Memahami Masalah Emosi Anak Usia Dini melalui Pendekatan REBT Albert Ellis

regulasi emosi anak
Memahami Masalah Emosi Anak Usia Dini melalui Pendekatan REBT Albert Ellis. Sumber: MMI.

Perkembangan emosi sangat penting untuk pertumbuhan anak, terutama di masa awal kehidupan. Rasa aman yang dibangun oleh bayi ketika kebutuhan dasar mereka dipenuhi oleh lingkungan, khususnya keluarga, mendorongnya untuk mengeksplorasi dunia melalui rangsangan sensorik. Rasa aman ini membentuk emosi dan perilaku pada tahap berikutnya.

Karena perkembangan otak yang sangat cepat pada usia dini, masa emas (golden age). Pada tahap ini, sel-sel otak sangat penting untuk mengontrol berpikir, merasakan, dan berinteraksi, dengan memahami emosi anak sejak dini, orang tua dan guru dapat membantu anak memahami dan mengelola emosi mereka, terutama selama peralihan menuju fase operasional konkret.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pada anak-anak usia dini, tangisan, amarah, dan ledakan emosi sering kali dianggap sebagai hal sepele. Seolah-olah perasaan mereka tidak perlu dipahami lebih jauh, banyak orang dewasa berkata, “Namanya juga anak-anak.”

Meskipun demikian, tangisan dan tantrum memiliki pesan penting tentang dunia batin anak yang sedang belajar mengenali pikiran, perasaan, dan lingkungan sekitarnya.

Anak-anak usia dini tidak mampu mengelola emosi mereka seperti orang dewasa. Mereka tidak dapat mengatakan, “Aku kecewa” atau “Aku merasa tidak adil.” Yang mereka bisa lakukan hanyalah menangis, marah, atau menjauh. Sayangnya, respons orang dewasa sering kali berpusat pada perilaku daripada emosi.

Masalah emosi pada anak-anak usia dini bukan semata-mata bukti kenakalan atau kegagalan pola asuh. Rasa emosi yang menggelegar adalah sinyal bahwa anak sedang mengalami kesulitan untuk memahami sesuatu. Ia mungkin merasa tidak dimengerti, aman, atau tidak memiliki harapan yang terpenuhi.

Kita sering melihat anak marah karena mainannya diambil, menangis karena kalah bermain, atau kecewa karena keinginannya tidak dipenuhi.

Meskipun reaksi emosional ini wajar, tanggapan orang dewasa terhadapnya akan sangat memengaruhi perkembangan emosi anak berikutnya. Apakah anak belajar bahwa emosinya benar dan dapat diatasi, atau malah belajar bahwa emosinya harus ditekan?

Dalam situasi seperti ini, metode Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), yang diciptakan oleh Albert Ellis, masih relevan, bahkan untuk anak-anak yang masih sangat muda.

Prinsip dasar REBT, yang juga dikenal sebagai terapi kognitif untuk orang dewasa, adalah bahwa cara kita berpikir memengaruhi emosi. REBT menggunakan model ABCDE.

Anak mengalami suatu peristiwa (A), memiliki keyakinan tertentu tentang peristiwa itu (B), yang menyebabkan emosi dan perilaku (C). Jika keyakinannya salah atau irasional, maka dia harus dibantu (D) untuk membangun pemahaman baru yang lebih sehat.

Baca Juga: Belajar dari Pengalaman: Pendekatan John Dewey dalam Mendukung Regulasi Emosi Anak

Pendekatan ini digunakan untuk anak-anak melalui dialog sederhana, cerita, dan contoh kehidupan nyata daripada ceramah panjang. Anak tidak diminta untuk “berhenti marah”. Sebaliknya, dia diajak memahami mengapa dia marah dan menemukan cara lain untuk berpikir dengan cara yang lebih menenangkan (E).

Metode REBT mendorong orang tua dan guru untuk mengubah kebiasaan yang sudah ada. Kita bisa mulai dengan bertanya, “Apa yang kamu pikirkan sampai jadi sedih?” daripada hanya berkata, “Jangan menangis, itu sepele.” Kalimat sederhana ini memungkinkan anak untuk berbicara dengan pikirannya sendiri.

Sebagai contoh, seorang anak menangis karena tidak diajak bermain. Mungkin ia mengalami pikiran, “Aku tidak disukai.” Pikiran inilah yang menyebabkan perasaan sedih dan marah.

Orang dewasa dalam REBT membantu anak bertanya, “Kalau hari ini tidak diajak, apakah berarti tidak disukai selamanya?” Anak-anak memperoleh pemahaman bahwa tidak semua hal harus ditafsirkan secara ekstrem.

Anak belajar emosi melalui contoh. Anak melihat orang tua dan guru sebagai gambar mereka sendiri. Jika orang dewasa mudah marah, menyalahkan, dan berpikir negatif, anak-anak pun akan belajar melakukan hal yang sama. Sebaliknya, jika orang dewasa mampu mengelola emosi dan berpikir rasional, anak-anak pun akan menirunya.

Pendekatan REBT menuntut orang dewasa menjadi sadar diri untuk mengelola emosi mereka sendiri terlebih dahulu. Meskipun tidak mudah, itu sangat penting. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan emosional yang positif akan menjadi individu yang lebih kuat dan percaya diri.

Baca Juga: Refleksi Yuridis atas Kasus Predator Roblox: Ketika Ruang Bermain Anak Tidak Lagi Aman

Jika masalah emosi tidak ditangani sejak dini, mereka dapat berlanjut hingga remaja dan dewasa. Ketidakmampuan untuk mengelola emosi saat kecil adalah sumber banyaknya konflik seperti, kecemasan, dan stres di usia dewasa.

Oleh karena itu, memahami emosi anak adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan mental mereka, bukan hanya untuk waktu sekarang.

Pendekatan REBT membantu anak memahami bahwa perasaan mereka berharga, tetapi tidak harus menguasai diri sepenuhnya. Anak-anak belajar bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih cara berpikir yang lebih santai dan realistis.

Mendidik anak usia dini membutuhkan kesabaran, empati, dan perspektif yang tepat untuk memahami masalah emosinya. Pendekatan REBT Albert Ellis mengingatkan kita bahwa pikiran anak harus dipahami daripada menghakimi emosi mereka.

Jika anak-anak dididik untuk berpikir rasional dan sehat secara emosional sejak dini, maka orang tua maupun pendidik sedang membantu mereka tumbuh menjadi individu yang lebih kuat dan lebih pintar daripada yang mereka miliki saat ini.


Penulis: Ika Putri
Mahasiswa PIAUD Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi 


Referensi

Sukatin, dkk. Analisis Perkembangan Emosi Anak Usia Dini. Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, 5(2), 2020, 77. https://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/goldenage/article/view/52-05/1872

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses