Keluhkan Sistem SIKADU, Mahasiswa Sastra Inggris Unnes Merasa Mata Kuliah ‘Dipilihkan’

Pemilihan mata kuliah Unnes bermasalah
Tampilan laman Apps Unnes. (Foto: Dok. Penulis)

Semarang, MMI – Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris semester 6 Universitas Negeri Semarang (Unnes) menyuarakan ketidakpuasan terhadap sistem pemilihan mata kuliah pada semester ini. Hingga 18 April 2026, mereka dilaporkan masih harus menjalani kelas yang tidak sesuai dengan pilihan awal mereka saat pengisian rencana studi.

Permasalahan ini mulai terdeteksi sejak Januari 2026 saat mahasiswa memeriksa menu Sistem Informasi Akademik Terpadu (SIKADU). Meskipun telah mengikuti prosedur pemesanan mata kuliah, mereka menemukan bahwa kelas yang tersedia saat pengambilan Rencana Studi (RS) jauh berbeda dengan form pemesanan awal.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI
Pemilihan mata kuliah Unnes bermasalah
Form pemesanan mata kuliah pilihan yang sudah dipilih mahasiswa (kiri) berbeda dengan kelas yang tersedia saat pengambilan RS (kanan). (Foto: Dok. Penulis)

Pada formulir pemesanan mata kuliah tertulis bahwa kelas hanya akan dibuka apabila diminati oleh minimal 10 mahasiswa. Namun, implementasi di lapangan menunjukkan bahwa mahasiswa dalam satu rombongan belajar tetap berada pada kelas yang sama. Hal ini memicu berbagai reaksi pada mahasiswa, mulai dari kecewa, khawatir, hingga kesal.

Kondisi ini memicu berbagai reaksi, mulai dari kecewa hingga khawatir. Azalea Adnin (21), salah satu mahasiswa, mengungkapkan kegusarannya karena merasa kebebasan akademik mereka dibatasi. “Kesannya di awal mahasiswa diberi kebebasan memilih, tapi ternyata tetap dipilihkan. Jadi, tidak bisa menyesuaikan dengan passion,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Penelope (23) (bukan nama sebenarnya) yang merasa kecewa karena pilihan yang diberikan tidak sepenuhnya terealisasi. Ia mengeluhkan bahwa apabila mahasiswa sudah diberi opsi untuk memilih, seharusnya program studi bisa menyediakan kelas yang sesuai, terlebih karena mahasiswa sudah memilih melalui banyak pertimbangan.

Pasalnya, mata kuliah pilihan ini sangat ditunggu oleh mahasiswa sebagai jembatan untuk mengeksplorasi minat dan bakat, mengasah keterampilan, dan juga mengumpulkan nilai tambah pada portofolio mereka. Sayang sekali, karena sistem error ini, mata kuliah pilihan tidak ada bedanya dengan mata kuliah wajib.

Ketidaksinkronan ini rupanya juga memicu keheranan di kalangan pengajar. Sejumlah dosen pengampu mengaku terkejut saat mendapati kelas mereka dipadati lebih dari 30 mahasiswa. Padahal, berdasarkan data awal, mata kuliah tersebut merupakan kategori sepi peminat. Para dosen pun menyatakan ketidaktahuan mereka mengenai sistem alokasi otomatis yang menyebabkan jumlah mahasiswa membeludak secara tiba-tiba.

Persoalan ini memicu diskusi hangat di kalangan mahasiswa Sastra Inggris. Mereka mulai menelusuri apakah kendala serupa terjadi di rombongan belajar (rombel) lain. Pasalnya, mereka merasa janggal jika seluruh mahasiswa dalam satu rombel secara kebetulan memilih mata kuliah pilihan yang sama persis hingga akhirnya berkumpul di kelas yang sama kembali.

Meski mayoritas merasa kecewa, terdapat sebagian kecil mahasiswa yang menanggapi situasi ini dengan lebih santai. Salah satunya adalah DS (21), yang menilai bahwa substansi pengajaran jauh lebih penting daripada judul mata kuliah. Menurutnya, faktor dosen pengajar justru memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap pemahaman materi dibandingkan sekadar kesesuaian dengan minat awal.

Terkait upaya penyelesaian, sejumlah mahasiswa sempat berencana melayangkan keluhan kepada dosen wali. Namun, niatan tersebut urung dilakukan karena trauma pada pengalaman semester sebelumnya, di mana aduan serupa dianggap tidak membuahkan solusi nyata. Rumitnya prosedur birokrasi untuk pindah kelas juga menjadi alasan utama mahasiswa akhirnya memilih pasrah mengikuti ketetapan sistem yang ada.

Sangat disayangkan ketika mata kuliah yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan keterampilan serta menunjang portofolio akademik malah harus direlakan begitu saja. Mahasiswa berharap sistem pemilihan ini dapat segera dievaluasi dan dibuat menjadi lebih transparan dengan memperhatikan pilihan dan kebutuhan mahasiswa agar proses belajar menjadi lebih optimal.


Penulis: Ulung Sejati
Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Universitas Negeri Semarang


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses