Orang Tua Jangan Memarahi Anak karena Hal Sepele

Orang Tua Jangan Memarahi Anak karena Hal Sepele
Ilustrasi Orang Tua Memarahi Anak karena Hal Sepele

Pagi itu, suasana rumah cukup sibuk. Ibu di dapur sibuk menyiapkan sarapan dan bekal, sementara Airiel, anak perempuan kelas 7 SMP, sibuk mencari kaus kakinya yang hilang entah ke mana.

Biasanya, pagi hari di rumah itu penuh dengan suara dan aktivitas masing-masing.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

“Airiel, ini bekalnya Ibu udah siapin! Jangan sampai lupa dibawa, ya!” teriak Ibu dari dapur.

“Iya, Bu! Sebentar lagi berangkat!” Airiel, masih sambil mencari-cari.

Ibu memasukkan nasi goreng ke dalam Tupperware kesayangannya—warna merah muda, tutupnya masih rapat walau usianya sudah bertahun-tahun.

Baginya, kotak makan itu bukan sekadar wadah plastik, tapi benda berharga yang penuh kenangan.

Baca Juga: Pola Asuh Orang Tua yang Menerapkan Parenting VOC

Airiel buru-buru memasukkan bekalnya ke tas dan bergegas akan berangkat ke sekolah karena hampir terlambat.

Ketika di sekolah, Airiel makan siang bersama teman-temannya di taman belakang kelas.

Setelah Airiel selesai makan, Airiel mengobrol sebentar lalu buru-buru masuk ke kelas saat bel sudah berbunyi.

Tanpa sadar, kotak bekalnya tertinggal begitu saja di atas meja taman.

Saat pulang sekolah, barulah ia teringat.

“Aduh! Bekal Ibu!” gumamnya panik.

Airiel buru-buru kembali ke taman sekolah, tapi ternyata kotak makanya sudah tak ada Airiel mencoba bertanya ke satpam dan keliling tapi tetap tidak menemukannya.

Dengan perasaan bersalah, ia pulang.

Baca Juga: Trend Barcode (Self-Harm) pada Remaja: Orang Tua Harus Mengetahuinya

Sesampainya di rumah, Ibu bertanya, “Mana kotak makanya?”

Airiel tertunduk. “Maaf, Bu. Ketinggalan di sekolah, tadi pas istirahat. Waktu aku balik, udah nggak ada.”

Ekspresi Ibu langsung berubah. “Ya ampun, Rell! Itu kan Tupperware Ibu yang masih baru! Kok bisa sih kamu teledor banget?! Ibu udah sering bilang, jangan asal taruh barang!”

“Iya, Bu… Maaf Airiel nggak sengaja,” balas Airiel pelan.

“Nggak sengaja terus tiap kali ada yang hilang!” Ibu membentak dengan nada kesal.

Airiel hanya diam. Ia tahu Ibu marah karena kecewa, tapi rasanya menyakitkan dimarahi seperti itu hanya karena wadah makan.

Baca Juga: Bagaimana Peran Kita dalam Perlindungan Anak

Hatinya terasa berat. Malam itu, makan malam pun terasa hambar, tak banyak obrolan, hanya suara sendok dan piring.

Beberapa hari berlalu. Suatu siang, Ibu membawa bekal sendiri ke kantor dalam wadah seadanya.

Saat makan siang, ia letakkan wadah itu di pantry kantor. Tapi begitu kembali, wadahnya sudah tidak ada.

Ibu Airiel sudah bertanya ke orang di sekitar, namun tidak ada yang tahu.

Saat pulang, Ibu terlihat lesu. Di ruang tamu, Airiel menyapanya.

“Ibu kenapa?”

“Tupperware Ibu hilang di kantor,” Ibu menjawab pelan. “Baru sekarang Ibu ngerasain juga rasanya kehilangan barang yang penting buat kita.”

Baca Juga: Urgensi Perlindungan Anak bagi Masa Depan Bangsa

Airiel tersenyum kecil. “Airiel ngerti, Bu. Makanya kemarin juga sedih banget.”

Ibu memeluk Airiel, menahan sesal. “Maaf ya, Nak. Ibu marahnya keterlaluan waktu itu. Harusnya Ibu nggak segitunya, cuma karena kotak makan.”

“Gak apa-apa, Bu. Nanti kalau Ibu sudah ada uang, Ibu belikan yang baru.”

Setelah kejadian itu, Ibu menjadi lebih bijak dalam menanggapi hal-hal kecil.

Sementara Airiel pun jadi lebih berhati-hati dan bertanggung jawab.

Kita sama-sama belajar, jika kehilangan barang bisa diganti dengan yang baru, tapi jika melukai hati orang yang kita sayang hanya karena hal sepele adalah hal yang jauh lebih mahal harganya.

Baca Juga: Eksploitasi Anak: Masihkah Kita Menutup Mata? Ini Saatnya Kita Bertindak!

Karna hal ini Airiel menghargai menghargai hal-hal kecil yang mungkin baginya hal sepele, tetapi menurut orang lain itu hal yang sangat berharga.

Dari kejadian ini Airiel menjadi faham rasanya kehilangan barang yang di berikan oleh Ibu.

Setelah terjadi hal ini, Ibu jadi lebih memahami perasaan Airiel bahwa tidak semua hal harus di permasalahkan

Ibu juga menjadi lebih memahami perasaan anaknya ketika ibu membentak dan memarahi anaknya karena hal yang sepele.

Ibu dan Airiel pun menjadi saling memahami satu sama lain dalam hal ini, bahwa tidak seharusnya menyepelekan hal-hal kecil dan tidak perlu mempermasalahkan hal yang sepele, apalagi sampai menyakiti hati anaknya karena dapat diingat sang anak dalam jangka waktu yang panjang.

Dari hal ini, kita harus saling memahami antara perasaan sang anak dan menjaga kata-kata agar tidak ada kata yang menyakiti sang anak.

 

Penulis: Adinda Aurelia Trimeth Damayanti
Mahasiswa Prodi Farmasi, Universitas Islam Indonesia

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses