Mendidik Anak Cinta Lingkungan: Mendesak tapi Mengapa Masih Gagal?

cara mendidik anak yang baik
Mendidik Anak Cinta Lingkungan: Mendesak tapi Mengapa Masih Gagal? Sumber; MMI.

Bayangkan seorang anak kelas 5 SD yang hafal di luar kepala bahwa membuang sampah sembarangan merusak lingkungan—lalu di menit berikutnya ia melempar bungkus jajan ke got tanpa rasa bersalah. Aneh? Tidak juga. Itulah potret nyata yang sering kita temui di sekolah-sekolah Indonesia. Anak tahu, tapi tidak melakukan. Pengetahuan ada, tapi kepedulian tidak tumbuh.

Inilah inti persoalan pendidikan lingkungan di Indonesia hari ini. Bukan soal kurangnya informasi—anak-anak kita sudah menerima banyak materi tentang lingkungan di sekolah. Masalahnya ada pada jarak yang sangat lebar antara pengetahuan dan tindakan nyata. Dan selama jarak itu tidak dijembatani, krisis lingkungan yang kita hadapi tidak akan pernah benar-benar terselesaikan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Indonesia menghasilkan sekitar 68,5 juta ton sampah per tahun menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK, 2022). Lebih dari 30% di antaranya tidak terkelola dengan baik. Sungai-sungai kita kotor, pantai-pantai dipenuhi plastik, dan kualitas udara di kota besar terus memburuk. Semua ini bukan terjadi tiba-tiba—ia adalah akumulasi dari generasi yang tidak dididik untuk benar-benar peduli pada lingkungan.

Krisis Lingkungan yang Tidak Bisa Lagi Ditunda

Masalah lingkungan di Indonesia bukan sekadar sampah di jalanan. Ia jauh lebih dalam dari itu. Data KLHK (2022) menunjukkan bahwa laju deforestasi Indonesia masih mencapai ratusan ribu hektar per tahun. Sementara itu, laporan jurnal Science yang dikutip luas oleh berbagai lembaga internasional menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.

Di tingkat global, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dalam laporannya tahun 2023 memperingatkan bahwa suhu bumi bisa melampaui batas kritis 1,5 derajat Celsius dalam waktu kurang dari satu dekade jika tidak ada perubahan perilaku yang mendasar dari seluruh umat manusia. Generasi yang sedang duduk di bangku sekolah hari ini adalah generasi yang akan menanggung akibatnya—dan juga generasi yang paling bisa mengubahnya, jika dididik dengan benar.

Survei BPS dalam Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (2021) mengungkap fakta yang memprihatinkan: hanya sekitar 40% rumah tangga yang melakukan pemilahan sampah secara rutin. Artinya, 60% keluarga Indonesia—tempat di mana anak-anak belajar kebiasaan pertama kali—belum memberi teladan yang baik soal kepedulian lingkungan. Masalah ini benar-benar bermula dari rumah.

Baca Juga: Cara Mendidik Anak di Zaman Sekarang

Mengapa Harus Dimulai dari Anak-Anak?

Ada alasan ilmiah yang sangat kuat mengapa pendidikan lingkungan harus dimulai sejak usia dini. Jean Piaget, salah satu psikolog perkembangan paling berpengaruh di dunia, menjelaskan bahwa anak usia 2 hingga 7 tahun berada dalam tahap pra-operasional—masa di mana mereka sangat mudah menyerap nilai, kebiasaan, dan cara memandang dunia dari lingkungan sekitarnya. Apa yang terbiasa dilakukan anak pada usia ini cenderung melekat kuat dan bertahan hingga dewasa.

Penelitian Louise Chawla (1998) yang sudah menjadi referensi klasik dalam kajian pendidikan lingkungan membuktikan bahwa pengalaman positif dengan alam pada masa kecil punya pengaruh yang sangat kuat terhadap kepedulian lingkungan di masa dewasa. Orang-orang yang saat kecil pernah berkebun bersama orang tua, bermain di sungai yang bersih, atau merawat hewan peliharaan terbukti lebih komit menjaga lingkungan saat dewasa dibanding mereka yang tidak punya pengalaman serupa.

Julie Ernst (2007) melengkapi temuan ini dengan menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman langsung jauh lebih efektif dalam membentuk sikap peduli lingkungan dibandingkan pembelajaran teori di kelas. Anak yang diajak menanam pohon dan merawatnya setiap hari akan jauh lebih memahami arti menjaga alam daripada anak yang hanya menghafal definisi ekosistem untuk ujian.

Insight yang penting untuk dipahami: kita tidak sedang mendidik anak untuk lulus mata pelajaran IPA. Kita sedang membentuk manusia yang punya ikatan emosional dengan bumi tempat mereka hidup. Dan ikatan itu hanya bisa tumbuh melalui pengalaman langsung—bukan dari buku teks.

Kurikulum Kita: Sudah Serius soal Lingkungan?

Secara formal, pendidikan lingkungan sudah masuk ke dalam kurikulum Indonesia. Ada materi ekosistem di pelajaran IPA, ada program Adiwiyata yang mendorong sekolah berwawasan lingkungan, dan ada berbagai kegiatan seperti piket kelas dan kerja bakti. Tapi jika kita jujur—apakah semua itu sudah cukup?

Data KLHK (2022) menunjukkan bahwa baru sekitar 15.000 sekolah dari total lebih dari 400.000 satuan pendidikan di Indonesia yang berhasil meraih sertifikasi Adiwiyata. Itu berarti hanya sekitar 3,7% sekolah yang benar-benar menerapkan pendidikan lingkungan secara terstruktur. Lebih dari 96% sekolah lainnya masih berjalan tanpa standar pendidikan lingkungan yang jelas.

UNESCO melalui program Education for Sustainable Development (ESD) sudah lama menekankan bahwa pendidikan lingkungan yang efektif harus mencakup tiga hal sekaligus: pengetahuan, sikap, dan tindakan. Bukan hanya satu atau dua di antaranya. Selama kurikulum kita hanya menyentuh level pengetahuan tanpa benar-benar membentuk sikap dan mendorong tindakan nyata, hasilnya akan terus sama: anak tahu tapi tidak peduli.

Lima Masalah Nyata yang Membuat Pendidikan Lingkungan Tidak Berjalan

Ada setidaknya lima hambatan nyata yang membuat pendidikan lingkungan di Indonesia tidak berjalan optimal. Pertama, sekolah terlalu berorientasi pada nilai akademik. Sistem pendidikan kita masih menempatkan nilai ujian sebagai ukuran utama keberhasilan—akibatnya, pendidikan karakter termasuk kepedulian lingkungan selalu jadi prioritas kedua.

Kedua, kurikulum masih terpecah-pecah. Materi lingkungan muncul hanya di mata pelajaran tertentu tanpa sambungan yang jelas antar mata pelajaran. Akibatnya, siswa tidak pernah mendapat gambaran yang utuh tentang isu lingkungan—mereka melihat potongan puzzle tapi tidak bisa melihat gambar besarnya.

Ketiga, banyak guru yang belum siap. Tidak semua guru punya pemahaman yang cukup tentang cara mengajarkan kepedulian lingkungan secara efektif. Data Kementerian Agama RI (2022) menunjukkan bahwa pelatihan guru tentang pendidikan karakter—termasuk karakter peduli lingkungan—masih sangat terbatas jangkauannya.

Keempat, pembelajaran masih terlalu teoritis. Anak diminta membaca dan menghafalkan—bukan mengalami dan merasakan. Sementara Evans et al. (2018) dalam jurnal Environment and Behavior sudah membuktikan bahwa anak yang punya pengalaman langsung dengan alam memiliki tingkat empati ekologis yang jauh lebih tinggi.

Kelima, sekolah dan keluarga tidak berjalan berdampingan. Nilai yang diajarkan di sekolah sering kali tidak diperkuat di rumah. Ketika anak sudah belajar memilah sampah di sekolah tapi di rumah tidak ada tempat sampah yang dibedakan—pelajaran itu luntur begitu saja. Tilbury (2011) menegaskan bahwa pendidikan lingkungan hanya akan berhasil jika aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik bekerja bersama—dan itu butuh sinergi antara sekolah dan keluarga.

Baca Juga: PAUD yang Terlalu Sibuk Mengajar, tapi Lupa Mendidik Emosi

Peran Keluarga yang Tidak Bisa Digantikan

Albert Bandura lewat teori Social Learning menjelaskan bahwa anak-anak belajar terutama dengan meniru orang-orang di sekitar mereka. Orang tua adalah guru pertama dan paling berpengaruh dalam hidup seorang anak. Jika di rumah orang tua terbiasa membuang sampah sembarangan, memboroskan air, atau mengabaikan kebersihan lingkungan—itulah yang anak anggap sebagai perilaku normal.

Sebaliknya, keluarga yang secara konsisten mempraktikkan pola hidup ramah lingkungan—memilah sampah, menghemat listrik dan air, menanam tanaman di rumah, mendaur ulang barang bekas—akan secara alami membentuk anak-anak yang peduli lingkungan. Bukan karena disuruh. Tapi karena itu yang mereka lihat dan rasakan setiap hari.

Ibu memiliki peran yang sangat strategis—sebagai pendidik, teladan, dan motivator utama di rumah. Namun peran ayah tidak kalah penting. Ketika kedua orang tua satu suara dan satu tindakan dalam hal kepedulian lingkungan, pesan yang diterima anak menjadi konsisten dan kuat. Keluarga adalah tempat di mana kepedulian lingkungan pertama kali bisa—atau justru gagal—tumbuh.

Perspektif Iman: Menjaga Alam adalah Ibadah

Dalam iman Kristen, merawat lingkungan bukan sekadar kewajiban moral—ia adalah panggilan ilahi. Kejadian 2:15 mencatat bahwa Allah menempatkan manusia di taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Kata “memelihara” dalam bahasa Ibrani adalah shamar—yang berarti menjaga, melindungi, dan merawat dengan penuh tanggung jawab. Manusia bukan penguasa bumi—manusia adalah penjaga yang diberi amanat.

Mengajarkan anak untuk mencintai dan merawat lingkungan, dalam kerangka ini, adalah bagian dari pendidikan karakter yang takut akan Tuhan. Anak yang belajar menghargai ciptaan Allah akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab—tidak hanya terhadap alam, tetapi juga terhadap sesama dan Sang Pencipta.

Maria Montessori, yang pendekatan pendidikannya kini diterapkan di ratusan negara, meyakini bahwa anak memiliki hubungan batin yang alami dengan alam. Ia menyarankan agar anak-anak diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinteraksi langsung dengan alam—berkebun, mengamati serangga, merasakan tanah di tangan mereka. Pengalaman itu, katanya, adalah cara terbaik menumbuhkan rasa cinta dan tanggung jawab yang tidak bisa diajarkan hanya lewat kata-kata.

Apa yang Harus Berubah Sekarang?

Perubahan nyata butuh langkah yang konkret, bukan hanya wacana. Pertama, kurikulum harus direformasi agar pendidikan lingkungan tidak lagi jadi sisipan di mata pelajaran tertentu—ia harus menjadi nilai yang mengaliri seluruh proses pembelajaran, dari cara guru mengajar hingga cara sekolah dikelola.

Kedua, metode pembelajaran harus bergeser dari menghafal ke mengalami. Kegiatan menanam pohon, mendaur ulang barang bekas, berkunjung ke tempat pengelolaan sampah, atau memantau kualitas air sungai terdekat adalah contoh pembelajaran yang membentuk empati ekologis secara nyata. Ketiga, guru perlu mendapat pelatihan yang memadai—bukan hanya tentang isi materi lingkungan, tetapi tentang bagaimana menghidupkan nilai kepedulian lingkungan di dalam kelas.

Keempat, program Adiwiyata perlu diperluas secara agresif—bukan hanya untuk 3,7% sekolah, tetapi menjadi standar bagi seluruh satuan pendidikan di Indonesia. Dan kelima, keluarga harus dilibatkan secara aktif—melalui program literasi lingkungan keluarga, pelatihan parenting berbasis nilai lingkungan, dan kampanye yang menjangkau langsung ke rumah-rumah.

Baca Juga: Krisis Literasi Lingkungan pada Anak: Ketika Peduli Lingkungan Tidak lagi Jadi Kebiasaan

Kesimpulan

Pendidikan lingkungan pada anak bukan sekadar agenda pendidikan—ini adalah soal kelangsungan hidup. Data KLHK, IPCC, BPS, dan berbagai penelitian dari Chawla, Ernst, Evans, hingga Tilbury semuanya menunjuk ke satu arah yang sama: generasi yang peduli lingkungan tidak lahir begitu saja. Mereka dibentuk—oleh pengalaman, keteladanan, dan lingkungan yang mendukung sejak kecil.

Masalah terbesarnya bukan pada kurangnya pengetahuan—tapi pada sistem yang tidak berhasil mengubah pengetahuan menjadi kepedulian dan tindakan nyata. Kurikulum yang terpecah-pecah, guru yang kurang siap, pembelajaran yang terlalu teoritis, dan keluarga yang tidak terlibat adalah hambatan yang harus diatasi bersama-sama.

Tiga pilar harus bergerak bersama: sekolah yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan secara menyeluruh, keluarga yang memberi teladan nyata setiap hari, dan kebijakan pemerintah yang mendukung dan mengawasi secara serius. Jika ketiga pilar ini bekerja searah, kita tidak hanya mendidik anak untuk tidak membuang sampah sembarangan—kita sedang membentuk generasi penjaga bumi.

Seperti yang diyakini Montessori, setiap anak lahir dengan rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia. Tugas kita—sebagai orang tua, pendidik, dan masyarakat—adalah memastikan rasa ingin tahu itu tumbuh menjadi rasa cinta, dan rasa cinta itu tumbuh menjadi tanggung jawab. Karena bumi yang kita titipkan kepada generasi berikutnya adalah cermin dari pendidikan yang kita berikan hari ini.


Penulis: Repli Lumban Tobing (NIM: 202402012)
Mahasiswa Pendidikan Agama Kristen STT Bethel Medan


Dosen Pengampu: Renny Maria, M.Pd.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses