Di era ketika informasi kesehatan bisa datang dari mana saja, kita sering dikejutkan oleh fenomena yang terdengar terlalu aneh untuk menjadi kenyataan. Salah satunya adalah air susu yang keluar dari ketiak.
Di telinga sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti bahan candaan atau rumor dari grup WhatsApp keluarga. Namun bagi saya, justru fenomena seperti inilah yang mengingatkan bahwa tubuh manusia jauh lebih rumit, lebih tua, dan lebih penuh cerita daripada yang kita bayangkan.
Banyak orang pertama kali mendengar fenomena ini dengan reaksi spontan seperti jijik atau tak percaya. Saya pun begitu. Namun saat mulai mempelajari penjelasannya, saya menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar keanehan.
Dokter umum Ratri S. pernah menjelaskan, “Fenomena ini terdengar aneh, tetapi secara anatomi sebenarnya sangat mungkin terjadi. Kita menyebutnya aktivitas jaringan payudara aksesori.” Kalimat itu membongkar seluruh persepsi saya tentang tubuh yang selama ini saya anggap sederhana.
Pada tahap perkembangan janin, manusia memiliki milk line atau garis jaringan payudara yang memanjang dari ketiak hingga ke dekat selangkangan. Sebagian besar dari garis itu menghilang. Tetapi tidak semua. Pada sebagian individu, sisa kecilnya tertinggal di ketiak.
Ia tidak menimbulkan masalah, tidak mengganggu, dan bahkan tidak dikenali sampai tiba saat tertentu. Kehamilan dan masa menyusui adalah salah satu pemicunya.
Baca Juga: “Ibuku Kece” (Cegah Wasting pada Balita : Peran Ibu dan Posyandu dalam Mewujudkan Generasi Sehat)
Dokter kandungan Dimas A. menjelaskan, “Saat hormon menyusui meningkat, jaringan payudara di luar area dada bisa ikut aktif. Jika ada sisa milk line di ketiak, ia bisa bereaksi seperti payudara.”
Di momen itu, tubuh seolah mengingatkan bahwa ia punya memori yang jauh lebih tua dari apa yang tampak di cermin. Bahwa ia menyimpan cetak biru evolusi yang tidak sepenuhnya hilang. Dan ketika cetak biru itu teraktivasi, muncullah fenomena yang bagi sebagian orang tampak mustahil.
Kisah para ibu yang mengalaminya membuat fenomena ini semakin nyata dan manusiawi. Ayu, 27 tahun, bercerita, “Awalnya saya pikir itu benjolan. Ternyata setelah ditekan, ada cairan putih seperti susu. Saya sampai kaget sendiri. Reaksinya bukan hanya kaget. Ada rasa takut. Rasa tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada tubuh sendiri.”
Mira, 31 tahun, mencoba menghadapinya dengan humor. “Rasanya aneh sekaligus lucu. Saya tidak pernah membayangkan punya susu cadangan di ketiak,” katanya.
Lintang, 29 tahun, punya cerita lain. “Saya baru tahu setelah bidan menjelaskan kalau itu normal. Saya kira saya punya masalah kesehatan serius.”
Saya memahami reaksi mereka. Kita hidup di masyarakat yang jarang membicarakan tubuh secara jujur. Banyak bagian tubuh dianggap tabu, tidak sopan, atau terlalu pribadi untuk dibahas. Akibatnya, ketika muncul fenomena yang tidak sesuai bayangan kita, kepanikan menjadi reaksi wajar.
Baca Juga: Usir Bau Ketek Sekarang! Ini Tips agar Tidak Bau Badan
Padahal tenaga kesehatan sudah berkali-kali menegaskan bahwa fenomena ini aman. Konselor laktasi Rahma F. mengatakan, “Ketiak bisa membengkak saat menyusui karena jaringan di sana ikut menampung cairan. Dalam kasus tertentu, memang bisa keluar cairan mirip ASI.”
Sementara dokter laktasi Lia N. menambahkan, “Ini bukan penyakit berbahaya. Biasanya hanya membuat tidak nyaman, tetapi tidak mengancam kesehatan.”
Bagi saya, fenomena air susu yang keluar dari ketiak bukan sekadar cerita medis. Ia adalah pengingat bahwa tubuh manusia tidak dibangun untuk memenuhi ekspektasi kita tentang apa yang normal.
Ia dibangun oleh sejarah yang panjang, oleh proses biologis yang lebih tua dari peradaban, bahkan oleh hal-hal yang sudah tidak lagi kita sadari keberadaannya.
Seorang praktisi kesehatan menyimpulkannya dengan sangat tepat, “Ini contoh menarik bahwa tubuh menyimpan banyak cerita lama dari masa evolusinya. Kadang muncul di saat kita tidak menduganya.”
Opini ini lahir dari kesadaran bahwa tubuh bukan mesin. Ia adalah arsip hidup. Ia tidak selalu logis menurut standar kita, tetapi selalu logis menurut sejarahnya. Dan mungkin, justru di dalam keanehan-keanehan kecil seperti inilah kita bisa belajar menghargai betapa luar biasanya tubuh manusia itu sendiri.
Penulis: Zaskiyah Sofarina (NIM: 60125013)
Mahasiswa Sains Data UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












