Pendahuluan
Di era digital seperti saat ini, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya, gadget telah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan mereka saat ini.
Namun, di balik kemajuan teknologi tersebut, muncul fenomena yaitu fenomena di mana menurunnya kemampuan sosial anak dan empati pada anak di kalangan anak-anak saat ini.
Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2023) lebih dari 70% anak usia sekolah dasar di Indonesia menggunakan gadget lebih dari empat jam per hari.
Sebagian besar untuk bermain game atau menonton video. Kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan menurunnya interaksi pada anak dengan lingkungannya secara langsung.
Perilaku Anak dalam Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik dari Ivan Pavlov dan B.F. Skinner menekankan bahwa perilaku manusia. bisa terbentuk melalui stimulus. dan respons.
Pada tahun 1927. Pavlov, melalui eksperimennya. mengenai teori, tentang classical conditioning. menunjukkan. bahwa perilaku dapat dibentuk. melalui pembiasaan tertentu.
Dalam konteks penggunaan pada gadget, notifikasi dan warna yang mencolok pada gadget, serta suara dari bermain game atau menonton video dari gadget, berfungsi sebagai stimulus yang memunculkan respons kesenangan pada anak sehingga anak tersebut terbiasa untuk mencari kepuasan melalui gadget-nya.
Pada tahun 1953, Skinner melalui konsep teori operant conditioning menjelaskan bahwa perilaku anak bisa diperkuat melalui penguatan atau reinforcement. Ketika ada anak mendapatkan kepuasaan berupa “hadiah digital” karena menang dalam bermain game, maka perilaku anak akan terus diulangi secara terus-menerus.
Akibatnya gadget tersebut tidak hanya menjadi alat hiburan saja tetapi juga dapat menjadi sumber utama penguatan perilaku pada anak untuk membentuk pola perilaku baru pada anak tersebut.
Peran Lingkungan dalam Teori Konstektual
Teori konstektual, yang dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner pada tahun 1979 menjelaskan bahwa perkembangan anak selalu terjadi melalui interaksi yang dinamis antara individu dengan lingkungannya.
Baca Juga: Pengaruh Gadget terhadap Perkembangan Karakter Anak: Dampak, Risiko, dan Solusinya
Pada lingkungan anak terbagi menjadi empat sistem, di antaranya sebagai berikut:
- Lingkungan mikrosistem yang di mana meliputi lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan lembaga keagamaan untuk membentuk nilai moral dan spiritual pada anak.
- Lingkungan mesosistem yaitu hubungan antara orang tua dan guru, hubungan antara keluarga dan teman sebaya anak, hubungan antara sekolah dan lingkungan rumah, serta hubungan antara keluarga dan lembaga keagamaan.
- Dalam kontekstual, lingkungan ekosistem menjadi sumber pengalaman belajar nyata dan dalam behavioristik, lingkungan ekosistem menjadi stimulus yang membentuk perilaku anak melalui penguatan dan pembiasaan.
- Lingkungan makrosistem, mencakup nilai, budaya, Ideologi, kepercayaan, hukum, dan sistem sosial yang berlaku di masyarakat yang secara tidak langsung memengaruhi cara anak tumbuh, berpikir, dan berperilaku.
Dalam hal ini, penggunaan gadget tanpa pengawasan dari orang tua ataupun guru dapat menunjukkan lemahnya sistem lingkungan yang mendukung perkembangan sosial pada anak.
Ketika orang tua terlalu sibuk dengan kerjaan, guru yang tidak memfasilitasi interaksi sosial pada anak, dan teman sebaya yang sibuk dengan gadget-nya, maka anak tersebut akan kehilangan lingkungan sosial yang sehat.
Akibatnya, bisa berdampak pada kemampuan berempati dan berkomunikasi dalam interaksi antara individu pada anak dengan lingkungannya.
Pandangan Etologis Konrad Lorenz
Pada tahun 1963, seorang ahli bernama Konrad Lorenz berpendapat bahwa: manusia memiliki jiwa naluri sosial bawaan yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup anak, naluri tersebut mendorong manusia untuk berinteraksi, meniru, dan berhubungan dengan sesama lainnya.
Ketika ada anak lebih sering berinteraksi dengan mesin daripada manusia, maka naluri pada anak tersebut tidak berkembang sebagaimana mestinya.

Penelitian bernama Twenge dan Campbell pada tahun 2018 menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih dari 5 jam per hari di depan layar gadget memiliki tingkat kecemasan sosial dan kesepian yang lebih tinggi dibandingkan anak yang berinteraksi secara langsung.
Baca Juga: Kecanduan Gadget Menghancurkan Masa Depan Anak: Dampak, Penyebab, dan Solusinya
Dampak psikologis dari anak yang sering menggunakan gadget setiap hari yaitu sebagai berikut:
- Bermain gadget terlalu lama dapat mengganggu waktu tidur dan menurunkan kualitas istirahat pada anak;
- Mudah cemas dan stres terutama jika anak sering terpapar konten negatif di media sosial dan game;
- Menurunnya motivasi belajar pada anak jadi anak lebih tertarik bermain daripada melakukan aktivitas belajarnya.
Dampak sosial anak akibat menggunakan gadget setiap hari yaitu sebagai berikut:
- Anak menjadi kurang peduli terhadap lingkungan sekitar karena anak fokus pada dunia digitalnya;
- Anak yang terbiasa bermain sendiri dengan gadget cenderung kesulitan bekerja sama atau berbagi peran dalam kegiatan kelompok;
- Anak mudah meniru gaya hidup dari konten internet tanpa mampu membedakan mana yang baik untuk ditiru dan mana yang buruk untuk tidak ditiru.
Untuk menghadapi fenomena pada anak, teori konstektual dan behavioristik dapat dipergunakan melalui:
1. Pendekatan Behavioristik
Dengan cara membatasi penggunaan gadget pada anak agar tidak kecanduan dalam menggunakan gadget.
2. Pendekatan Konstektual
Dengan cara menciptakan ljngkungan belajar sosial melalui proyek kelompok atau diskusi dalam berkelompok dan kegiatan alam secara tatap muka dan orang tua juga harus mencontohkan perilaku interaksi sosial yang baik di rumah.
3. Pendekatan Holistik
Artinya kolaborasi antara lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakatnya untuk menciptakan ekosistem sosial yang baik dan sehat untuk anak.
Selain itu, pemerintah dan lembaga pendidikan juga dapat mengatur kebijakan penggunaan teknologi yang seimbang bukan membatasi, melainkan harus mengarahkan gadget pada fungsi pendidikan.
Baca Juga: Menghadapi Tantangan Era Digital: Dampak Gadget pada Kesehatan Mental Anak-Anak
Penutup
Sudah saatnya orang tua harus menjadi teladan digital pada anak di lingkungan rumah. Jika anak melihat orang tuanya, lebih sering berinteraksi dengan manusia ketimbang penggunaan gadget, anak tersebut pun akan meniru hal yang sama yang dilakukan oleh orang tuanya.
Penulis: Fingky Setiowati
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar UKSW
Dosen Pengampu: Ibu Trievena Dyah Wijayanti
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Bronfenbrenner , U.(1979). The Ecology Of Human Development. Harvard University Press.
Komisi Perlindungan Anak (KPAI, 2023). Laporan Pengawasan Penggunaan Gadget Pada Anak Sekolah Dasar Di Indonesia.
Lorenz, K. (1963). On Aggression. Harcourt, Brace & World
Pavlov , I.P. (1927). Conditioned Reflexs. Oxford University Press.
Skinner, B.F. (1953). Science. and Human Behavior. Macmillan.
Twenge, j.M., & Campbell, W.K. (2018).Screen Time. and Social Interaction Among Adolescents. Journal Of Child Psychology. and Psychiatry.
Pusat Kajian Perlindungan Anak. (2022). Dampak penggunaan Gadget Terhadap Interaksi Sosial Anak indonesia.
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













