Yogyakarta, MMI — Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola pengasuhan anak. Gadget kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan sejak usia dini.
Di satu sisi, perangkat digital menawarkan kemudahan akses informasi dan sarana edukatif, namun di sisi lain, penggunaan tanpa batas berpotensi melemahkan disiplin waktu dan pembentukan karakter anak.
Dalam konteks ini, ajaran Nabi Muhammad SAW melalui hadis memberikan pedoman penting bagi orang tua dalam mendidik anak secara seimbang.
Fenomena anak yang sulit lepas dari gadget, mudah marah ketika akses dibatasi, hingga berkurangnya kepedulian terhadap kewajiban belajar dan ibadah, semakin sering dijumpai.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada keberadaan gadget itu sendiri, melainkan pada lemahnya pengendalian dan pembiasaan disiplin dalam keluarga.
Fenomena Sosial Anak dan Gadget
Penggunaan gadget yang berlebihan pada anak kini menjadi fenomena sosial yang meresahkan berbagai kalangan. Anak-anak terlihat lebih fokus pada layar dibandingkan interaksi langsung dengan orang tua, saudara, maupun lingkungan sekitar.
Aktivitas bermain tradisional, membaca buku, dan komunikasi keluarga perlahan tergeser oleh permainan digital dan konten media sosial.
Di lingkungan pendidikan, sejumlah guru mengeluhkan menurunnya konsentrasi belajar siswa akibat kebiasaan bermain gadget tanpa kontrol. Anak menjadi mudah bosan, kurang disiplin mengikuti aturan, serta menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap perangkat digital.
Kondisi ini jika dibiarkan berlarut-larut dikhawatirkan akan berdampak pada perkembangan emosional dan sosial anak di masa depan.
Disiplin dalam Perspektif Hadis Nabi
Islam menempatkan disiplin sebagai bagian dari pendidikan karakter. Salah satu hadis yang sering dijadikan landasan dalam pendidikan anak adalah sabda Rasulullah SAW:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan berikan teguran (yang mendidik) ketika mereka berusia sepuluh tahun (jika meninggalkannya), serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Baca Juga: Kenapa Anak Lebih Suka Main Gadget daripada Belajar? Yuk, Lihat dari Lingkungannya!
Para ulama menegaskan bahwa hadis ini tidak mengajarkan kekerasan, melainkan menekankan pentingnya pembiasaan, ketegasan yang proporsional, serta konsistensi dalam mendidik anak. Prinsip ini sangat relevan untuk diterapkan dalam pengaturan waktu anak bermain gadget.
Gadget dan Tantangan Pengasuhan Kontemporer
Kemudahan akses digital membuat anak-anak terpapar beragam konten tanpa filter yang memadai. Tanpa pengawasan dan batasan waktu, anak berisiko kehilangan kontrol diri, menurunnya kedisiplinan, serta melemahnya kepekaan sosial.
Oleh karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membangun disiplin digital sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Praktisi pendidikan Islam menilai bahwa keteladanan orang tua menjadi faktor utama. Anak akan sulit disiplin jika melihat orang tua menggunakan gadget tanpa kendali. Dalam Islam, keteladanan (uswah hasanah) merupakan metode pendidikan yang paling efektif.
Implementasi Disiplin Digital Berbasis Hadis
Disiplin digital dapat diterapkan melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten, antara lain:
- Menetapkan jadwal harian yang seimbang antara belajar, ibadah, bermain, dan istirahat;
- Membatasi durasi penggunaan gadget sesuai usia anak;
- Tidak memberikan gadget pada waktu-waktu utama seperti salat, belajar, dan waktu keluarga;
- Mendampingi anak dalam memilih konten yang bermanfaat;
- Memberikan konsekuensi yang mendidik jika aturan dilanggar.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip hadis Nabi yang mengajarkan pendidikan secara bertahap, penuh kasih sayang, namun tetap tegas.
Peran Orang Tua dan Lingkungan Sosial
Sejumlah orang tua mulai menyadari pentingnya pembatasan gadget dalam kehidupan anak. Siti Rahma , salah seorang orang tua di Yogyakarta, mengaku mulai menerapkan aturan penggunaan gadget di rumahnya.
“Awalnya anak sering marah ketika gadget dibatasi, tetapi lama-lama terbiasa. Sekarang lebih mudah diajak belajar dan berkomunikasi,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa konsistensi orang tua dalam menerapkan aturan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan disiplin anak.
Baca Juga: Fenomena Anak dalam Gadgetnya dan Hilangnya Interaksi Sosial pada Anak
Peran Mahasiswa di Kampus dalam Relevansi Hadis dalam Pendidikan Anak Era Digital
Sebagai mahasiswa Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga, Ummi Khoiriah HSB S.Pd, menilai bahwa kajian hadis memiliki relevansi tinggi dalam menjawab tantangan pengasuhan modern.
Melalui mata kuliah Studi Hadis yang dibimbing oleh Dr. Nur Hidayat, mahasiswa diajak mengaitkan teks hadis dengan realitas sosial yang berkembang di masyarakat.
“Hadis Nabi tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga aplikatif. Nilai disiplin, tanggung jawab, dan konsistensi sangat dibutuhkan dalam mendidik anak di tengah arus teknologi digital,” kata bapak Dr. Nur Hidayat.
Ia menegaskan bahwa gadget tidak perlu dijauhi, tetapi harus dikelola dengan disiplin yang baik. Dengan menerapkan prinsip pendidikan Rasulullah SAW, orang tua dapat membentuk karakter anak yang mampu mengendalikan diri, bertanggung jawab, serta tetap berakhlak mulia.
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, hadis Nabi Muhammad SAW tetap menjadi sumber nilai yang relevan dan kontekstual. Prinsip disiplin yang diajarkan Islam mampu menjadi solusi dalam mengarahkan anak menggunakan gadget secara bijak.
Dengan keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan, orang tua dapat menjadikan teknologi sebagai sarana pendidikan, bukan ancaman bagi karakter anak.
Penulis:
1. Dr. Nur Hidayat, M. Ag.
Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
2. Ummi Khoiriah Hsb, S.Pd.
Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Dosen Pengampu: Dr. Nur Hidayat, M.Ag.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












