Banyak orang menganggap menjadi seorang mahasiswa itu menyenangkan, karena terlihat penuh kebebasan di dalamnya. Tidak sedikit juga orang melihat kehidupan mahasiswa di kampus sebagai tempat untuk belajar, bertemu teman teman baru, mengikuti organisasi dan dapat menentukan masa depan.
Namun, di balik cerita tersebut banyak mahasiswa yang berjuang terhadap tuntutan akademik yang tidak ringan. Tugas yang menumpuk, jadwal kuliah padat, tuntutan nilai tinggi, dan tanggung jawab organisasi. Maka, itu semua dapat berdampak berlebih pada kesehatan mental mahasiswa.
Bagi sebagian mahasiswa, IPK tidak sekadar angka biasa. IPK sering dianggap sebagai tolak ukur utama keberhasilan mahasiswa. Apalagi di era persaingan yang makin ketat pada zaman sekarang.
Banyak mahasiswa merasa mereka harus mencapai hasil sempurna untuk mendapatkan beasiswa, persyaratan magang, memenuhi harapan keluarga, atau menentukan peluang kerja pada masa depan.
Tidak heran jika mahasiswa menjadikan akademik sebagai prioritas utama mereka. Akibatnya, mahasiswa terus memaksa diri untuk produktif tanpa memberikan waktu istirahat yang cukup bagi tubuh dan pikirannya.
Setiap kali ada mahasiswa yang mengeluh stres atau depresi karena tekanan kuliah, banyak respons yang muncul menganggap bahwa mahasiswa tersebut lebay atau manja. Oleh karena itu, banyak mahasiswa yang memilih memendam masalahnya sendiri. Tekanan tersebut perlahan dapat memengaruhi kondisi mental mahasiswa.
Baca Juga: Burnout Terjadi pada Mahasiswa Gen Z: Tantangan terhadap Tuntutan Akademik
Rasa cemas berlebihan, takut gagal, overthinking, kesulitan untuk tidur, hingga kehilangan motivasi menjadi hal yang makin sering dialami oleh mahasiswa. Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ketika mental seorang terganggu, kemampuan belajar, fokus, dan produktivitas juga akan ikut menurun.
Permasalahan ini menunjukkan bahwa pendidikan masih memiliki fokus yang berlebihan terhadap hasil akhir daripada proses pembelajaran itu sendiri.
Tidur hanya 3 jam, melewatkan jam makan, melewatkan acara bersama teman atau keluarga karena mahasiswa selalu dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas dengan waktu terbatas, juga dituntut untuk selalu berprestasi, tetapi sering kali tidak diberikan ruang yang cukup untuk istirahat. Akibatnya, banyak mahasiswa yang terjebak karena tuntutan tersebut.
Namun, bukan berarti memiliki IPK tinggi tidak penting, tetapi mengejar nilai tinggi seharusnya tidak dilakukan dengan mengorbankan kesehatan mental.
Karena seharusnya tujuan pendidikan adalah mampu membuat mahasiswa berpikir kritis, memiliki kualitas hidup yang baik, membuat mahasiswa menjadi mahasiswa yang sehat secara fisik maupun mental.
Di sisi lain, kampus juga perlu berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang baik untuk mahasiswa, memberikan layanan konsultasi, dan melakukan pembelajaran yang tidak membuat mahasiswa tertekan.
Baca Juga: Dinamika Kesehatan Mental Mahasiswa di Tengah Tuntutan Akademik Abstrak Kesehatan
Oleh karena itu, sudah saatnya lingkungan kampus harus mulai menunjukkan kepedulian terhadap isu kesehatan mental.
Dengan itu mahasiswa juga harus tahu bahwa istirahat itu bukan berarti malas tetapi itu suatu kebutuhan bagi manusia, menjadi mahasiswa juga harus bisa mengatur waktu dengan sebaik mungkin, serta meminta bantuan kepada orang lain bukanlah hal yang membuat diri kita rendah.
Pada akhirnya, dilema antara IPK tinggi atau mental sehat tidak harus menjadi dua pilihan, karena keduanya dapat berjalan bersamaan, antara meraih IPK yang tinggi dan menjaga kesehatan mental, jika ada keseimbangan antara ambisi dan kemampuan diri.
Karena setinggi apa pun IPK seseorang, semuanya akan terasa tidak berarti jika harus dibayar dengan hilangnya kebahagiaan dan kesehatan diri sendiri.
Penulis:
1. Riva Vania Sari
2. Mais Sisca Andini
Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












