Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intolerance of uncertainty terhadap kesejahteraan finansial (financial well-being) pekerja kelas menengah di Jakarta dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu. Penelitian menggunakan desain kuantitatif eksplanatori dengan melibatkan 104 responden yang dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan Intolerance of Uncertainty Scale-12 (IUS-12) dan InCharge Financial Distress/Financial Well-Being Scale (IFDFW). Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dengan metode bootstrapping karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intolerance of uncertainty berpengaruh signifikan terhadap financial well-being (p = 0,022, p < 0,05) dengan kontribusi sebesar 7,2%, sedangkan 92,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Temuan ini menunjukkan bahwa ketidakmampuan individu menoleransi ketidakpastian berkontribusi terhadap rendahnya kesejahteraan finansial pekerja kelas menengah perkotaan, sehingga intervensi psikologis perlu diintegrasikan dengan program edukasi keuangan.
Kata kunci: intolerance of uncertainty, kesejahteraan finansial, pekerja kelas menengah, ketidakpastian ekonomi, psikologi konsumen
Abstract
This study aims to examine the effect of intolerance of uncertainty on the financial well-being of middle-class workers in Jakarta amid uncertain economic conditions. A quantitative explanatory design was used, with data collected from 104 respondents through an online questionnaire combining the Intolerance of Uncertainty Scale-12 (IUS-12) and the InCharge Financial Distress/Financial Well-Being Scale (IFDFW). Data were analyzed using simple linear regression with a bootstrapping method due to non-normal data distribution. The results show that intolerance of uncertainty has a significant negative effect on financial well-being (p = 0.022, p < 0.05), explaining 7.2% of the variance in financial well-being, while the remaining 92.8% is explained by other factors outside this study. These findings indicate that the psychological inability to tolerate uncertainty contributes to lower financial well-being among urban middle-class workers, suggesting the importance of psychological interventions alongside financial education programs.
Keywords: intolerance of uncertainty, financial well-being, middle-class workers, economic uncertainty, consumer psychology
PENDAHULUAN
Ketidakpastian ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir, seperti inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, ancaman resesi, dan ketidakstabilan pasar kerja, berdampak luas terhadap kondisi psikologis maupun finansial masyarakat, termasuk pekerja kelas menengah di wilayah perkotaan seperti Jakarta yang memiliki biaya hidup tinggi (Floriscka et al., 2025).
Kelas menengah memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun tetap rentan terhadap perubahan ekonomi. Perlambatan ekonomi, stagnasi upah, dan ketidakamanan pekerjaan dapat menurunkan stabilitas finansial kelompok ini (Marro’aini, 2025).
Dalam menghadapi ketidakpastian, setiap individu memiliki respons psikologis berbeda. Salah satu faktor penting adalah intolerance of uncertainty, yaitu kecenderungan individu merasa tidak nyaman, cemas, dan sulit menerima situasi yang tidak pasti. Individu dengan intolerance of uncertainty tinggi cenderung memandang ketidakpastian sebagai ancaman sehingga lebih mudah mengalami stres dan kesulitan pengambilan keputusan (Han & Dariyo, 2023).
Intolerance of uncertainty tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental, tetapi juga memengaruhi pengelolaan keuangan sehari-hari. Kesejahteraan finansial (financial well-being) merupakan kondisi ketika individu mampu memenuhi kebutuhan finansial saat ini, merasa aman terhadap masa depan keuangan, serta mampu membuat pilihan hidup yang mendukung kualitas hidupnya (Bialowolski et al., 2021).
Pekerja kelas menengah Jakarta berada pada posisi rentan karena dituntut mempertahankan gaya hidup perkotaan sekaligus menghadapi ancaman PHK, kenaikan biaya hidup, dan tekanan pekerjaan (Kurniawan et al., 2022). Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intolerance of uncertainty terhadap kesejahteraan finansial pekerja kelas menengah Jakarta dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori untuk mengetahui pengaruh intolerance of uncertainty (variabel X) terhadap financial well-being (variabel Y) pada pekerja kelas menengah di Jakarta. Data dikumpulkan secara cross-sectional melalui kuesioner daring menggunakan google form.
Variabel intolerance of uncertainty diukur dengan Intolerance of Uncertainty Scale-12 (IUS-12) yang dikembangkan oleh Carleton et al. (2007) dan diadaptasi ke Bahasa Indonesia oleh Istiqomah, Helmi, dan Widhiarso (2022), terdiri atas 12 item dengan dua aspek yaitu prospective anxiety dan inhibitory anxiety, menggunakan skala Likert 1–5. Variabel financial well-being diukur dengan InCharge Financial Distress/Financial Well-Being Scale (IFDFW) yang dikembangkan oleh Prawitz et al. (2006) dan diadaptasi oleh Nur dan Renanita (2025), terdiri atas 8 item dengan skala numerik 1–10.
Populasi penelitian adalah pekerja kelas menengah yang berdomisili dan bekerja di Jakarta. Sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria: berdomisili/bekerja di Jakarta, berusia minimal 18 tahun, memiliki penghasilan tetap maupun tidak tetap, dan bersedia mengisi kuesioner secara lengkap. Penelitian melibatkan 104 responden.
Sebelum dilakukan analisis regresi, data diuji normalitasnya menggunakan Shapiro-Wilk. Karena data tidak berdistribusi normal, analisis pengaruh dilakukan dengan regresi linear sederhana menggunakan metode bootstrapping agar estimasi parameter lebih robust. Pengujian hipotesis dilakukan dengan melihat nilai signifikansi (p<0,05) menggunakan program statistik JASP.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Responden
Penelitian melibatkan 104 responden pekerja kelas menengah di Jakarta, terdiri atas 60 perempuan (57,7%) dan 44 laki-laki (42,3%). Rata-rata usia responden 27,31 tahun, dengan kelompok usia terbanyak 26–28 dan 29–31 tahun (masing-masing 23,1%). Mayoritas responden berdomisili di Jakarta (88,5%) dengan pendapatan per bulan terbanyak pada rentang Rp3.000.000–Rp4.999.999 (64,4%).
Hasil Analisis Deskriptif
Variabel intolerance of uncertainty memiliki rentang skor 13,00–63,00 dengan rata-rata 48,91 dan standar deviasi 10,78. Variabel financial well-being memiliki rentang skor 8,00–75,00 dengan rata-rata 49,69 dan standar deviasi 10,29. Uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan kedua variabel tidak berdistribusi normal (p < 0,001 untuk keduanya), sehingga analisis regresi dilakukan dengan metode bootstrapping.
Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Hasil Uji Regresi
Hasil regresi linear sederhana dengan bootstrapping menunjukkan koefisien korelasi (R) sebesar 0,268 dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,072, yang berarti intolerance of uncertainty mampu menjelaskan 7,2% variasi financial well-being. Uji ANOVA menghasilkan F = 7,899 dengan p = 0,006, menunjukkan model regresi layak digunakan. Koefisien regresi bootstrapping untuk intolerance of uncertainty sebesar 0,246 dengan p = 0,022 (p < 0,05) dan interval kepercayaan 95% berada pada rentang 0,036 hingga 0,546, tidak melewati angka nol. Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima: intolerance of uncertainty berpengaruh signifikan terhadap financial well-being pada pekerja kelas menengah Jakarta.
Pembahasan
Rata-rata skor intolerance of uncertainty responden tergolong cukup tinggi, mengindikasikan bahwa sebagian besar pekerja kelas menengah Jakarta mengalami ketidaknyamanan ketika menghadapi situasi yang tidak pasti, sejalan dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu di wilayah perkotaan (Carleton, 2016).
Skor financial well-being responden berada pada kategori sedang, menunjukkan bahwa pekerja kelas menengah cukup mampu memenuhi kebutuhan finansial sehari-hari namun masih menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas keuangan, sesuai dengan posisi mereka yang relatif rentan terhadap perubahan ekonomi (Brüggen et al., 2017).
Temuan bahwa intolerance of uncertainty berpengaruh negatif signifikan terhadap financial well-being menunjukkan bahwa individu yang sulit menerima ketidakpastian cenderung lebih banyak memikirkan kemungkinan buruk terkait kondisi finansialnya, seperti kehilangan pekerjaan atau kenaikan biaya hidup, sehingga memengaruhi persepsi keamanan finansial mereka. Meskipun kontribusinya relatif kecil (7,2%), hasil ini memperkuat pandangan bahwa kesejahteraan finansial merupakan konstruk psikologis yang dipengaruhi banyak faktor selain pendapatan, seperti literasi keuangan, perilaku pengelolaan keuangan, dan dukungan sosial (Netemeyer et al., 2018).
SIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini menyimpulkan bahwa intolerance of uncertainty berpengaruh signifikan terhadap financial well-being pada pekerja kelas menengah Jakarta dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu (p = 0,022), dengan kontribusi sebesar 7,2%. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan individu menghadapi ketidakpastian berperan dalam membentuk persepsi kesejahteraan finansialnya, sehingga hipotesis penelitian diterima.
Penelitian selanjutnya disarankan menambahkan variabel lain seperti literasi keuangan, kontrol diri, dan dukungan sosial, serta menggunakan sampel yang lebih besar dan representatif. Bagi pekerja kelas menengah, disarankan meningkatkan kemampuan menghadapi ketidakpastian ekonomi melalui perencanaan keuangan, dana darurat, dan literasi keuangan agar kesejahteraan finansial tetap terjaga meskipun dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu.
DAFTAR PUSTAKA
- Bialowolski, P., Weziak-Bialowolska, D., & McNeely, E. (2021). The role of financial fragility and financial control for well-being. Social Indicators Research.
- Brüggen, E. C., Hogreve, J., Holmlund, M., Kabadayi, S., & Löfgren, M. (2017). Financial well-being: A conceptualization and research agenda. Journal of Business Research, 79, 228–237. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2017.03.013
- Carleton, R. N. (2016). Into the unknown: A review and synthesis of contemporary models involving uncertainty. Journal of Anxiety Disorders, 39, 30–43. https://doi.org/10.1016/j.janxdis.2016.02.007
- Floriscka, A. T., Dachlan, A. N., Wibowo, G. C., & Pasha, R. (2025). Stuck in the middle with you? An assessment of income dynamics in Indonesia. IMF Working Papers, 2025(265). https://doi.org/10.5089/9798229032377.001
- Han, V., & Dariyo, A. (2023). Hubungan antara intolerance of uncertainty dengan psychological well-being pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni. https://doi.org/10.24912/jmishumsen.v7i1.26461.2023
- Istiqomah, A. N., Helmi, A. F., & Widhiarso, W. (2022). Translasi, adaptasi dan validasi skala Intolerance of Uncertainty Short Version 12-item (IUS-12) ke Bahasa Indonesia. Psikologika, 27(1), 107–124. https://doi.org/10.20885/psikologika.vol27.iss1.art8
- Kurniawan, M. L. A., A’yun, I. Q., & Perwithosuci, W. (2022). Money demand in Indonesia: Does economic uncertainty matter? Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan, 23(2), 231–244. https://doi.org/10.18196/jesp.v23i2.15876
- Kurniawati, A. A., & Lestari, H. S. (2022). Faktor-faktor yang mempengaruhi financial well-being. JMBI UNSRAT, 9(3), 1577–1598. https://doi.org/10.35794/jmbi.v9i3.43155
- Marro’aini, M. (2025). Deflation and middle-class in Indonesia: An empirical analysis in January 2022–January 2025. International Journal of Applied Finance and Business Studies, 13(1), 104–111. https://doi.org/10.35335/ijafibs.v13i1.355
- Netemeyer, R. G., Warmath, D., Fernandes, D., & Lynch, J. G. (2018). How am I doing? Perceived financial well-being, its potential antecedents, and its relation to overall well-being. Journal of Consumer Research, 45(1), 68–89. https://doi.org/10.1093/jcr/ucx109
- Nur, A. R., & Renanita, T. (2025). Adaptation and psychometric properties of the Indonesian version of the Financial Well-Being Scale. Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, 10(2), 173–191. https://doi.org/10.23917/indigenous.v10i2.11823
- Prawitz, A. D., Garman, E. T., Sorhaindo, B., O’Neill, B., Kim, J., & Drentea, P. (2006). InCharge Financial Distress/Financial Well-Being Scale: Development, administration, and score interpretation. Financial Counseling and Planning, 17.
Penulis:
1. Ddicky Syahdeva Lidinillah
2. Zaky Difa Satriana
3. Zalva Gina
4. Najmi Janani
5. Desi Ariyani
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















