Menjaga Kewarasan di Jogja Yang Terlalu Bising

Terkadang aku merasa jogja terlalu ramai, bukan ramai karena kendaraan atau orang, tetapi ramai di kepala sendiri karena banyak hal yang dipikirkan sampai terkadang merasa capek padahal lagi tidak ada aktivitas.

Aku kuliah di sini, mahasiswi farmasi di UII, tinggal jauh dari rumah dan jalani semuanya sendiri, dari awal mamah dan papah ga pernah maksa aku harus masuk jurusan apa, ga nuntut untuk harus mendapatkan nilai besar, ga marah kalau belum berhasil melakukan sesuatu, justru selalu bilang “gapapa jadiin pembelajaran yang penting adek selalu berdoa dan berusaha lagi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

”Disaat aku ingin melakukan tes atau sesuatu yang bikin aku ngerasa takut, aku selalu minta do’a mamah dan mamah selalu bilang “iya dek, Insyaallah selalu mama doakan, adek yang fokus ngerjainnya jangan lupa baca bismillah sebelum mulai ya”.

Kalimat itu yang membuat aku selalu semangat untuk mengerjakan sesuatu, sejak aku kecil mamah dan papah selalu berusaha untuk memenuhi apa yang aku mau, mereka selalu terlihat baik-baik saja didepanku padahal aku tau mereka sangat lelah karena dari pagi hingga sore bekerja dan malamnya baru sampai rumah, karena mereka sebaik itu aku merasa harus bisa kasih sesuatu balik bukan karena disuruh, tapi karena aku sendiri yang ingin.

Baca juga: Menghadapi Tantangan Digital Marketing: Damar Batik Jogja dan Pemanfaatan Platform Shopee, TikTok, serta Instagram

Aku anak terakhir, paling kecil di rumah dan paling terakhir yang masih menempuh pendidikan, walaupun gak pernah ada yang bilang langsung, tapi aku tau ada harapan yang numpuk di situ ditambah aku adalah anak terakhir.

Bukan karena disuruh atau dituntut, tetapi aku ingin mereka bisa lihat hasil dari semua dukungan yang mereka sudah kasih ke aku, mungkin ini cara aku buat bilang terima kasih kepada mereka karena sudah percaya dan selalu ada untuk aku disaat sedang sedih maupun senang.

Masalahnya, hidup gak selalu semulus itu, kuliah gak selalu lancar, sering merasa kesusahan mengerjakan tugas, deadline numpuk, ditambah memikirkan tentang kedepannya mau seperti apa, karena tinggal sendiri disini jadi semua hal ditanggung sendiri juga.

Kalau lagi merasa sedih ga gampang untuk aku cerita ke orang, takut nambah beban ke orang itu atau malah jadi bahan perbandingan, jadinya ya sudah dipendam sendiri aja, tetapi ga seterusnya aku pendam sendirian, terkadang kalau aku merasa ga bisa menghadapi itu sendirian aku cerita ke temanku, dan aku sangat bersyukur disini aku punya banyak teman yang baik jadi bisa mengurangi rasa sedih atau capek yang aku rasakan.

Baca juga: Gejog Lesung: Bunyi Kayu yang Menjaga Irama Kehidupan Orang Jawa

Mamah dan papah gak pernah nuntut aku harus selalu kuat, tetapi tetap saja rasanya ga enak kalau kelihatan lagi sedih, takut membuat mereka malah makin khawatir.

Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang sudah tahu kedepannya mau jadi apa dan seperti apa, sedangkan aku terkadang masih ragu untuk menentukan pilihan, tapi aku tahu aku ga sendirian yang merasakan hal itu, banyak juga yang lagi berjuang untuk kedepannya sama kayak aku.

Disaat aku merasa bingung mau bagaimana kedepannya, yang bikin aku terus semangat karena teringat oleh mamah dan papah, mereka adalah orang pertama yang akan selalu mendukung aku dalam keadaan apapun.

Mereka ga selalu tahu berapa kali aku gagal, tapi mereka ga pernah berhenti buat percaya padaku dan itu yang bikin aku buat ga menyerah, karena kalau aku nyerah, aku tahu aku sendiri yang bakal menyesal.

Buat sekarang, aku belum bisa janji bakal jadi apa untuk mamah dan papah,tapi aku janji aku akan tetap coba, tetap belajar, tetap semangat kalau lagi down, tetap jaga diri, biar suatu hari aku bisa bahagiakan mereka karena hasil usaha yang sudah aku lakukan.

Baca juga: Transformasi Pelayanan Publik di Era Digital: Studi Kasus Indeks Kependudukan Digital di Kota Yogyakarta

Jogja mungkin akan tetap ramai, tapi aku akan tetap semangat dan tenang di tengah semua keramaian itu.

Mamah sama papah tunggu aku sukses ya, aku janji kalau udah sukses bakal bahagiain mamah sama papah seperti apa yang mamah papah lakuin sama aku, terimakasih udah selalu ada, sejuta rasa sayang dari aku untuk mamah dan papah.

 

Penulis: Ghania Faustine Aqila Sasikirana

Mahasiswa Jurusan Farmasi, Universitas Islam Indonesia

 

Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses