Keberadaan pemimpin karena dibentuk dan dilatih, sosok seorang pemimpin ada bukan karena dilahirkan, pemimpin yang baik berkembang dan ditempa melalui proses belajar mandiri, pendidikan, pelatihan, kesungguhan, dan pengalaman yang tidak pernah berakhir.
Tempaan akan membuat seseorang memiliki manajemen kepemimpinan berkualitas, mampu dan mau bekerja keras memimpin suatu organisasi menjadi lebih berkembang dan maju.
Manajemen kepemimpinan merupakan suatu keahlian atau skill yang dimiliki seseorang untuk mengatur dan menjalankan organisasi dengan bekal kemampuan yang mumpuni di bidang pengarahan, pengaturan, dan kepemimpinan.
Seorang pemimpin biasanya dilatih untuk memiliki keterampilan yang baik sesuai kebutuhan perusahaan. Pemimpin yang baik terus bekerja dan belajar untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan mereka, mereka tidak cepat berpuas diri dengan segudang pencapaian (Suhardi, 2022).
Pemimpin adalah mereka yang menginspirai, mendorong, dan mengakui teman sejawat mereka agar mereka dapat menyelesaikan tugas dan mencapai hasil yang diperlukan.
Untuk menggairahkan dan memberi energi pada tenaga kerja mereka, kemampuan seseorang untuk mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama (Sumarsi, 2024). Gaya kepemimpinan yang digunakan mungkin berbeda dari keadaan ke skenario atau berkembang dalam lingkungan tertentu.
Mengetahui arah seperti apa yang dibutuhkan suatu situasi, serta memiliki fleksibilitas dan kemampuan untuk membuat perubahan sesuai kebutuhan, sangat penting untuk kepemimpinan yang sukses dan efektif (Einola, 2021).
Bagi generasi muda, kepemimpinan juga harus menjadi perhatian. Generasi muda merupakan generasi penerus dan di tangannya harapan akan kemajuan suatu orgasisasi digantungkan.
Dalam suatu artikel, Adhyaksa Dault menyatakan bahwa ibarat mata rantai yang paling sentral dalam artian bahwa pemuda berperan sebagai pelestarian budaya, perjuangan, pelopor, perintisan pembaharuan melalui karsa, karya dan dedikasi.
Menumbuhkan dan mengembangkan kepemimpinan pada generasi muda merupakan jawaban atas tantangan yang dihadapi para pemimpin saat ini.
Hal Ini mendorong perlunya ada suatu cara yang efektif sehingga generasi muda dengan karakteristik demikian mampu menjalankan perannya sebagai pemimpin yang nantinya memiliki kekuatan moral, kekuatan sosial, dan dapat dijadikan suatu agen perubahan.
Desakan globalisasi memberi dampak yang sangat signifikan terhadap kehidupan negara baik dengan segala aspeknya baik ekonomi, sosial, politik, hukum, dan lain sebagainya (Faridha, 2022).
Karakteristik pemimpin Generasi Z tidak hanya dibentuk oleh teknologi, tetapi oleh kesadaran kritis terhadap lingkungan global. Jika generasi sebelumnya melihat teknologi sebagai alat pendukung, pemimpin Gen Z melihatnya sebagai bahasa ibu.
Hal ini menciptakan gaya kepemimpinan yang berbasis pada efisiensi data dan otomatisasi, di mana keputusan tidak lagi diambil berdasarkan ‘firasat’ semata, melainkan melalui analisis informasi yang akurat.
Selain itu, nilai keaslian (authenticity) menjadi mata uang utama. Pemimpinan Gen Z cendurung menanggalkan topeng formalitas yang kaku.
Mereka lebih dihargai ketika berani menunjukkan kerentanan, mengakui kesalahan, dan berkomunikasi secara transparan. Inilah yang membangun kepercayaan (trust) di era informasi yang penuh dengan distorsi.
Gaya kepemimpinan Gen Z membawa pergeseran besar dari struktur yang datar. Dalam pandangan mereka, otoritas tidak datang dari jabatan, melainkan dari kontribusi dan kompentensi. Mereka menciptakan ruang kerja di mana ide seorang magang memiliki bobot yang sama degan ide seorang direktur jika memang solutif.
Peran mereka sebagai agen perubahan terlihat jelas melalui Vleu-Drive Leadership. Mereka mengintregrasikan isu keberlanjutan lingkungan dan etika sosial ke dalam inti bisnis.
Bagi pemimpin Gen Z, sebuah organisasi dianggap gagal jika mencapai keuntungan besar namun merusak ekosistem sosial atau alam. Mereka mengubah profitabilitas menjadi tanggung jawab moral.
Sebagai agen perubahan, Gen Z memegang peran strategis sebagai jembatan antar-generasi. Di tengah disrupsi, mereka mampu menerjemahkan kebutuhan teknologi masa depan kepada generasi senior, sekaligus menyerap kearifan strategis dari pendahulu mereka. Ini adalah peran ‘katalisator’ yang mempercepat transformasi digital tanpa menghilangkan esensi kemanusian.
Di sisi lain, peran strategis mereka sangat menonjol dalam Advokasi Kesejahteraan Mental. Mereka adalah generasi pertama yang secara berani menempatkan mental health sebagai prioritas strategis organisasi.
Dengan menciptakan lingkungan yang suportif dan fleksibel, mereka sebenarnya sedang membangun sistem kerja yang lebih tahan lama (sustainable) untuk mencegah kelelahan massal (burnout) yang sering terjadi di era modern.
Pembentukan karakter pemimpin gen z sangat dipengaruhi oleh fenomena Micro-learning. Mereka dalah pembelajaran mandiri yang lincah, mampu menguasai keahlian baru dalam waktu singkat melalui ekosistem digital.
Pola belajar yang spesifik dan cepat ini membuat mereka sangat adaptif terhadap perubahan pasar yang sangat dinamis.
Ketangguhan mereka juga lahir dari resiliensi di tengah krisis. Tumbuh besar di tengah pandemi global dan fluktuasi ekonomi telah melatih otot adaptasi mereka.
Mereka tidak takut pada ketidakpastian, sebaliknya, mereka melihat ketidakpastian sebagai peluang untuk melakukan inovasi radikal. Karakter ini menjadikan mereka pemimpin yang tenang namun progresif saat menghadapi krisis organisasi.
Meskipun membawa banyak pembaruan, pemimpin gen z menghadapi tantangan berupa stereotip ‘generasi strawberry’ yang dianggap rapuh. Namun, tantangan ini justru menjadi motor penggerak bagi mereka untuk membuktikan bahwa kelembutan (empathy) adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Baca Juga: Aspirasi Generasi Muda untuk Pendidikan Indonesia di Era Kepemimpinan Presiden Baru
Strategi masa depan mereka melibatkan Reverse Mentoring, di mana terjadi pertukaran ilmu secara timbal balik. Gen z memberikan perspektif digital dan inklusivitas, sementara generasi senior memberikan perspektif mengenai stablitas dan navigasi politik organisasi. Kaloborasi inilah yang pada akhirnya akan membentuk kepemimpinan yang utuh dan kokoh.
Metode yang digunakan yaitu kuantitatif studi literatur melalui buku, jurnal, dan berita online. Karya ilmiah ini memberikan gambaran terkait prinsip kepemimpinan character of a leader pada era generasi milenial (Gen Z).
Serta memberikan gambaran terkait peran pemimpin era milenial sebagai generasi penerus bangsa untuk mampu bertanggungjawab mempersiapkan masa depan dengan berprilaku postif untuk menciptakan generasi emas.
Penulis:
1. Ahmad Reza Fadilah
2. Alya Aprilya
3. Nazwa Aulia
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang (UNPAM)
Dosen Pengampu: Herry Suherman, S.Sos., M.M.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Antin Faridha(2022), Menumbuhkan Sikap Kepemimpinan pada Generasi Muda
Einola, K., & Alvesson, M. (2021a). The perils of authentic leadership theory. Leadership,17(4), 483-490 https://doi.org/10.1177/17427150211004059
Khususnya Sekolah Dasar Melalui 7 Cara Efektif, E-ISSN : 2830-361X, Volume 1.
Suhardi(2022), Manajemen Kepemimpinan Pendidikan Kontemporer. Publica Indonesia Utama
Sumarsid, Eka Giovana Asti, Rita Intan Permatasari(2024), TINJAUAN PENELITIAN GAYA KEPEMIMPINAN. JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol.14
Seemiller & Grace (2019) Mengenai Pembentukan Identitas Gen Z
Deloitte (2023) Tentang Prioritas Sosial dan Lingkungan Bagi Pemimpin Muda.
Sumarsi (2024) Mengenai Manajemen Kepemimpinan dan Budaya Organisasi di Indonesia
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












