Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi. Selain menyediakan berbagai nutrisi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan, ASI juga mengandung antibodi yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit sejak awal kelahiran.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar bayi mulai disusui sejak satu jam pertama setelah kelahiran dan mendapatkan ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya.
Menyusui merupakan proses alami yang sangat penting untuk tumbuh kembang bayi. Aktivitas ini tidak hanya berdampak positif bagi bayi, tetapi juga bagi ibu, seperti membantu mempercepat pemulihan setelah persalinan, mengurangi risiko perdarahan, serta membantu rahim kembali ke ukuran normal.
Namun, agar manfaat tersebut dapat diperoleh secara optimal, ibu perlu mengetahui teknik menyusui yang tepat. Lalu bagaimana cara menyusui yang tepat sehingga anak dapat menerima nutrisi dengan optimal?
1. Perlekatan
Perlekatan merupakan cara menempelnya mulut bayi di payudara ibu. Posisi perlekatan dapat mempengaruhi jumlah ASI yang dapat dihisap oleh bayi, jumlah produksi ASI oleh kelenjar susu ibu, kejadian tersedak hingga terjadinya lecet pada bagian puting.
Posisi perlekatan yang tepat terdiri dari 4 komponen utama yang bisa disebut CALM. Pertama, C atau chin memiliki arti bahwa dagu bayi harus menempel di bagian payudara ibu. Posisi dagu yang menempel ini memiliki fungsi agar kepala bayi agak mendongak dan hidung tidak tertutup payudara sehingga bayi tidak kehabisan napas.
Kedua, A atau areola memiliki arti bahwa saat menyusu sebaiknya bagian areola (bagian kehitaman di sekitar puting) masuk secara sempurna ke mulut bayi. Apabila areola masuk ke mulut bayi, kejadian tersedak dapat lebih diminimalisir.
Ketiga, L atau lips menunjukkan bahwa bibir bayi harus terlipat keluar atau “dobleh”. Kondisi bibir yang seperti ini bertujuan agar bayi menghisap pada areola bukan pada puting sehingga puting ibu tidak pecah.
Yang terakhir adalah M atau mouth yang berarti mulut bayi harus terbuka lebar bukan menguncup seperti ikan dan pipi akan terlihat penuh.
2. Posisi
Posisi menyusui yang tepat adalah salah satu kunci agar bayi dapat menyusu dengan optimal dan ibu tetap merasa nyaman saat menyusui. Posisi yang benar membantu bayi melekat dengan baik pada payudara sehingga ASI dapat keluar dengan lancar.
Beberapa posisi menyusui yang umum direkomendasikan antara lain posisi cradle hold (menggendong bayi di lengan), cross cradle hold, football hold, dan posisi berbaring miring (side lying). Ibu dapat memilih posisi yang paling nyaman sesuai dengan kondisi tubuh ibu maupun bayi.
Baca Juga: Ketika Ketiak Juga Bisa Menyusui: Pengingat bahwa Tubuh Manusia Tidak Pernah Sederhana
– Posisi Ibu
Ibu sebaiknya berada dalam posisi yang nyaman, baik dalam keadaan duduk maupun berbaring. Jika duduk, punggung ibu sebaiknya bersandar dengan baik dan bahu dalam keadaan rileks.
Gunakan bantal sebagai penopang jika diperlukan agar lengan tidak cepat lelah. Payudara diarahkan ke bayi, bukan bayi yang dipaksa mendekat ke payudara.
– Posisi Bayi
Tubuh bayi harus menghadap langsung ke tubuh ibu (tummy to tummy), sehingga kepala, leher, dan badan bayi berada dalam satu garis lurus. Kepala bayi sedikit mendongak agar dagu menempel pada payudara.
Selain itu, tubuh bayi sebaiknya ditopang pada pertengahan lengan bawah ibu bukan pada siku. Posisi ini membantu bayi menelan ASI dengan lebih mudah dan mencegah tersedak.
3. Frekuensi
Bayi dianjurkan disusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dengan frekuensi sesuai kebutuhan (on demand), yang umumnya berkisar 8-12 kali dalam 24 jam.
4. Durasi
Durasi menyusui dapat berbeda pada setiap bayi, namun umumnya berlangsung sekitar 10–20 menit pada setiap payudara. Ibu dianjurkan untuk memberikan kesempatan bayi menyusu pada satu payudara hingga terasa lebih kosong sebelum berpindah ke payudara yang lain.
5. Cara menyendawakan
Setelah menyusu, bayi sebaiknya disendawakan untuk mengeluarkan udara yang mungkin tertelan selama proses menyusui. Menyendawakan bayi dapat membantu mencegah kembung, gumoh, atau rasa tidak nyaman pada perut bayi.
Baca Juga: Busui bisa Mencoba! Tips agar ASI Melimpah dan Kental
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
– Gendong bayi secara tegak
Letakkan bayi di bahu ibu atau anggota keluarga lainnya dengan posisi tubuh bayi tegak. Kepala bayi bersandar di bahu.
– Topang kepala dan leher bayi
Gunakan satu tangan untuk menopang kepala dan leher bayi agar tetap stabil dan aman.
– Letakkan kain di bahu
Sebaiknya letakkan kain atau handuk kecil di bahu untuk mengantisipasi jika bayi gumoh atau mengeluarkan sedikit ASI.
– Tepuk atau gosok punggung bayi dengan lembut
Gunakan tangan yang lain untuk menepuk atau menggosok punggung bayi secara perlahan dari bawah ke atas.
– Tunggu hingga bayi bersendawa
Biasanya sendawa akan keluar dalam waktu 1–5 menit. Jika belum bersendawa, ibu dapat terus menepuk lembut atau mengubah posisi bayi sedikit lebih tegak.
Penulis:
1. Nova Listiana Putri (I4B025100)
2. Delya Morrasa Roesyadi (I4B025101)
3. Fitriana Permatasari (I4B025102)
4. Zahra Athina Deapriandita (I4B025103)
5. Ummi Hanni (I4B025104)
Mahasiswa Profesi Ners Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












