Di era serba teknologi seperti saat ini, gadget sudah menjadi “teman” bagi mahasiswa. Mulai dari mengerjakan tugas, mencari jurnal hingga sekedar mencari hiburan semua tak lepas dari penggunaan gadget. Kemudahannya memang mempermudah banyak hal, tapi tanpa disadari, gadget juga mengambil alih dari hidup kita.
Awalnya gadget memang hadir sebagai alat bantu belajar. Namun, seiring berjalannya waktu batas antara kebutuhan pembelajaran dan hiburan semakin menipis.
Notifikasi yang terus berdatangan, godaan media sosial hingga konten hiburan tanpa henti sering kali membuat waktu belajar terpotong-potong.
Bukannya fokus memahami materi, mahasiswa justru terjebak menunda tugas dan bahkan kehilangan konsentrasi.
Artikel ini mencoba mengajak pembaca, khususnya mahasiswa. Untuk lebih sadar terhadap dampak penggunaan gadget yang berlebihan.
Bukan menyalahkan teknologi, tetapi untuk menyadari bagaimana penggunaan gadget yang berlebih dapat mempengaruhi proses belajar.
Di tengah kemajuan teknologi, kesadaran dan kontrol diri menjadi kunci agar gadget menjadi alat pendukung bukan penghalang dalam perjalanan akademik kita.
Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. dosen pengampu mata kuliah pengantar psikologi kelas C, dengan saya Nayla Arifa Siregar_1152500103 selaku penulis dari artikel ini.
Baca Juga: Gadget Boleh, Disiplin Wajib: Pesan Hadis Nabi untuk Orang Tua
Kecanduan gadget pada mahasiswa bukan lagi isu yang baru, dampaknya pun makin terasa. Gadget yang awalnya menjadi alat bantu dalam pembelajaran kini berubah menjadi sumber distraksi.
Media sosial, game online dan hiburan di media sosial membuat mahasiswa sulit fokus dalam waktu yang lama.
Proses belajar menjadi kacau, buka materi sebentar lalu ke-distract pada notifikasi sosial media dan akhirnya lupa tujuan utama untuk belajar.
Dalam hal ini mahasiswa menjadi kelompok yang paling berdampak. Namun, dosen juga ikut merasakan efeknya.
Dosen harus menghadapi mahasiswa yang pasif di kelas, kurang fokus dan suka menunda tugas.
Di sisi lain, kamus dituntut untuk beradaptasi dengan gaya belajar digital tanpa menghilangkan esensi pembelajaran itu sendiri.
Fenomena ini bermula pada saat pandemi di tahun 2020 lalu, kebiasaan belajar dengan menatap layar gadget yang awalnya dilakukan secara terpaksa kini menjadi kebiasaan permanen.
Baca Juga: Kenapa Anak Lebih Suka Main Gadget daripada Belajar? Yuk, Lihat dari Lingkungannya!
Sayangnya, tidak semua mahasiswa siap mengatur batasan penggunaan gadget, sehingga kebiasaan “selalu online” terbawa ke kehidupan termasuk saat belajar.
Dampak kecanduan gadget terlihat jelas di ruang kelas bahkan di perpustakaan. Mahasiswa hadir secara fisik tapi pikirannya sibuk pada gadget, diskusi kelas terasa hambar, waktu belajar tidak efektif dan ruang belajar berubah menjadi tempat multitasking yang justru menurunkan kualitas pemahaman materi.
Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya kesadaran atas batas penggunaan gadget. Banyak mahasiswa merasa mampu mengatur waktu, padahal algoritma media sosial dirancang untuk membuat penghuninya betah berlama-lama.
Selain itu, tekanan dalam proses pembelajaran dan kebutuhan hiburan sering membuat gadget menjadi pelarian instan dari rasa jenuh dan stres.
Dampaknya tidak hanya pada menurunnya nilai akademik, tetapi juga pada cara berpikir dan kebiasaan belajar mahasiswa.
Membuat konsentrasi menurun, kemampuan berpikir lemah dan ketergantungan akan gadget semakin kuat. Jika dibiarkan, mahasiswa akan kehilangan kemampuan belajar secara mandiri.
Solusinya bukan dengan menjauhi gadget sepenuhnya, melainkan menggunakan gadget secara sadar.
Mahasiswa perlu membangun disiplin digital seperti, memisahkan waktu antara waktu belajar dan hiburan, mematikan notifikasi saat belajar serta menggunakan gadget sesuai kebutuhan pembelajaran.
Kampus juga bisa berperan dengan menciptakan sistem pembelajaran yang mendorong interaksi aktif bukan berbasis layar.
Baca Juga: Fenomena Anak dalam Gadgetnya dan Hilangnya Interaksi Sosial pada Anak
Pada akhirnya gadget hanyalah alat yang bisa menjadi pendukung atau penghambat, tergantung bagaimana mahasiswa menggunakannya.
Di era digital ini, tantangan terbesar bukan kurangnya akses teknologi, tetapi kemampuan mengendalikan diri agar proses belajar lebih efektif dan bermakna.
Gadget harusnya membantu kita berpikir lebih kritis, belajar lebih efektif dan berkembang secara akademik bukan malah sebaliknya.
Penegasan ini penting untuk diingat, kemajuan teknologi tidak akan berarti apa-apa jika tidak diiringi sikap bijak dari penggunanya.
Di tangan mahasiswa yang sadar dan bertanggung jawab, gadget bisa menjadi jembatan menuju prestasi. Namun, tanpa kontrol ia akan bisa menjatuhkan kita dari tujuan belajar yang sesungguhnya.
Penulis: Nayla Arifa Siregar (1152500103)
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












