Krisis Literasi Lingkungan pada Anak: Ketika Peduli Lingkungan Tidak lagi Jadi Kebiasaan

literasi lingkungan sehat
Krisis Literasi Lingkungan pada Anak: Ketika Peduli Lingkungan Tidak lagi Jadi Kebiasaan. Sumber: MMI.

Pernahkah kamu melihat seorang anak dengan santai membuang bungkus permen di jalanan, lalu orang tuanya hanya diam saja? Atau mungkin kamu pernah masuk ke toilet umum yang penuh coretan dan bau tidak sedap, padahal di sana ada tulisan besar: Jagalah Kebersihan?

Pemandangan seperti ini bukan lagi hal yang mengejutkan di Indonesia. Kita sudah terlalu terbiasa melihatnya—dan justru di situlah letak masalah terbesarnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Indonesia menghadapi krisis yang tidak banyak dibicarakan: krisis literasi lingkungan pada anak. Bukan berarti anak-anak tidak tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu salah.

Mereka tahu. Masalahnya, pengetahuan itu tidak berubah menjadi kebiasaan dan kepedulian yang nyata. Dan itu bukan semata-mata kesalahan anak—itu adalah cerminan dari bagaimana kita mendidik mereka.

Padahal, konstitusi kita sudah bicara jelas. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menegaskan bahwa negara, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan berkewajiban menjaga lingkungan demi keberlangsungan hidup. Kewajiban itu termasuk mendidik generasi berikutnya untuk mencintai dan merawat bumi yang mereka tinggali.

Seberapa Parah Kondisi Lingkungan Kita Hari ini?

Angkanya sangat mengkhawatirkan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 68,5 juta ton sampah per tahun pada 2022—dan lebih dari 30% di antaranya tidak terkelola dengan baik. Sungai-sungai kita tercemar, pantai-pantai dipenuhi plastik, dan kualitas udara di kota-kota besar terus memburuk.

Indonesia bahkan masuk dalam daftar negara penghasil sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok, berdasarkan laporan jurnal Science (2015) yang dikutip ulang oleh berbagai lembaga internasional hingga hari ini.

Ini bukan prestasi yang membanggakan. Dan akar dari semua ini, salah satunya, adalah kurangnya kepedulian lingkungan yang tidak tertanam sejak kecil.

Survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (2021) menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah masih sangat rendah.

Hanya sekitar 40% rumah tangga yang melakukan pemilahan sampah secara rutin. Itu artinya, 60% keluarga di Indonesia—tempat di mana anak-anak belajar kebiasaan pertama kali—belum menjadi contoh yang baik dalam hal kepedulian lingkungan.

Baca Juga: Mahasiswa KKN UPI: Literasi Hidup Sehat di Lingkungan SDN Ujung Menteng 01 Pagi sebagai Bentuk Antisipasi Terjangkit Penyakit

Apa itu Literasi Lingkungan dan Mengapa Penting untuk Anak?

Literasi lingkungan bukan sekadar tahu bahwa bumi sedang rusak. Menurut North American Association for Environmental Education (NAAEE), literasi lingkungan mencakup tiga hal: pengetahuan tentang lingkungan, sikap peduli terhadap lingkungan, dan yang paling penting—tindakan nyata untuk menjaganya.

Anak yang benar-benar literat secara lingkungan bukan hanya anak yang bisa menjelaskan apa itu pemanasan global, tetapi anak yang secara otomatis memungut sampah saat melihatnya berserakan.

Mengapa harus dimulai dari anak-anak? Karena usia dini adalah jendela emas pembentukan karakter. Jean Piaget, ahli psikologi perkembangan terkemuka, menjelaskan bahwa anak usia 2 hingga 7 tahun berada dalam tahap pra-operasional—masa di mana mereka sangat mudah menyerap nilai dan kebiasaan dari lingkungan sekitarnya.

Apa yang terbiasa dilakukan pada masa ini akan sangat sulit dihapus di kemudian hari. Kebiasaan baik yang ditanam di usia ini adalah investasi seumur hidup.

Sebuah insight yang sering terabaikan: banyak program pendidikan lingkungan di Indonesia berhenti pada level pengetahuan.

Anak diajarkan fakta tentang kerusakan lingkungan, tetapi tidak diajak merasakan keterikatan emosional dengan alam dan tidak dibiasakan bertindak nyata. Akibatnya, pengetahuan lingkungan ada di kepala, tapi tidak pernah turun ke tangan dan kaki.

Keluarga: Sekolah Pertama Kepedulian Lingkungan

Tidak ada tempat yang lebih berpengaruh dalam membentuk karakter anak daripada rumah. Albert Bandura, psikolog terkenal yang mencetuskan teori Social Learning, menjelaskan bahwa anak-anak belajar terutama melalui observasi dan imitasi—mereka meniru apa yang mereka lihat dilakukan oleh orang-orang yang paling dekat dengan mereka.

Jika orang tua membuang sampah pada tempatnya, anak akan menganggap itu normal. Jika orang tua memisahkan sampah organik dan anorganik, anak akan menganggap itu kebiasaan yang wajar.

Penelitian yang dilakukan Rahmadiani (2021) membuktikan bahwa anak-anak yang orang tuanya secara konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di rumah cenderung memiliki perilaku serupa.

Bukan karena mereka diceramahi—tetapi karena mereka melihat dan merasakannya setiap hari. Teladan lebih kuat dari seribu kata.

Ibu memiliki peran yang sangat strategis dalam hal ini. Namun, ayah juga tidak kalah penting. Kepedulian lingkungan yang ditanamkan secara bersama-sama oleh kedua orang tua menciptakan lingkungan rumah yang konsisten—di mana anak tidak mendapat pesan yang bertentangan.

Baca Juga: TANIKU: Mahasiswa PMM UMM Tanamkan Cinta Lingkungan dan Kesehatan dengan Menanam Toga di TK Dahlia 01 Batu

Ketika ibu menyuruh anak membuang sampah pada tempatnya, tetapi ayah membiarkan sampah berserakan, anak menjadi bingung dan tidak tahu mana yang harus ditiru.

Cara-cara sederhana yang bisa dilakukan keluarga sangat banyak. Mengajak anak bersama-sama membereskan mainan yang berserakan, memilah sampah sebelum dibuang, menanam tanaman di pot kecil, atau menghemat air saat mencuci tangan—semuanya adalah pelajaran lingkungan yang jauh lebih berkesan daripada teori di buku teks.

Sekolah: Sudahkah Benar-Benar Mendidik Kepedulian Lingkungan?

Di atas kertas, pendidikan lingkungan hidup sudah masuk ke dalam kurikulum Indonesia. Ada mata pelajaran IPA yang membahas ekosistem, ada program Adiwiyata yang mendorong sekolah berwawasan lingkungan, dan ada berbagai kegiatan seperti piket kelas dan kerja bakti. Tapi apakah semua itu cukup?

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2022 mencatat bahwa baru sekitar 15.000 sekolah dari total lebih dari 400.000 satuan pendidikan di Indonesia yang berhasil meraih sertifikasi program Adiwiyata.

Artinya, hanya sekitar 3,7% sekolah yang benar-benar menerapkan pendidikan lingkungan secara terstruktur dan terukur. Selebihnya? Kebersihan lingkungan sekolah masih sering bergantung pada petugas kebersihan, bukan pada kesadaran seluruh warga sekolah.

John Dewey, filosof pendidikan yang sangat berpengaruh, sudah lama menegaskan prinsip learning by doing—belajar paling efektif terjadi ketika anak terlibat langsung dalam pengalaman nyata.

Anak yang diajak memilah sampah di sekolah, membuat pot dari botol bekas, atau merawat kebun sekolah akan jauh lebih memahami arti menjaga lingkungan dibandingkan anak yang hanya menghafal definisi ekosistem untuk ujian.

Guru juga memegang peran kunci yang tidak bisa diremehkan. Yuniar (2021) menemukan bahwa motivasi dari orang-orang dewasa yang dipercaya anak—termasuk guru—berperan sangat signifikan dalam membentuk perilaku positif anak.

Pujian sederhana dari guru ketika anak membuang sampah pada tempatnya lebih bermakna daripada poster motivasi yang terpasang di dinding kelas.

Baca Juga: Meningkatkan Kesehatan dan Kebersihan Anak Usia Dini melalui GEMITIK: Mahasiswa PMM UMM Laksanakan Edukasi Mencuci Tangan Cantik di TK Dahlia 01 Batu

Mindset yang Perlu Diubah: Kebersihan Bukan Tugas Orang Lain

Ada satu masalah mendasar yang jarang diakui: banyak orang Indonesia—dewasa maupun anak-anak—masih berpikir bahwa urusan kebersihan dan lingkungan adalah tugas petugas kebersihan, tukang sapu, atau orang yang dibayar untuk itu. Bukan tanggung jawab pribadi.

Pola pikir ini berbahaya—dan ia diwariskan dari generasi ke generasi. Lawrence Kohlberg, ahli perkembangan moral, menjelaskan bahwa nilai-nilai moral yang tertanam kuat melalui pengalaman berulang dalam keluarga dan lingkungan akan menjadi standar perilaku seseorang seumur hidup.

Jika sejak kecil anak melihat bahwa membuang sampah sembarangan tidak ada konsekuensinya—bahkan dianggap wajar—maka nilai itu akan terinternalisasi dan sangat sulit diubah saat dewasa.

Inilah mengapa pendidikan karakter peduli lingkungan tidak bisa hanya menjadi slogan di dinding sekolah. Ia harus menjadi nilai yang hidup—yang terlihat dalam cara orang tua dan guru berperilaku setiap hari, yang terasa dalam aturan yang ditegakkan secara konsisten, dan yang dialami langsung oleh anak melalui kegiatan nyata.

Perspektif Iman: Merawat Bumi adalah Ibadah

Dalam tradisi iman Kristen, merawat lingkungan bukan sekadar kewajiban moral—ia adalah respons terhadap mandat ilahi.

Kejadian 2:15 mencatat bahwa Allah menempatkan manusia di taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Kata “memelihara” dalam bahasa Ibrani adalah shamar—yang berarti menjaga, melindungi, dan merawat dengan penuh tanggung jawab.

Mengajarkan anak untuk peduli lingkungan, dalam kerangka iman ini, adalah bagian dari pembentukan karakter yang takut akan Tuhan.

Anak yang belajar menghargai ciptaan Allah akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab—bukan hanya terhadap lingkungan fisik, tetapi juga terhadap sesama manusia dan kehidupan sosialnya.

Maria Montessori, pendidik besar yang pendekatan pendidikannya kini diterapkan di ratusan negara, meyakini bahwa anak memiliki hubungan batin yang alami dengan alam.

Ia menyarankan agar anak-anak diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinteraksi langsung dengan alam—berkebun, mengamati serangga, merasakan tanah di tangan mereka. Pengalaman langsung dengan alam, katanya, adalah cara terbaik menumbuhkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Baca Juga: Peran Mahasiswa dalam Mengembangkan Kesadaran Sosial dan Lingkungan pada Anak SD

Langkah Nyata yang Bisa Dilakukan Mulai Sekarang

Membangun literasi lingkungan pada anak tidak membutuhkan program mewah atau anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dan keterlibatan nyata dari semua pihak. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa langsung diterapkan.

Di rumah, orang tua bisa mulai dengan hal-hal kecil: memilah sampah bersama anak, mematikan lampu saat keluar ruangan, menyiram tanaman, atau membuat kerajinan dari barang bekas. Ini bukan hanya pelajaran lingkungan—ini adalah waktu berkualitas bersama anak yang sekaligus membentuk karakter mereka.

Di sekolah, guru bisa menerapkan sistem piket yang konsisten, menyediakan tempat sampah yang cukup di setiap sudut kelas dan halaman, dan memberikan penghargaan nyata bagi anak yang menunjukkan kepedulian lingkungan.

Kreativitas dalam pembelajaran—seperti membuat tas dari bungkus kemasan bekas atau pot dari botol plastik—membuat anak belajar tentang daur ulang sambil bersenang-senang.

Di tingkat kebijakan, pemerintah perlu memperluas program Adiwiyata agar tidak hanya menjangkau 3,7% sekolah, tetapi menjadi standar bagi seluruh satuan pendidikan di Indonesia.

Pendidikan lingkungan hidup perlu diperkuat bukan hanya sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi sebagai nilai yang diintegrasikan ke dalam seluruh aspek kehidupan sekolah.

Kesimpulan

Krisis literasi lingkungan pada anak di Indonesia adalah masalah nyata yang dampaknya sudah kita rasakan setiap hari—dalam tumpukan sampah di pinggir jalan, sungai yang kotor, dan udara yang semakin tidak sehat. Data KLHK, BPS, dan berbagai penelitian membuktikan bahwa ini bukan persoalan kecil yang bisa dibiarkan.

Akar masalahnya bukan pada kurangnya pengetahuan—anak-anak kita sudah tahu bahwa lingkungan harus dijaga. Akar masalahnya ada pada jarak antara tahu dan melakukan.

Dan jarak itu hanya bisa dijembatani oleh keteladanan nyata dari orang tua dan guru, kebiasaan yang dibangun secara konsisten sejak dini, serta lingkungan belajar yang mendukung.

Tiga pilar yang harus bekerja bersama adalah keluarga sebagai sekolah pertama, sekolah sebagai ruang praktik nyata, dan masyarakat luas termasuk lembaga keagamaan sebagai lingkungan yang memperkuat nilai-nilai tersebut.

Jika ketiga pilar ini bekerja searah, kita bukan hanya mendidik anak untuk membuang sampah pada tempatnya—kita sedang membentuk generasi penjaga bumi.

Generasi yang mencintai lingkungan tidak lahir dari satu kampanye atau satu mata pelajaran. Ia lahir dari keluarga yang setiap harinya hidup dengan penuh tanggung jawab terhadap bumi yang Tuhan titipkan kepada kita.


Penulis: Adinda Debora Simbolon (NIM: 202402001)
Mahasiswa Pendidikan Agama Kristen STT Bethel Medan


Dosen Pengampu: Renny Maria, M.Pd.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses