Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pola asuh otoriter terhadap aspek psikologis remaja usia 11–18 tahun, khususnya pada tingkat kecemasan, kepercayaan diri (self-esteem), dan regulasi emosi. Penelitian menggunakan metode studi literatur dari berbagai jurnal ilmiah tahun 2022–2026 yang relevan dengan variabel penelitian.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter yang ditandai dengan kontrol tinggi, komunikasi satu arah, serta minimnya dukungan emosional berkontribusi secara signifikan terhadap meningkatnya kecemasan, menurunnya kepercayaan diri, dan rendahnya kemampuan regulasi emosi pada remaja.
Dampak jangka panjang meliputi gangguan kecemasan, impulsivitas, dan isolasi sosial. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan pola pengasuhan yang seimbang, demokratis, dan komunikatif guna mendukung perkembangan psikologis remaja secara optimal.
Implikasi dari temuan ini untuk orang tua, lembaga pendidikan, serta pengembangan program bimbingan dan konseling diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengasuhan dan kesehatan mental remaja.
Kata Kunci: pola asuh otoriter, psikologis remaja, kecemasan, kepercayaan diri, regulasi emosi, studi literatur
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pola asuh orang tua merupakan faktor utama yang memengaruhi perkembangan psikologis remaja. Dalam kajian Psikologi Perkembangan, masa remaja (11–18 tahun) dikenal sebagai fase transisi yang penuh perubahan, baik secara fisik, kognitif, maupun emosional. Perubahan tersebut menuntut adanya kemampuan adaptasi yang baik dari remaja agar dapat berkembang secara optimal.
Pada tahap ini, remaja sangat membutuhkan dukungan emosional, komunikasi yang sehat, serta lingkungan keluarga yang aman untuk membentuk identitas diri yang positif (Amseke, 2023). Tanpa adanya dukungan tersebut, remaja berpotensi mengalami berbagai permasalahan psikologis yang dapat memengaruhi kehidupan sosial dan akademiknya.
Salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam pembentukan kondisi psikologis remaja adalah pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Pola asuh mencerminkan cara orang tua dalam membimbing, mengarahkan, serta mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pola asuh yang masih banyak diterapkan dalam masyarakat adalah pola asuh otoriter. Pola asuh ini ditandai dengan kontrol yang tinggi dari orang tua, aturan yang ketat, serta minimnya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak.
Orang tua cenderung menuntut kepatuhan tanpa memberikan ruang bagi anak untuk berpendapat atau mengekspresikan dirinya. Dalam perspektif Teori Pola Asuh Baumrind, pola asuh otoriter berbeda dengan pola asuh demokratis yang lebih menekankan keseimbangan antara kontrol dan kehangatan dalam hubungan orang tua dan anak.
Penerapan pola asuh otoriter dalam jangka panjang dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan psikologis remaja. Remaja yang dibesarkan dalam lingkungan dengan tekanan tinggi dan minim dukungan emosional cenderung mengalami berbagai masalah psikologis.
Salah satu dampak yang paling umum adalah meningkatnya tingkat kecemasan. Kecemasan pada remaja dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti rasa takut berlebihan, kekhawatiran terhadap penilaian sosial, serta tekanan dalam menghadapi tuntutan akademik dan keluarga.
Kondisi ini sering kali diperparah oleh kurangnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, sehingga remaja tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan atau mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi (Alurmei et al., 2024). Jika kondisi ini terus berlanjut, kecemasan yang dialami remaja dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih serius, seperti Gangguan Kecemasan.
Selain berdampak pada kecemasan, pola asuh otoriter juga berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan diri remaja. Kepercayaan diri atau self-esteem merupakan aspek penting dalam perkembangan psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu menilai dan menghargai dirinya sendiri.
Remaja yang tumbuh dalam lingkungan otoriter cenderung kurang mendapatkan apresiasi, dukungan, dan validasi emosional dari orang tua. Hal ini menyebabkan mereka merasa kurang percaya diri, ragu terhadap kemampuan diri, serta cenderung bergantung pada penilaian orang lain dalam menentukan keputusan (Adiyanti, 2024). Rendahnya kepercayaan diri ini dapat menghambat perkembangan potensi remaja, baik dalam bidang akademik maupun sosial.
Lebih lanjut, pola asuh otoriter juga berdampak pada kemampuan regulasi emosi remaja. Regulasi emosi merupakan kemampuan individu dalam mengelola, mengontrol, serta mengekspresikan emosi secara tepat sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Dalam Regulasi Emosi, kemampuan ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan mental dan hubungan sosial yang sehat. Namun, remaja yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter sering kali tidak diberikan kesempatan untuk memahami dan mengekspresikan emosinya secara terbuka.
Akibatnya, mereka cenderung menekan emosi yang dirasakan, yang pada akhirnya dapat memicu ledakan emosi, perilaku impulsif, atau bahkan menarik diri dari lingkungan sosial (Amseke, 2023). Kondisi ini menunjukkan bahwa pola asuh otoriter tidak hanya memengaruhi aspek internal individu, tetapi juga berdampak pada interaksi sosial remaja dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Tantangan dan Seni Mengelola Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku di Era Modern
Secara keseluruhan, ketiga aspek psikologis tersebut, yaitu kecemasan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi, saling berkaitan dan membentuk kondisi mental remaja secara menyeluruh. Tingginya kecemasan dapat menurunkan kepercayaan diri, sementara rendahnya kepercayaan diri dapat memperburuk kemampuan regulasi emosi. Hal ini menunjukkan bahwa dampak pola asuh otoriter bersifat kompleks dan saling memengaruhi satu sama lain.
Oleh karena itu, penting untuk memahami secara mendalam hubungan antara pola asuh otoriter dengan ketiga aspek tersebut agar dapat ditemukan solusi yang tepat dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan guna mengkaji lebih lanjut bagaimana pola asuh otoriter memengaruhi tingkat kecemasan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi pada remaja usia 11–18 tahun.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang psikologi perkembangan dan pendidikan, serta menjadi dasar dalam upaya meningkatkan kualitas pola asuh yang lebih adaptif dan mendukung perkembangan remaja secara optimal.
1.2 Rumusan Masalah
- Apa pengaruh pola asuh otoriter terhadap perkembangan psikologis remaja usia 11–18 tahun?
- Mengapa pola asuh otoriter dapat meningkatkan kecemasan dan menurunkan kepercayaan diri remaja?
- Bagaimana pola asuh otoriter memengaruhi regulasi emosi remaja dalam kehidupan sehari-hari.
1.3 Tujuan Penelitian
- Untuk memahami lebih dalam pengaruh pola asuh otoriter terhadap tingkat kecemasan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi pada remaja usia 11–18 tahun.
- Untuk mengidentifikasi dampak pola asuh otoriter terhadap perkembangan psikologis remaja, khususnya dalam aspek kecemasan, kepercayaan diri, dan kemampuan regulasi emosi.
- Untuk memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya orang tua, mengenai pentingnya penerapan pola asuh yang tepat guna mendukung perkembangan psikologis remaja secara optimal.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian dalam bidang Psikologi Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, khususnya terkait pengaruh pola asuh otoriter terhadap kecemasan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi pada remaja.
2. Manfaat Praktis
- Bagi orang tua: memberikan pemahaman mengenai dampak pola asuh otoriter terhadap kondisi psikologis remaja, sehingga dapat menerapkan pola asuh yang lebih tepat dan seimbang.
- Bagi remaja: membantu meningkatkan kesadaran diri dalam mengenali tingkat kecemasan, kepercayaan diri, serta kemampuan regulasi emosi yang dimiliki.
- Bagi sekolah: menjadi referensi dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, khususnya dalam menangani masalah psikologis remaja.
- Bagi pemerintah: sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan program dan kebijakan yang berkaitan dengan kesehatan mental dan pengasuhan remaja.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pola Asuh Otoriter
Pola Asuh Otoriter merupakan salah satu gaya pengasuhan yang ditandai dengan tingkat kontrol yang tinggi dari orang tua, namun di sisi lain memiliki tingkat kehangatan dan responsivitas yang rendah terhadap kebutuhan anak.
Dalam pola ini, orang tua cenderung menetapkan aturan yang ketat serta menuntut kepatuhan tanpa memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat atau perasaannya.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan dalam kajian Psikologi Perkembangan oleh Diana Baumrind yang mengklasifikasikan pola asuh menjadi beberapa tipe, salah satunya adalah pola asuh otoriter yang memiliki karakteristik dominasi kontrol dan minimnya komunikasi dua arah (Baumrind, 1991).
Pola asuh otoriter sering kali diterapkan dengan tujuan untuk membentuk kedisiplinan dan kepatuhan pada anak. Namun, pendekatan yang terlalu menekankan pada kontrol tanpa diimbangi dengan dukungan emosional dapat berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak, terutama pada masa remaja.
Remaja yang dibesarkan dalam lingkungan otoriter cenderung mengalami keterbatasan dalam mengembangkan kemandirian, karena mereka terbiasa mengikuti perintah tanpa kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri (Amseke, 2023). Hal ini menunjukkan bahwa pola asuh otoriter tidak hanya memengaruhi perilaku, tetapi juga perkembangan aspek kognitif dan emosional individu.
Selain itu, dalam pola asuh otoriter, komunikasi yang terjadi antara orang tua dan anak bersifat satu arah, di mana orang tua berperan sebagai pihak yang dominan dalam menentukan segala keputusan.
Anak tidak diberikan kesempatan untuk berdiskusi atau mengemukakan pendapatnya, sehingga hubungan yang terjalin cenderung kaku dan kurang hangat. Kondisi ini dapat menyebabkan anak merasa kurang dihargai dan tidak memiliki kebebasan dalam mengekspresikan diri (Santrock, 2022).
Kurangnya komunikasi yang efektif ini juga berpotensi menimbulkan jarak emosional antara orang tua dan anak, yang pada akhirnya dapat memengaruhi perkembangan kepribadian remaja.
Ciri lain dari pola asuh otoriter adalah rendahnya empati orang tua terhadap kebutuhan emosional anak. Orang tua lebih fokus pada pencapaian standar tertentu dan kepatuhan terhadap aturan dibandingkan dengan memahami perasaan anak.
Akibatnya, anak cenderung merasa tertekan dan kurang mendapatkan dukungan emosional yang dibutuhkan dalam proses perkembangan. Kondisi ini dapat memicu munculnya berbagai permasalahan psikologis, seperti kecemasan dan rendahnya kepercayaan diri pada remaja (Adiyanti, 2024).
Selain itu, penggunaan hukuman sebagai alat utama dalam mendisiplinkan anak juga menjadi karakteristik penting dalam pola asuh otoriter. Hukuman yang diberikan sering kali bersifat tegas dan kurang disertai penjelasan yang rasional, sehingga anak lebih merasa takut daripada memahami kesalahan yang dilakukan.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan anak memiliki kecenderungan untuk patuh karena takut, bukan karena kesadaran diri. Dampak lainnya adalah munculnya perilaku agresif, penarikan diri dari lingkungan sosial, serta kesulitan dalam mengelola emosi secara sehat (Alurmei et al., 2024).
Secara umum, pola asuh otoriter memiliki beberapa ciri utama, yaitu komunikasi satu arah, kurangnya empati, penekanan pada kepatuhan, serta penggunaan hukuman sebagai alat kontrol. Keempat ciri tersebut saling berkaitan dan membentuk pola interaksi yang kurang mendukung perkembangan psikologis remaja secara optimal.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa penerapan pola asuh yang terlalu otoriter dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak, terutama dalam aspek emosional dan sosial.
2.2 Kecemasan pada Remaja
Kecemasan merupakan kondisi emosional yang ditandai dengan perasaan khawatir, takut, dan tegang yang muncul sebagai respons terhadap situasi yang dianggap mengancam. Dalam kajian Psikologi Klinis, kecemasan dipandang sebagai reaksi normal yang dapat dialami oleh setiap individu, termasuk remaja. Namun, apabila kecemasan terjadi secara berlebihan dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi psikologis dan sosial individu (Santrock, 2022).
Masa remaja merupakan periode yang rentan terhadap munculnya kecemasan karena adanya berbagai tuntutan dan perubahan yang terjadi secara bersamaan. Remaja dihadapkan pada tekanan akademik, perubahan fisik, serta dinamika hubungan sosial yang semakin kompleks.
Selain itu, faktor keluarga juga memiliki peran penting dalam memengaruhi tingkat kecemasan remaja. Lingkungan keluarga yang tidak suportif, kurangnya komunikasi, serta pola asuh yang tidak tepat dapat menjadi pemicu meningkatnya kecemasan pada remaja (Amseke, 2023).
Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kecemasan remaja adalah penerapan pola asuh otoriter oleh orang tua. Pola asuh ini cenderung menekankan pada kontrol yang tinggi serta tuntutan kepatuhan tanpa memberikan ruang bagi remaja untuk mengekspresikan diri.
Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan, karena remaja merasa harus selalu memenuhi ekspektasi orang tua tanpa adanya dukungan emosional yang memadai. Akibatnya, remaja menjadi lebih rentan mengalami kecemasan, baik dalam konteks akademik maupun sosial (Alurmei et al., 2024).
Hubungan antara pola asuh otoriter dan kecemasan remaja dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, tingginya tekanan dari orang tua dapat meningkatkan tingkat stres pada remaja. Remaja yang terus-menerus berada dalam situasi penuh tuntutan cenderung merasa tertekan dan takut melakukan kesalahan.
Kedua, kurangnya dukungan emosional dari orang tua dapat memperparah kondisi kecemasan, karena remaja tidak memiliki tempat yang aman untuk berbagi perasaan dan masalah yang dihadapi.
Ketiga, adanya ancaman hukuman dalam pola asuh otoriter dapat memicu rasa tidak aman, sehingga remaja menjadi lebih mudah merasa cemas dalam menghadapi berbagai situasi (Adiyanti, 2024).
Selain itu, kecemasan pada remaja juga dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti kecemasan sosial, kecemasan akademik, dan kecemasan terhadap masa depan. Remaja yang mengalami kecemasan sosial cenderung merasa takut untuk berinteraksi dengan orang lain, sedangkan kecemasan akademik berkaitan dengan tekanan dalam mencapai prestasi di sekolah.
Jika tidak ditangani dengan baik, kecemasan yang dialami remaja dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti Gangguan Kecemasan, yang dapat memengaruhi kualitas hidup individu secara keseluruhan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kecemasan pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pola asuh orang tua. Pola asuh otoriter yang menekankan kontrol tinggi dan minim dukungan emosional terbukti berkontribusi terhadap meningkatnya tingkat kecemasan remaja.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan komunikatif guna membantu remaja dalam mengelola kecemasan secara sehat dan adaptif.
2.3 Kepercayaan Diri (Self-Esteem)
Kepercayaan diri atau self-esteem merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan, nilai, dan potensi yang dimiliki dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Dalam kajian Psikologi Perkembangan, kepercayaan diri menjadi salah satu aspek penting yang menentukan keberhasilan remaja dalam beradaptasi secara sosial maupun akademik. Remaja yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi cenderung lebih mampu mengambil keputusan, berani mengekspresikan pendapat, serta memiliki sikap optimis terhadap dirinya sendiri (Santrock, 2022).
Sebaliknya, rendahnya kepercayaan diri dapat menjadi hambatan dalam perkembangan remaja. Salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya kepercayaan diri adalah pola asuh orang tua, khususnya pola asuh otoriter.
Dalam pola asuh ini, orang tua cenderung kurang memberikan apresiasi, dukungan emosional, serta validasi terhadap perasaan dan pendapat anak. Akibatnya, remaja merasa kurang dihargai dan tidak yakin terhadap kemampuan dirinya sendiri (Amseke, 2023).
Hubungan antara pola asuh otoriter dan rendahnya kepercayaan diri juga dapat dijelaskan melalui kurangnya kesempatan bagi remaja untuk mengembangkan kemandirian. Remaja yang terbiasa diatur secara ketat cenderung tidak memiliki ruang untuk mengambil keputusan sendiri. Kondisi ini menyebabkan mereka menjadi ragu dalam menentukan pilihan, karena tidak terbiasa menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Selain itu, kritik yang berlebihan dari orang tua juga dapat memperburuk kondisi self-esteem remaja, sehingga mereka cenderung memiliki penilaian negatif terhadap diri sendiri (Adiyanti, 2024).
Dampak dari rendahnya kepercayaan diri pada remaja dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan. Pertama, remaja menjadi ragu dalam mengambil keputusan karena kurangnya keyakinan terhadap kemampuan diri.
Kedua, remaja menjadi mudah terpengaruh oleh lingkungan, baik teman sebaya maupun media sosial, karena tidak memiliki pendirian yang kuat.
Ketiga, rendahnya kepercayaan diri juga dapat menyebabkan kesulitan dalam interaksi sosial, seperti merasa canggung, takut ditolak, atau enggan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok (Alurmei et al., 2024).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pola asuh otoriter memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rendahnya kepercayaan diri remaja. Kurangnya dukungan emosional dan validasi dari orang tua menjadi faktor utama yang menyebabkan remaja tidak mampu mengembangkan self-esteem secara optimal.
Oleh karena itu, diperlukan pola asuh yang lebih suportif dan komunikatif agar remaja dapat tumbuh dengan rasa percaya diri yang baik.
2.4 Regulasi Emosi
Regulasi emosi merupakan kemampuan individu dalam mengenali, mengelola, serta mengekspresikan emosi secara tepat sesuai dengan situasi yang dihadapi. Dalam Regulasi Emosi, kemampuan ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan psikologis serta membangun hubungan sosial yang sehat.
Remaja yang memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik cenderung mampu mengendalikan reaksi emosional, menghadapi stres dengan lebih adaptif, serta menyelesaikan konflik secara konstruktif (Gross, 2022).
Namun, kemampuan regulasi emosi tidak terbentuk secara otomatis, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan, terutama keluarga. Pola asuh orang tua memiliki peran penting dalam membentuk bagaimana remaja memahami dan mengekspresikan emosinya.
Dalam pola asuh otoriter, remaja sering kali tidak diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan secara terbuka. Orang tua cenderung menekan ekspresi emosi anak, sehingga remaja terbiasa memendam perasaan yang dimilikinya (Amseke, 2023).
Dampak dari kondisi tersebut adalah munculnya kesulitan dalam mengelola emosi. Remaja yang terbiasa menekan emosi cenderung mengalami ledakan emosi secara tiba-tiba, seperti marah berlebihan atau menangis tanpa kontrol yang jelas.
Selain itu, kurangnya bimbingan dalam memahami emosi menyebabkan remaja tidak memiliki keterampilan coping yang baik dalam menghadapi tekanan. Mereka menjadi kurang mampu mengelola stres secara sehat dan cenderung menggunakan cara-cara yang kurang adaptif (Adiyanti, 2024).
Lebih lanjut, pola asuh otoriter juga dapat menyebabkan remaja menunjukkan perilaku impulsif atau justru menarik diri dari lingkungan sosial.
Perilaku impulsif muncul karena ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi secara efektif, sedangkan perilaku menarik diri terjadi karena remaja merasa tidak aman dalam mengekspresikan dirinya. Kedua kondisi ini menunjukkan bahwa pola asuh otoriter dapat menghambat perkembangan regulasi emosi yang sehat pada remaja (Alurmei et al., 2024).
Baca juga: Regulasi Emosi dalam Kehidupan Modern Menurut Psikologi dan Islam
Dengan demikian, regulasi emosi merupakan aspek penting dalam perkembangan psikologis remaja yang sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua.
Pola asuh otoriter yang menekan ekspresi emosi dan minim dukungan emosional terbukti dapat menghambat kemampuan remaja dalam mengelola emosi secara efektif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pengasuhan yang lebih terbuka dan suportif agar remaja dapat mengembangkan kemampuan regulasi emosi yang baik.
2.5 Kerangka Pemikiran
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan secara sistematis dan mendalam mengenai fenomena yang diteliti, yaitu pengaruh pola asuh otoriter terhadap kecemasan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi pada remaja.
Pendekatan studi literatur dipilih karena penelitian ini tidak melakukan pengumpulan data secara langsung di lapangan, melainkan melalui analisis berbagai sumber tertulis yang relevan. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat mengkaji, membandingkan, serta menyimpulkan hasil penelitian terdahulu guna memperoleh pemahaman yang komprehensif terkait topik yang diteliti.
3.2 Sumber Data
Data dalam penelitian ini diperoleh dari jurnal ilmiah yang diterbitkan pada rentang tahun 2022–2026 dan diakses melalui Google Scholar.
Sumber data yang digunakan berupa artikel jurnal nasional maupun internasional yang relevan dengan variabel penelitian, yaitu pola asuh otoriter, kecemasan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi pada remaja. Dengan kriteria tersebut, data yang digunakan diharapkan valid, relevan, dan mampu mendukung analisis penelitian secara ilmiah.
Pemilihan sumber data dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, yaitu:
- Jurnal ilmiah yang terbit pada tahun 2022–2026.
- Memiliki kesesuaian dengan topik penelitian.
- Tersedia dalam bentuk teks lengkap (full text).
- Menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris.
- Memiliki kredibilitas yang dapat di pertanggung jawabkan.
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil kajian literatur terhadap berbagai jurnal ilmiah yang relevan, diperoleh temuan bahwa pola asuh otoriter memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan psikologis remaja, khususnya dalam aspek kecemasan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi.
Pertama, dalam aspek kecemasan, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa remaja yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang diasuh secara demokratis. Hal ini disebabkan oleh tingginya tekanan dari orang tua serta kurangnya komunikasi yang terbuka, sehingga remaja merasa tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Kedua, dalam aspek kepercayaan diri, hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter berkontribusi terhadap rendahnya self-esteem pada remaja. Kurangnya dukungan emosional, apresiasi, dan validasi dari orang tua membuat remaja merasa tidak percaya terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Ketiga, dalam aspek regulasi emosi, ditemukan bahwa remaja yang berada dalam lingkungan pengasuhan otoriter cenderung mengalami kesulitan dalam mengelola emosi. Mereka lebih mudah marah, impulsif, atau bahkan menarik diri dari lingkungan sosial karena tidak terbiasa mengekspresikan emosi secara sehat.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara pola asuh otoriter dengan munculnya berbagai permasalahan psikologis pada remaja.
4.2 Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologis remaja. Temuan ini sejalan dengan teori pola asuh yang menyatakan bahwa pengasuhan dengan kontrol tinggi dan kehangatan rendah dapat menghambat perkembangan emosional anak.
Remaja yang tumbuh dalam lingkungan otoriter cenderung mengalami tekanan psikologis yang tinggi, sehingga berdampak pada meningkatnya kecemasan.
Dalam konteks kecemasan, tingginya tuntutan dari orang tua serta adanya ancaman hukuman membuat remaja merasa tidak aman. Kondisi ini menyebabkan remaja selalu berada dalam keadaan waspada dan takut melakukan kesalahan. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan dalam menghadapi tekanan, baik dalam lingkungan keluarga maupun sosial.
Selanjutnya, rendahnya kepercayaan diri pada remaja juga dapat dijelaskan melalui kurangnya dukungan emosional dari orang tua. Dalam pola asuh otoriter, interaksi yang terjadi cenderung bersifat satu arah, sehingga remaja tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemandirian dan kemampuan mengambil keputusan. Hal ini menyebabkan mereka menjadi ragu terhadap kemampuan diri sendiri dan mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.
Dalam hal regulasi emosi, pola asuh otoriter cenderung membatasi ekspresi emosi remaja. Orang tua yang tidak memberikan ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaan menyebabkan remaja terbiasa menekan emosi. Kondisi ini dapat memicu ledakan emosi secara tiba-tiba atau perilaku impulsif. Selain itu, remaja juga dapat memilih untuk menarik diri dari lingkungan sosial sebagai bentuk perlindungan diri.
Ketiga aspek tersebut, yaitu kecemasan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi, saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Kecemasan yang tinggi dapat menurunkan kepercayaan diri, sedangkan rendahnya kepercayaan diri dapat memperburuk kemampuan regulasi emosi. Oleh karena itu, pola asuh yang tidak tepat dapat berdampak secara kompleks terhadap perkembangan psikologis remaja.
Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam menerapkan pola asuh yang lebih seimbang, yaitu mengombinasikan kontrol dengan kehangatan dan komunikasi yang baik. Pola asuh yang tepat diharapkan dapat membantu remaja berkembang secara optimal, baik dari segi emosional maupun sosial.
BAB 5 KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui studi literatur, dapat disimpulkan bahwa pola asuh otoriter memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan psikologis remaja usia 11–18 tahun. Pengaruh tersebut terutama terlihat pada tiga aspek utama, yaitu tingkat kecemasan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi.
Pola asuh otoriter yang ditandai dengan kontrol tinggi, aturan yang ketat, serta minimnya komunikasi dua arah terbukti cenderung meningkatkan tingkat kecemasan pada remaja. Remaja yang berada dalam lingkungan pengasuhan seperti ini sering mengalami tekanan psikologis, rasa takut berlebihan, serta kurangnya rasa aman dalam mengekspresikan diri.
Selain itu, pola asuh otoriter juga berkontribusi terhadap rendahnya kepercayaan diri remaja. Kurangnya dukungan emosional, apresiasi, dan validasi dari orang tua menyebabkan remaja merasa tidak yakin terhadap kemampuan dirinya sendiri. Hal ini berdampak pada kesulitan dalam mengambil keputusan, mudah terpengaruh oleh lingkungan, serta hambatan dalam interaksi sosial.
Selanjutnya, dalam aspek regulasi emosi, pola asuh otoriter cenderung menghambat kemampuan remaja dalam mengelola emosi secara efektif. Remaja menjadi terbiasa menekan emosi, yang pada akhirnya dapat memicu perilaku impulsif, ledakan emosi, atau bahkan menarik diri dari lingkungan sosial.
Dengan demikian, ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan menunjukkan bahwa pola asuh otoriter memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologis remaja secara menyeluruh. Oleh karena itu, penerapan pola asuh yang lebih seimbang, yaitu yang mengombinasikan kontrol dengan kehangatan dan komunikasi yang baik, sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan remaja secara optimal.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan, yaitu:
- Bagi orang tua, disarankan untuk menerapkan pola asuh yang lebih demokratis dengan memberikan ruang komunikasi yang terbuka, dukungan emosional, serta kepercayaan kepada remaja dalam mengambil keputusan.
- Bagi remaja, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran diri dalam memahami kondisi emosional yang dialami serta berani mencari dukungan dari lingkungan yang positif.
- Bagi sekolah, diharapkan dapat mengoptimalkan peran layanan bimbingan dan konseling dalam membantu remaja mengatasi masalah kecemasan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi.
- Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengembangkan penelitian ini dengan menggunakan metode kuantitatif atau penelitian lapangan agar diperoleh data yang lebih empiris dan mendalam.
Penulis: Rizqia Ramadhani (25011120037)
Mahasiswa S1 Pendidikan Biologi, UIN Raden Fatah Palembang
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Amseke, F. V. (2023). Pola asuh orang tua, temperamen dan perkembangan sosial emosional anak usia dini.
Alurmei, W. A., et al. (2024). Rasa insecure pada remaja terhadap hubungan sosialnya. Jurnal Insan Pendidikan dan Sosial Humaniora, 2(1), 278–285.
Adiyanti, M. G. (2024). Emotion regulation and empathy as mediators of selfesteem. Jurnal Psikologi.
Baumrind, D. (1991). The influence of parenting style on adolescent competence and substance use. The Journal of Early Adolescence, 11(1), 56–95.
Santrock, J. W. (2022). Life-Span Development. McGraw-Hill Education.
Gross, J. J. (2022). Emotion regulation: Conceptual and practical issues. Current Directions in Psychological Science, 31(4), 290–295.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













