Peningkatan Ketahanan Pangan Masyarakat melalui Penerapan Sistem Irigasi Pompa Hidram di Desa Penanggungan, Kabupaten Mojokerto

Pompa Hidram
Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Desa Penanggungan, Kabupaten Mojokerto (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Ketahanan pangan desa sangat dipengaruhi oleh keberlanjutan sistem irigasi yang mampu menyediakan air secara stabil bagi lahan pertanian. Pompa hidram merupakan teknologi tepat guna yang bekerja tanpa listrik dan bahan bakar, sehingga efektif diterapkan di wilayah perbukitan dengan keterbatasan energi.

Melalui penerapan sistem irigasi pompa hidram, ketersediaan air irigasi dapat ditingkatkan secara berkelanjutan, mendukung produktivitas pertanian, serta memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan masyarakat desa.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

 

Abstrak

Keterbatasan ketersediaan air irigasi di wilayah pertanian dataran tinggi menjadi kendala utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat. Desa Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, menghadapi permasalahan distribusi air akibat kondisi geografis yang berbukit, terutama pada musim kemarau.

Artikel ini menyajikan hasil Program A1, yang merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak BEM Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, dengan tujuan memperkuat ketahanan pangan melalui penerapan sistem irigasi pompa hidram sebagai teknologi tepat guna yang berkelanjutan.

Metode pelaksanaan meliputi observasi lapangan, instalasi sistem pompa hidram, pelatihan kelompok tani, serta evaluasi dampak program. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pompa hidram mampu menaikkan air hingga ±60 meter dan mengairi lahan seluas ±6 hektar yang sebelumnya tidak produktif.

Penerapan teknologi ini menurunkan biaya operasional, meningkatkan ketersediaan air irigasi, meningkatkan kapasitas teknologi masyarakat, serta mendorong peningkatan hasil panen lada hingga ±6 ton. Secara keseluruhan, Program A1 terbukti efektif dalam meningkatkan ketahanan pangan dan kemandirian petani desa.
Kata Kunci: ketahanan pangan, pompa hidram, irigasi berkelanjutan, teknologi tepat guna, pengabdian masyarakat.

 

 Abstract

Limited irrigation water availability in upland agricultural areas poses a major challenge to agricultural productivity and community food security. Desa Penanggungan, Mojokerto Regency, experiences water distribution constraints due to its hilly topography, particularly during the dry season.

This paper presents the results of Program A1, a community service initiative conducted under the BEM Student Impact Program of Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, which aimed to enhance food security through the implementation of a hydraulic ram pump (hydram) irrigation system as an appropriate and sustainable technology.

The program involved field observation, system installation, farmer training, and impact evaluation. Results show that the hydram pump successfully lifted water to approximately ±60 meters and irrigated ±6 hectares of previously non-productive land.

The implementation reduced operational costs, increased irrigation reliability, improved community technological capacity, and enhanced agricultural productivity, with pepper yields increasing by up to ±6 tons. Overall, Program A1 demonstrated the effectiveness of sustainable irrigation technology in strengthening rural food security and farmer self-reliance.
Keywords: food security, hydraulic pumps, sustainable irrigation, appropriate technology, community services.

 

Pendahuluan

Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan pedesaan, terutama di wilayah yang menggantungkan keberlanjutan ekonomi masyarakatnya pada sektor pertanian. Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh keberlanjutan sistem produksi pertanian, khususnya terkait ketersediaan air irigasi yang stabil dan memadai (FAO, 2021).

Di Indonesia, permasalahan keterbatasan air irigasi masih banyak dijumpai di wilayah pedesaan, terutama pada daerah dataran tinggi dan perbukitan, yang berdampak pada rendahnya produktivitas pertanian dan meningkatnya kerentanan pangan masyarakat (Widodo et al., 2020).

Desa Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, merupakan salah satu wilayah dengan potensi pertanian yang cukup besar, namun kondisi topografi yang berbukit menyebabkan distribusi air irigasi tidak merata, khususnya ke lahan pertanian di dataran atas.

Pada musim kemarau, penurunan debit air semakin memperburuk kondisi lahan pertanian, sehingga sebagian lahan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Ketergantungan petani pada sistem irigasi berbasis gravitasi serta penggunaan pompa konvensional berbahan bakar atau listrik menimbulkan permasalahan tambahan berupa tingginya biaya operasional dan rendahnya efisiensi energi, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesejahteraan petani (Sutrisno & Heryani, 2019).

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa pemanfaatan teknologi tepat guna menjadi alternatif solusi yang efektif dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur irigasi di wilayah pedesaan. Teknologi tepat guna dinilai mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya lokal dengan biaya yang relatif rendah serta mudah diadaptasi oleh masyarakat (Susanto et al., 2021).

Salah satu teknologi yang relevan untuk kondisi geografis perbukitan adalah pompa hidram (hydraulic ram pump). Pompa hidram bekerja dengan memanfaatkan fenomena water hammer untuk menaikkan air ke tempat yang lebih tinggi tanpa memerlukan energi listrik maupun bahan bakar fosil, sehingga bersifat ramah lingkungan dan berkelanjutan (Yuliana et al., 2020).

Baca juga: Tiga Sumber Air yang Baik dikonsumsi

Sejumlah studi menunjukkan bahwa penerapan pompa hidram mampu meningkatkan luas lahan terairi, mengurangi biaya operasional pertanian, serta berkontribusi terhadap peningkatan hasil panen, terutama pada wilayah dengan keterbatasan akses energi (Prasetyo et al., 2022).

Namun demikian, keberhasilan penerapan teknologi ini tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, melainkan juga oleh tingkat pemahaman, keterampilan, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan perawatan sistem irigasi yang diterapkan.

Program pengabdian masyarakat berbasis pemberdayaan terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat serta mendorong kemandirian dalam pengelolaan sumber daya lokal (Rahmawati & Kurniawan, 2021).

Dalam konteks tersebut, Program A1 yang merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak BEM Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya dilaksanakan di Desa Penanggungan dengan fokus pada penerapan sistem irigasi pompa hidram.

Program ini dirancang sebagai upaya kolaboratif antara mahasiswa dan masyarakat untuk meningkatkan ketersediaan air irigasi, memperkuat ketahanan pangan desa, serta meningkatkan kesejahteraan petani melalui pemanfaatan teknologi irigasi yang sederhana, hemat energi, dan berkelanjutan.

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan Program A1 serta menganalisis dampaknya terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat Desa Penanggungan.

Tujuan Utama Program A1 PM-BEM 2025 secara Spesifik 

Program A1 yang merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak BEM Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya bertujuan untuk:

  1. Meningkatkan ketersediaan air irigasi bagi lahan pertanian di wilayah dataran tinggi Desa Penanggungan melalui penerapan sistem pompa hidram yang hemat energi dan berkelanjutan.
  2. Meningkatkan produktivitas dan hasil pertanian masyarakat dengan memastikan distribusi air yang lebih merata dan berkesinambungan sepanjang musim tanam.
  3. Menurunkan biaya operasional pertanian dengan menggantikan penggunaan pompa konvensional berbahan bakar atau listrik melalui teknologi pompa hidram yang ramah lingkungan.
  4. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya kelompok tani, dalam pengoperasian dan perawatan pompa hidram secara mandiri.
  5. Mendorong kemandirian dan kesejahteraan ekonomi petani melalui optimalisasi pemanfaatan lahan pertanian yang sebelumnya tidak produktif.
  6. Memperkuat ketahanan pangan desa dengan mendukung sistem pertanian yang berkelanjutan, efisien, dan adaptif terhadap kondisi musim.

 

Metode

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui Program A1 yang merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak BEM Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, dengan lokasi kegiatan di Desa Penanggungan, Kabupaten Mojokerto.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dan kolaboratif, di mana mahasiswa, perangkat desa, serta kelompok tani terlibat secara aktif dalam seluruh tahapan kegiatan. Pendekatan ini dipilih untuk memastikan bahwa teknologi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat serta dapat dikelola secara berkelanjutan setelah program berakhir.

Tahap awal kegiatan diawali dengan observasi lapangan dan komunikasi intensif dengan pemangku kepentingan desa guna memperoleh gambaran menyeluruh terkait permasalahan irigasi yang dihadapi petani.

Observasi difokuskan pada kondisi sumber mata air, perbedaan elevasi antara sumber air dan lahan pertanian, karakteristik topografi wilayah, serta sistem irigasi yang selama ini digunakan oleh masyarakat.

Selain itu, dilakukan penggalian informasi terkait pola tanam, jenis komoditas yang dibudidayakan, serta kebutuhan air tanaman, khususnya pada musim kemarau. Data hasil observasi menjadi dasar dalam menentukan kelayakan penerapan pompa hidram sebagai solusi irigasi alternatif di wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil observasi lapangan, dilakukan perancangan sistem irigasi berbasis pompa hidram dengan mempertimbangkan aspek teknis dan sosial. Perancangan meliputi penentuan titik pemasangan pompa, jalur perpipaan dari sumber air menuju lahan pertanian, serta estimasi ketinggian angkat air dan kapasitas aliran yang dibutuhkan.

Pemilihan material dan desain sistem disesuaikan dengan ketersediaan bahan di lapangan serta kemampuan masyarakat dalam melakukan perawatan.

Selanjutnya, dilakukan proses instalasi yang mencakup pembangunan bak penampung air, pemasangan pipa inlet dan outlet, serta pemasangan unit pompa hidram pada sumber mata air. Proses instalasi dilaksanakan secara gotong royong antara tim mahasiswa dan masyarakat setempat untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap sistem irigasi yang dibangun.

Setelah instalasi selesai, dilakukan uji coba sistem untuk memastikan pompa hidram dapat beroperasi dengan baik dan mampu mengalirkan air secara kontinu menuju lahan pertanian di dataran tinggi. Uji coba dilakukan dengan memantau kestabilan aliran air, tekanan pompa, serta respons sistem terhadap perubahan debit air.

Sebagai bagian dari upaya keberlanjutan, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok tani terkait prinsip kerja pompa hidram, tata cara pengoperasian, serta perawatan rutin yang perlu dilakukan. Evaluasi program dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap kinerja sistem irigasi serta perubahan aktivitas pertanian masyarakat setelah penerapan pompa hidram

 

Hasil dan Pembahasan 

Hasil pelaksanaan Program A1 menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam sistem irigasi dan aktivitas pertanian masyarakat Desa Penanggungan. Sebelum penerapan pompa hidram, sebagian besar lahan pertanian di wilayah dataran tinggi tidak memperoleh pasokan air yang memadai karena keterbatasan sistem irigasi berbasis gravitasi.

Kondisi ini menyebabkan rendahnya intensitas tanam dan membuat petani sangat bergantung pada curah hujan, terutama pada musim kemarau. Akibatnya, banyak lahan yang tidak dapat dimanfaatkan secara optimal dan produktivitas pertanian cenderung menurun.

Gambar 1: Dokumentasi dari Pompa Hidram yang mampu menaikkan air setinggi kurang lebih 60 meter dari sumber yang berada dibawah untuk lahan yang berada di atas dataran. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Setelah sistem pompa hidram diimplementasikan, air dari sumber mata air di dataran bawah berhasil dialirkan secara berkelanjutan menuju lahan pertanian dengan ketinggian angkat sekitar ±60 meter. Sistem ini mampu mengairi lahan pertanian seluas ±6 hektar yang sebelumnya tidak produktif.

Ketersediaan air yang lebih stabil memberikan dampak positif terhadap pola tanam masyarakat, di mana petani mulai dapat mengatur waktu tanam dengan lebih baik serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan sepanjang tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa pompa hidram efektif digunakan sebagai solusi irigasi pada wilayah perbukitan dengan keterbatasan akses energi.

Peningkatan ketersediaan air irigasi berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian, khususnya pada komoditas lada yang menjadi salah satu tanaman utama masyarakat. Dengan suplai air yang lebih terjamin, sekitar 6.000 tanaman lada memperoleh air secara lebih teratur, sehingga fase pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman dapat berlangsung secara optimal.

Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, potensi hasil panen mengalami peningkatan yang signifikan dengan estimasi produksi mencapai ±6 ton. Peningkatan ini menunjukkan bahwa keberadaan sistem irigasi yang berkelanjutan menjadi faktor penting dalam mendukung peningkatan hasil pertanian dan ketahanan pangan di tingkat desa.

Tabel 1: Peningkatan Hasil Panen

Dari sisi ekonomi, penerapan pompa hidram memberikan dampak positif terhadap efisiensi biaya produksi pertanian. Penggunaan pompa hidram yang tidak memerlukan bahan bakar maupun listrik mampu mengurangi biaya operasional yang sebelumnya harus dikeluarkan petani untuk mengairi lahan.

Penurunan biaya ini berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan petani dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Selain itu, bertambahnya luas lahan yang dapat diolah turut meningkatkan potensi produksi pertanian desa, sehingga memberikan dampak lanjutan terhadap perputaran ekonomi lokal.

Gambar 2: Dokumentasi tentang Pengarahan dan Pelatihan untuk Penggunaan, Cara Kerja, serta Maintenance Pompa Hidram. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 3: Dokumentasi tentang Pengarahan dan Pelatihan untuk Penggunaan, Cara Kerja, serta Maintenance Pompa Hidram. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Selain dampak teknis dan ekonomi, Program A1 juga memberikan kontribusi dalam peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat. Melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan, masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai prinsip kerja serta perawatan pompa hidram.

Masyarakat tidak hanya berperan sebagai pengguna, tetapi juga mampu melakukan perawatan rutin dan penanganan permasalahan teknis sederhana secara mandiri.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan pengabdian masyarakat berbasis partisipasi efektif dalam mendorong keberlanjutan penerapan teknologi tepat guna serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya inovasi ramah lingkungan dalam mendukung pertanian berkelanjutan

Gambar 2 dokumentasi tentang pengarahan dan pelatihan untuk penggunaan pompa hidram, cara kerja, serta , maintenance pompa hidram.

 

Kesimpulan

Pelaksanaan program pengabdian masyarakat melalui PM-BEM Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di Desa Penanggungan telah berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tanggap bencana masyarakat secara signifikan.

Hasil pretest dan posttest menunjukkan bahwa sosialisasi dan pelatihan yang dilaksanakan mampu menyamakan pemahaman masyarakat tentang tanda awal bencana serta meningkatkan kesiapsiagaan secara menyeluruh. Keberhasilan ini didukung oleh pemetaan lokasi rawan bencana, pemasangan media informasi kebencanaan yang strategis, serta pelibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan.

Program ini tidak hanya memberikan dampak positif secara teknis melalui peningkatan kapasitas individu dan kelompok relawan, tetapi juga menumbuhkan budaya sadar bencana yang berbasis gotong royong dan solidaritas sosial. Hal ini sangat penting sebagai fondasi ketangguhan komunitas menghadapi bencana yang kompleks dan berulang.

Keberlanjutan program perlu dijaga dengan rutin melakukan monitoring dan pembaruan materi pelatihan agar masyarakat senantiasa siap menghadapi ancaman bencana serta mendukung pelestarian lingkungan dan pengembangan pariwisata berkelanjutan di desa.

Rekomendasi ke depan adalah memperluas cakupan sosialisasi ke desa-desa rawan lainnya dengan menyesuaikan strategi pendekatan dan sarana informasi sesuai karakteristik lokal. Selain itu, penguatan kelembagaan lokal seperti pengembangan kelompok relawan yang mandiri dan sinergi dengan pemerintah desa serta instansi terkait akan memperkokoh upaya mitigasi bencana secara berkelanjutan.

Dengan demikian, keberhasilan program ini dapat menjadi contoh praktik terbaik yang dapat direplikasi di wilayah lain, membantu mewujudkan masyarakat desa hutan yang mandiri, tahan bencana, dan sejahtera.

 

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya atas dukungan dan fasilitasi pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak Program A1.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (DIKTI SAINTEK) atas dukungan kebijakan dan pendanaan yang memungkinkan terlaksananya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini.

Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Desa Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, serta kelompok tani setempat atas partisipasi aktif dan kerja sama yang baik selama proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan.

Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penerapan sistem irigasi pompa hidram, sehingga program ini dapat memberikan manfaat nyata dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat desa.

 

Referensi

  1. (2021). The State of Food Security and Nutrition in the World 2021. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
  2. Prasetyo, A., Nugroho, S., & Wibowo, R. (2022). Penerapan pompa hidram sebagai solusi irigasi berkelanjutan di daerah perbukitan. Jurnal Irigasi, 17(2), 85–94.
  3. Rahmawati, D., & Kurniawan, A. (2021). Pemberdayaan masyarakat melalui program pengabdian berbasis teknologi tepat guna. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1), 45–53.
  4. Susanto, H., Prabowo, D., & Lestari, S. (2021). Teknologi tepat guna dalam pengelolaan sumber daya air pedesaan. Jurnal Teknologi Terapan, 8(3), 120–129.
  5. Sutrisno, N., & Heryani, N. (2019). Pengelolaan air irigasi untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Jurnal Sumberdaya Lahan, 13(2), 73–84.
  6. Widodo, S., Handayani, T., & Putra, R. (2020). Tantangan ketahanan pangan di wilayah pedesaan Indonesia. Jurnal Pangan, 29(1), 1–10.
  7. Yuliana, R., Firmansyah, A., & Hakim, L. (2020). Kinerja pompa hidram pada sistem irigasi lahan pertanian dataran tinggi. Jurnal Teknik Pertanian Lampung, 9(2), 101–109.

 


Penulis:

  1. Miftakhul Alifia
  2. Gusti M. Mufid Daffa A
  3. Eka Widian Maulana
  4. Fajar Dwi Priyanto

Mahasiswa Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya


Dosen Pengampu:

  1. Ar. Febby Rahmatullah Masruchin, S.T., M.T., IAI,
  2. Ir. Moh. Nor Ali Aziz, S.T., M.T.
  3. Handy Febri Satoto, S.T., M.T.

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses