Membudayakan Sejarah Situs Patirtaan Ngawonggo Bersama Ahli Arkeolog Melalui Plesir Ing Ngawonggo

Membudayakan Sejarah Situs Patirtaan Ngawonggo Bersama Ahli Arkeolog Melalui Plesir Ing Ngawonggo
Sumber: Dokumentasi Penulis

Plesir Ing Ngawonggo diambil dari kata Bahasa Jawa yaitu plesir yang memiliki arti menjelajahi, yang kemudian memiliki arti keseluruhan. Menjelajahi Ngawonggo yang merupakan kegiatan rangkaian event penutup dari keseluruhan rangkaian event yang telah diadakan oleh Kelompok Estelle Crew Praktikum Public Relations 3 Management Event Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, dengan mengangkat lebih dalam tentang sejarah Situs Partirtaan Ngawonggo dan pelestarian budaya di era saat ini.

Sebelum acara berlangsung, Rahmad Yasin atau yang sering disapa dengan Cak Yasin selaku pengelola Situs Partitaan Ngawonggo, memberikan sambutan hangat kepada pengunjung yang datang, dengan mempersembahkan lagu “Sugeng Rawuh”.

Lagu tersebut merupakan lagu ciptaan Cak Yasin sendiri yang memiliki makna penyambutan selamat datang untuk para tamu yang telah berkenan datang ke Desa Ngawonggo dan berharap kedatangan ke Desa Ngawonggo dapat menjadi obat untuk mengobati rasa rindu akan masa kecil di desa.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Mengenal Kembali Situs Sejarah Beji Sirah Keteng yang Masih Belum Banyak dikenal

Setelah penampilan spesial dari Cak Yasin, acara Plesir Ing Ngawonggo dilanjutkan dengan sambutan oleh MC, sambutan oleh Cak Yasin, sambutan Ketua Pelaksana dari Estelle Crew, dan langsung memasuki sesi sarasehan atau sesi bincang-bincang dengan Bapak Ismail Lutfi, M.A. selaku Ketua Perkumpulan Ahli  Epigrafi Indonesia Komda Jawa Timur dan juga Dosen Kepakaran Sejarah Klasik dan Arkeologi Universitas Negeri Malang.

Pada rangkaian event ini, memiliki 2 pemaparan yang dipaparkan oleh Bapak Ismail Lutfi, M.A dan Cak Yasin. Bapak Ismail sendiri memaparkan tentang pengenalan sejarah dari Situs Patirtaan Ngawonggo dari sudut pandang Arkeolog dan cara pelestarian yang dapat dilakukan oleh cagar budaya dalam mempertahankan eksistensinya terutama untuk para generasi muda.

Sedangkan Cak Yasin sendiri memaparkan bagaimana ia pertama kali memutuskan untuk mengelola Situs Patirtaan Ngawonggo dan menceritakan tentang ide konsep Tomboan yang sudah sangat dikenal sebagai tempat edukasi dari konsep Asah, Asih dan Asuh.

Tomboan juga merupakan fasilitas untuk menjamu tamu yang datang dengan menyuguhkan jajanan tradisional, makanan berat tradisional, dan juga wedang yang berarti minuman yang terdiri dari wedang uwuh dan wedang Tomboan.

Acara ini memberikan tujuan kepada para tamu dalam mengenal sejarah Situs Patirtaan Ngawonggo mulai dari arca yang terdiri dari arca Ganesha, Siwa, Dewi Parwati, Dewi Sri, Jaladwara, dan beberapa arca yang sudah tidak terbentuk yang belum diketahui wujud aslinya.

Selain arca, juga terdapat relief di tepian kolam Situs Patirtaan Ngawonggo yang diduga merupakan relief peralihan Kerajaan Kediri ke Singosari.

Tidak hanya melalui pemaparan saja, selain itu pengunjung juga diajak menelusuri langsung Situs Partitaan Ngawonggo yang didampingi oleh Bapak Ismail Lutfi. Pengunjung diajak mengelilingi mulai dari kolam pertama hingga kolam terakhir dan beberapa pengunjung juga antusias dalam bertanya tentang sejarah Situs Partitaan Ngawonggo.

Dengan adanya pengenalan sejarah mengenai Situs Patirtaan Ngawonggo dari sudut pandang Arkeolog dan penguatan pelestarian budaya dan sejarah saat ini, sangat diperlukan bagi generasi saat ini hingga generasi yang akan datang. Hal ini agar kelestarian pada Situs Patirtaan Ngawonggo bisa tetap terjaga dan terlestarikan.

 

Penulis: Triami

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: I. Khairunnisa

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.