentukan nasib bangsanya tersendiri.
Melihat hal ini Spanyol tidak memberikan tanggapan serius, bahkan pada 1958 Spanyol mengubah status Sahara Barat dari wilayah kolonisasi menjadi salah satu provinsi mereka dengan tujuan pemberian kebebasan politik yang semu.
Akibatnya, setelah kegiatan politik panjang yang dilakukan oleh pemerintahan umum Sahrawi untuk mengajak rakyatnya menuntut kebebasan perlawanan besar kembali terjadi pada 17 juni 1970. Perlawan melibatkan militan dan demonstran untuk menyurakan slogan dan lagu-lagu kemerdekaan. Sayangnya, aksi perlawanan ini berakhir dengan tragis.
Pada malam hari di tanggal 17 juni 1970 para pemimpin pergerakan diburu oleh Spanyol, ratusan orang ditangkap, beberapa menghilang termasuk pemimpin nasionalis Sahrawi. Gerakan militansi nasional Sahrawi bubar setelah kejadian penangkapan tersebut, sejumlah anggotanya berlindung ke dalam negara sekitar yang telah memiliki komunitas Sahrawi di dalamnya dan dapat memeberi perlindungan.
Setahun setelahnya kelompok-kelompok kemerdekaan mulai terbentuk di sejumlah kota dan di Kota Rabat muncul kelompok mahasiwa yang sangat aktif, dipimpin oleh El Uali Mustafá Sayed kelompok bernama “Embryonic Movement for the Liberation of the Sahara” yang kemudian berkembang menjadi Front Polisario. Sebuah kelompok yang hadir hingga saat ini dan kuat sebagai perwakilan sah rakyat Sahrawi, serta menjadi aktor dalam politik internasional.
Penulis menilai bahwa salah satu alasan utama Front Polisario dan bertahan hingga saat ini bahkan mendapat pengakuan internasional sebagai salah satu aktor politik yang sah dan tidak redup di tengah perjuangan seperti kebanyakan generasi mahasiswa belakangan adalah karena mereka menjaga keseimbangan dari dua hal pokok yang harus ada di setiap perjuangan.
Pertama, semangat perjuangan yang tinggi. Front Polisario tumbuh di tengah kondisi masyarakat Sahrawi yang tidak memiliki kebebasan bersuara dan menentukan nasibnya sendiri. Sehingga semangat juang hadir dari rasa kehilangan hak dan identitas. Hal ini yang membuat perjuangan Front Polisario tidak berhenti sebagai simbol semata, tetapi akan terus hidup melintasi sejumlah generasi hingga hak-hak tersebut dapat terpenuhi.
Kedua, perjuangan yang dilakukan tidak dengan mengandalkan amarah saja tanpa mempelajari dan menentukan alur yang jelas. Perjuangan Front Polisario dibangun di atas pemikiran yang matang, mereka membangun kematangan pemikiran dengan menitikberatkan pendidikan. Bahkan hingga hari ini, di tengah dinamika perjuangan yang tak bisa dikatakan mudah pendidikan masih terus dijaga dan berjalan dalam kamp-kamp pengungsian Sahrawi.
Front Polisario bersama masyarakat Sahrawi terus menjaga pendidikan karena mereka memahami bahwa perjuangan tanpa pengetahuan merupakan hal yang mudah dipadamkan. Pada titik inilah kita dapat melihat rahasia dari eksistensi dan kekuatan Front Polisario yaitu pentingnya untuk menjaga semangat juang dan intelektualitas tetap berjalan beriringan dan secara seimbang.
Berbeda dengan kondisi pergerakan mahasiswa di saat dan negara ini. Banyak pergerakan yang hanya keras dan ramai tanpa ada arah yang jelas. Seringkali mereka berbicara lantang tanpa benar-benar mengerti apa yang sedang disuarakan.
Bahkan ketika perjuangan itu jelas arahnya, benar teriakannya tetapi jika hanya mengandalkan kekuatan amarah dan kekerasan, maka perjuangan itu sulit bertahan lama dan membuahkan hasil serta di saat yang bersamaan menguras tenaga tanpa hal yang pasti.
Di sisi lain, sebenarnya negara ini tidak pernah kekurangan atau bahkan kehilangan para pemikirnya. Sayangnya, sebagian besar mereka yang memiliki kemampuan, pengetahuan dan kesadaran justru memilih diam.
Bukan karena tidak peduli tetapi mereka terlalu paham resiko untuk bersuara di negara ini, mereka terlalu takut dan dalam beberapa kondisi-kondisi terburuk segelintir melangkah menuju naungan perlindungan semu tirani. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan perjuangan kita seakan berjalan di tempat dan terasa kembali merugikan rakyat-rakyat kita sendiri.
Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis berharap agar lebih banyak pergerakan masa depan yang tumbuh tidak hanya dengan kekuatan, amarah dan keberanian. Namun, juga tumbuh diiringi kesadaran dan pengetahuan. Karena perjuangan sejatinya bukan yang paling keras bersuara tetapi yang dapat benar benar memahami dan menyampaikan hal yang diperjuangkan serta membawa hasil nyata bagi rakyat.
Penulis: Zaskia Nurul Adilah (E061241023)
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
https://www.bbc.com/news/world-africa-14115273
https://spsrasd.info/en/2024/05/10/3419.html
https://blackpast.org/global-african-history/el-ouali-mustafa-sayed-1948-1976/
https://porunsaharalibre.org/en/2023/05/10/may-10-birth-of-frente-polisario-5/
https://www.spsrasd.info/es/node/14673
https://mundoobrero.es/2025/07/07/campana-marroqui-contra-la-lucha-del-pueblo-saharaui/
https://www.spsrasd.info/en/2025/10/11/12284.html
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












