Jobdesk Berlebihan Membuat Motivasi Kerja Menurun

Motivasi Kerja
Ilustrasi: istockphoto, Karya: Viktor Morozuk.

Dampak Job Desk yang Berlebihan terhadap Motivasi Kerja

Job desk yang berlebihan atau terlalu banyak sering kali menjadi hambatan besar bagi motivasi karyawan di tempat kerja saat ini. Fenomena ini berpotensi memberikan dampak yang merugikan terhadap etos kerja perusahaan secara keseluruhan, selain mempengaruhi produktivitas individu.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana job desk yang berlebihan dapat mengikis motivasi kerja, maka perlu untuk menyelidiki faktor-faktor yang berperan, konsekuensi psikologis, dan metode yang digunakan perusahaan untuk mengatasi masalah ini secara efektif.

Faktor-Faktor Penyebab Job Desk yang Berlebihan

Berbagai faktor internal dan eksternal dalam sebuah organisasi dapat berkontribusi pada pengembangan job desk yang berlebihan. Pada awalnya, manajemen sering kali memberikan tugas yang terperinci dan sangat terstruktur untuk mengoptimalkan produktivitas dan akuntabilitas.

Bacaan Lainnya
DONASI

Sebagai contoh, manajer mungkin sering menyertakan tanggung jawab tambahan yang tidak selalu berkaitan dengan peran yang sebenarnya dalam upaya untuk memastikan bahwa setiap aspek pekerjaan ditangani dengan benar.

Dalam lingkungan di mana organisasi mengalami transformasi yang cepat, tanggung jawab tambahan sering kali diterapkan tanpa memperhatikan beban yang ada. Hal ini dapat mengakibatkan beban tugas yang tidak realistis bagi karyawan yang telah diberi tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya.

Beban kerja yang berlebihan juga dapat dipengaruhi oleh tekanan eksternal, seperti persaingan industri yang ketat atau tuntutan pasar, selain faktor internal. Agar tetap kompetitif di pasar yang kompetitif atau untuk memenuhi harapan investor, perusahaan sering kali meminta karyawan mereka untuk memikul tanggung jawab tambahan.

Akibatnya, karyawan dapat mengalami perasaan terbebani oleh ekspektasi yang terus meningkat, terutama jika mereka tidak diberi sumber daya atau dukungan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka secara efektif.

Dampak Psikologis dari Job Desk yang Berlebihan

Penurunan substansial dalam motivasi kerja adalah salah satu konsekuensi utama dari job desk yang berlebihan. Perasaan lelah secara mental dan emosional dapat terjadi akibat ketegangan yang berkepanjangan ketika karyawan dibebani dengan tanggung jawab yang berlebihan.

Hal ini dapat mengurangi rasa pencapaian pribadi secara psikologis, karena karyawan mungkin berjuang untuk memenuhi harapan yang telah ditetapkan untuk mereka.

Hal ini juga dapat mengakibatkan penurunan motivasi intrinsik, karena karyawan kehilangan minat pada pekerjaan mereka karena merasa tidak mampu memenuhi harapan yang telah dibebankan kepada mereka, serta perasaan tidak berdaya atau kelelahan. Keseimbangan kehidupan kerja karyawan juga dapat terganggu oleh job desk yang berlebihan.

Ketika karyawan mencurahkan sebagian besar waktu dan energi mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas tambahan, mereka mungkin menemukan bahwa mereka tidak memiliki waktu atau energi yang cukup untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang tidak terkait dengan tanggung jawab profesional mereka, seperti berolahraga, bersosialisasi, atau mempertahankan kesehatan mental mereka.

Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya rasa kesejahteraan secara keseluruhan dan peningkatan risiko burnout, suatu kondisi di mana karyawan mengalami kelelahan emosional, fisik, dan mental.

Baca Juga: Pengaruh Kemunculan Immaterial Labour terhadap Restrukturalisasi Tenaga Kerja dalam Perusahaan

Strategi untuk Mengatasi Job Desk yang Berlebihan

Untuk mengelola job desk yang berlebihan dan mengurangi dampak negatifnya terhadap motivasi kerja, perusahaan dapat mengadopsi beberapa strategi yang efektif.

Pertama-tama, penting untuk melakukan evaluasi teratur terhadap job desk yang ada untuk memastikan bahwa setiap tugas dan tanggung jawab yang ditetapkan benar-benar diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Ini dapat melibatkan revisi job desk, penghapusan tugas yang tidak lagi relevan, atau pengelolaan ulang sumber daya agar lebih efisien.

Ini bisa termasuk pelatihan tambahan, peningkatan akses terhadap teknologi atau alat kerja yang diperlukan, atau pengembangan sistem dukungan tim yang kuat.

Cara ini, karyawan akan merasa lebih dipersiapkan dan didukung dalam menangani beban kerja yang mereka hadapi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi mereka untuk mencapai tujuan perusahaan.

Perusahaan juga dapat mempromosikan budaya kerja yang seimbang dan mendukung kesejahteraan karyawan secara keseluruhan.

Ini dapat mencakup mengadopsi kebijakan yang mendukung fleksibilitas waktu kerja, memfasilitasi program kesehatan dan kesejahteraan, atau mengembangkan inisiatif untuk mempromosikan keseimbangan kerja-hidup yang sehat.

Maka, perusahaan dapat menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa dihargai, didukung, dan mampu untuk memberikan kontribusi maksimal mereka tanpa mengorbankan kesejahteraan pribadi mereka.

Penulis: Rahayu Intan Nur’Aini
Mahasiswa  Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.