Belajar dari Pengalaman: Pendekatan John Dewey dalam Mendukung Regulasi Emosi Anak

Meregulasi Emosi
Foto: Freepik

Tangisan seorang anak di setiap waktunya sering kali dianggap sebagai gangguan, seperti anak yang marah saat berebutan mainan dengan kakaknya atau menangis ketika meminta permen, tetapi tidak boleh karena sakit tenggorokan.

Respons orang dewasa di sekitarnya hanya berfokus pada menenangkan anak itu agar tidak makin bergejolak, dengan cara mengalihkan ke hal lain atau bahkan meminta anak itu tetap diam.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Padahal sebenarnya di balik emosi tersebut, anak sedang proses belajar untuk perkembangannya.

Seperti aku yang selalu melihat keadaan tersebut setiap harinya, karena rumahku bersamaan dengan kakakku juga yang memiliki anak-anak.

Saat kakak bekerja, aku yang akan menjaga keponakan-keponakanku menggantikan kakakku. Dari sana, aku melihat dan memandangi bagaimana keponakan-keponakanku bergulat dengan emosi mereka masing-masing.

Seperti saat mereka berebut cemilan, mainan, atau saat si adik yang ingin bermain dengan kakak nya sambil merengek.

Baca Juga: Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak di Lingkungan Keluarga

Awalnya, aku tidak suka mendengar suara teriak dari mereka karena menurutku sangat berisik, tapi perlahan aku mulai sadar dan mencoba untuk mengambil alih emosi mereka dengan cara bertanya atau sekadar mendengarkan apa yang membuat mereka kesal hingga menangis.

Cara ini kuambil dari metode John Dewey dengan konsep learning by doing yang mengatakan bahwasannya dengan pengalaman langsung anak itu belajar ketika mereka “mengalami” hal itu dan pada pengalamannya anak juga belajar untuk mengelola emosinya. 

Pernah saat aku sedang menonton TV, tiba-tiba keponakan-keponakanku bertengkar merebut boneka.

Adiknya menangis keras karena kakaknya yang tidak mau berbagi mainan dan kakaknya yang tetap diam melihat adiknya menangis sambil tetap memegang mainan itu.

Aku segera menghentikan pandanganku dari televisi dan mengarahkannya kepada mereka, lalu bertanya, “Adek, kenapa nangis?”

Si adik menghentikan tangisannya dan pergi ke arahku sambil sesenggukan. “Aku mau main slime-nya, tapi kakay nggak mau kasih,” katanya.

Baca Juga: Regulasi Emosi dalam Kehidupan Modern Menurut Psikologi dan Islam

Kakaknya pun mengelak dengan nada marah, “Aku bukannya nggak mau kasih, tetapi adek tuh duluan  yang mintanya sambil teriak. Kakay kan jadi sebel.” Dari situ, aku mulai paham alasan mereka bertengkar.

Akhirnya, aku pun mengajak mereka untuk duduk di sampingku sambil mendengarkan apa yang mereka inginkan selanjutnya. Aku berkata, “Ya udah, adek sama kakay maunya gimana?”

Adik menjawab, “Aku mau main slime sama kakay, tapi kakay nggak mau main sama aku.”

Aku pun menghela napas, lalu menatap mereka dengan lembut. “Adek, kakay mau, kok, main sama adek. Tapi, adek mintanya harus yang baik sama kakay, ga boleh teriak-teriak mintanya. Ya, kan, Kay?” Kakaknya mengangguk.

Aku pun bilang ke adiknya untuk meminta slime dengan suara yang baik, tidak berteriak, dan adiknya pun meminta maaf sambil mengulangi permintaannya dengan nada yang lebih rendah.

“Kakay, maafin adek, ya, karena adek teriak-teriak. Adek boleh nggak main slime bareng, Kakay?” Kakaknya pun menjawab, “Iya, adek. Ayuk, kita main bareng.”

Setelah itu mereka main bersama-sama lagi dan pada tahapan ini anak berproses mengenal emosinya dengan cara belajar dari pengalaman. Mereka jadi belajar memahami, mengenal dan mengekspresikan emosinya.

Baca Juga: Algoritma, Emosi, dan Kebenaran: Mengapa Hoaks Selalu Lebih Cepat

Dari pandangan John Dewey ini sangat mumpuni untuk dipakai para orangtua dan guru agar tidak sekadar menenangkan emosi anak, tetapi juga bisa mendampingi anak dalam memahami apa yang mereka rasakan dan kita juga sebagai pendamping harus memberikan respons dan solusi yang baik agar anak juga bisa belajar untuk mengendalikan emosinya.

Mereka juga jadi belajar tentang rasa tanggung jawab dan berempati, seperti pada kakaknya yang sekarang sudah bisa mengalah dan mengajari adik nya untuk melakukan hal baik. 

Pengalaman sehari-hari dapat dimaknai sebagai sumber belajar, dengan pendampingan yang konsisten anak dapat terbiasa untuk merefleksikan emosinya dan dapat membangun pengendalian regulasi emosinya dengan proses bertahap sesuai dengan apa yang sudah mereka alami dan apa yang mereka rasakan.

Pada akhirnya, regulasi emosi tidak hanya dapat diajarkan melalui instruksi atau larangan, tetapi dengan pengalaman langsung bersamaan dengan bimbingan dan refleksi sederhana membuat anak tumbuh menjadi orang yang dapat mengendalikan emosinya dan mampu untuk berinteraksi secara sehat dengan orang yang ada disekitarnya. 

Pendampingan juga tidak melulu soal orang tua ataupun guru, tetapi orang-orang yang dikatakan dewasa yang sudah mampu untuk mendampingi ataupun menuntun berjalannya tumbuh kembang anak.

Dari sini aku jadi paham bagaimana kita sebagai orang dewasa harus mampu menuntun, membimbing, ataupun mencontohkan yang positif untuk anak-anak agar tumbuh kembangnya pun ikut stabil dan positif.

Teori John Dewey sangat mendukung regulasi anak usia dini dan aku yang sudah mengalaminya langsung pun setuju dengan John Dewey.


Penulis: Ratu Hanifah
Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Dosen Pengampu: Anis Fuadah


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Fatimatuz Zuhriyah, D. E., Ibrahim M., M. F. A. S., Ramadhani, N. R. F., Auliarahma, S., Khoiruna, N. B., Munjiyat, S. N., & Royyan, N. N. (2025). Analisis filsafat pendidikan John Dewey melalui konsep learning by doing dalam pendidikan modern. Indonesian Journal of Multidisciplinary Studies, 1(1). Retrieved from https://ejournal.epistemeacademia.org/index.php/IJMS/article/view/24

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses