Abstrak
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan, pemanfaatan lahan sempit, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan produksi sayuran hidroponik berbasis ramah lingkungan di Desa Padang Bandung. Permasalahan utama yang dihadapi mitra meliputi keterbatasan lahan budidaya, rendahnya pemanfaatan pekarangan rumah secara produktif, serta minimnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menerapkan teknologi pertanian modern yang efisien dan ramah lingkungan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan tahapan identifikasi permasalahan, sosialisasi, pelatihan, praktik budidaya hidroponik, pembangunan sistem NFT, dan pendampingan. Teknologi yang diterapkan berupa sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) yang hemat air dan sesuai untuk lahan terbatas. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam budidaya hidroponik, mulai dari penyemaian benih, pengelolaan nutrisi, hingga pemeliharaan tanaman dan panen. Selain itu, pemanfaatan lahan pekarangan menjadi lebih optimal dan produktif, serta menghasilkan sayuran sehat dan berkualitas seperti pakcoy dan sawi. Program ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pertanian ramah lingkungan, memperkuat ketahanan pangan keluarga, dan membuka peluang usaha yang berpotensi meningkatkan pendapatan rumah tangga. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian berhasil meningkatkan tingkat keberdayaan mitra dari aspek pengetahuan, keterampilan, partisipasi, kemandirian, dan ekonomi sehingga mendukung terwujudnya masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Kata kunci: hidroponik, pemberdayaan masyarakat, ramah lingkungan.
Pendahuluan
Ketahanan pangan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Ketersediaan pangan yang cukup, aman, dan bergizi menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Badan Pangan Nasional, 2023). Namun, semakin terbatasnya lahan pertanian akibat pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan menjadi salah satu tantangan dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan, khususnya sayuran (Mulyani & Sarwani, 2013). Kondisi ini banyak dijumpai pada masyarakat pedesaan maupun perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan pekarangan untuk kegiatan budidaya tanaman. Desa Padang Bandung memiliki potensi sumber daya manusia yang cukup baik untuk mendukung kegiatan budidaya tanaman, namun pemanfaatan lahan pekarangan masih belum optimal. Berdasarkan hasil observasi awal, sebagian besar masyarakat masih bergantung pada pasokan sayuran dari pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Selain itu, pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai teknologi budidaya tanaman yang efisien dan ramah lingkungan masih relatif rendah. Kondisi tersebut menyebabkan peluang pemanfaatan lahan sempit sebagai sumber pangan dan pendapatan keluarga belum dapat dimanfaatkan secara maksimal (Notoatmodjo, 2018).
Salah satu inovasi yang dapat diterapkan untuk mengatasi keterbatasan lahan adalah sistem budidaya hidroponik. Hidroponik merupakan metode budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam, melainkan memanfaatkan larutan nutrisi yang diberikan secara terkontrol (Lingga, 2011; Resh, 2013). Sistem ini memiliki berbagai keunggulan, antara lain penggunaan lahan yang lebih efisien, kebutuhan air yang lebih hemat, pertumbuhan tanaman yang lebih cepat, serta menghasilkan produk sayuran yang lebih bersih dan berkualitas (Roidah, 2014). Selain itu, hidroponik juga sejalan dengan konsep pertanian ramah lingkungan karena dapat mengurangi penggunaan pestisida dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia (Suhardiyanto, 2009). Melalui program Pengabdian Masyarakat melalui Rumah Produksi Sayuran Hidroponik Berbasis Ramah Lingkungan di Padang Bandung, masyarakat diberikan pendampingan dalam mengembangkan budidaya sayuran hidroponik sebagai solusi atas keterbatasan lahan dan kebutuhan pangan keluarga. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan instalasi hidroponik, tetapi juga mencakup kegiatan sosialisasi, pelatihan, praktik langsung, dan pendampingan sehingga masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola sistem hidroponik secara mandiri. Pendekatan partisipatif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dinilai efektif dalam meningkatkan keterampilan dan kemandirian masyarakat dalam mengadopsi teknologi baru (Chambers, 1994).
Keberadaan rumah produksi sayuran hidroponik diharapkan dapat menjadi sarana edukasi, pusat produksi pangan, sekaligus media pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam budidaya hidroponik, diharapkan ketahanan pangan keluarga dapat diperkuat, pemanfaatan lahan sempit menjadi lebih produktif, serta terbuka peluang usaha baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat (Suryani, 2015). Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini menjadi salah satu upaya nyata dalam mendukung pembangunan masyarakat yang mandiri, produktif, dan berwawasan lingkungan.
Metode
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan judul “Pengabdian Masyarakat melalui Rumah Produksi Sayuran Hidroponik Berbasis Ramah Lingkungan di Padang Bandung” dilaksanakan menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh tahapan kegiatan. Metode ini dipilih karena mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam proses identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program sehingga tercipta kemandirian dan keberlanjutan kegiatan. Pelaksanaan program diawali dengan tahap identifikasi permasalahan dan analisis kebutuhan melalui survei lapangan, observasi, serta wawancara dengan masyarakat dan mitra. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting masyarakat, potensi yang dimiliki, serta berbagai kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan lahan pekarangan dan pemenuhan kebutuhan pangan keluarga. Tahap berikutnya adalah sosialisasi program kepada masyarakat sasaran. Kegiatan sosialisasi dilakukan untuk memberikan pemahaman mengenai konsep dasar hidroponik, manfaat budidaya sayuran hidroponik, prinsip pertanian ramah lingkungan, serta peluang pengembangan usaha berbasis hidroponik. Melalui kegiatan ini, masyarakat memperoleh wawasan mengenai pentingnya pemanfaatan lahan sempit secara produktif dan berkelanjutan guna mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Setelah kegiatan sosialisasi, dilakukan pelatihan dan praktik langsung budidaya hidroponik menggunakan pendekatan learning by doing. Materi yang diberikan meliputi pembuatan instalasi hidroponik sistem NFT (Nutrient Film Technique), penyemaian benih, pembuatan dan pengelolaan larutan nutrisi, pengukuran pH dan TDS, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, hingga teknik panen dan pascapanen. Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara mandiri dalam budidaya sayuran hidroponik. Selanjutnya dilakukan pembangunan rumah produksi sayuran hidroponik sebagai sarana pembelajaran dan unit produksi masyarakat. Kegiatan ini meliputi pemasangan instalasi hidroponik, penyediaan bak penampung nutrisi, pemasangan pompa air, penyusunan pipa tanam, serta penanaman bibit sayuran. Rumah produksi dirancang dengan konsep ramah lingkungan melalui penggunaan air yang efisien, sistem sirkulasi nutrisi yang berkelanjutan, dan optimalisasi pemanfaatan lahan yang tersedia sehingga dapat menghasilkan sayuran yang sehat dan berkualitas.
Tahap berikutnya adalah pendampingan dan monitoring yang dilakukan secara berkala selama proses budidaya berlangsung. Tim pelaksana melakukan kunjungan lapangan untuk memantau perkembangan tanaman, mengevaluasi kondisi instalasi hidroponik, membantu mengatasi kendala teknis yang dihadapi masyarakat, serta memberikan arahan terkait pengelolaan nutrisi dan pemeliharaan tanaman. Pendampingan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola sistem hidroponik secara mandiri dan memastikan keberhasilan budidaya hingga masa panen. Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi program untuk menilai tingkat keberhasilan pelaksanaan pengabdian. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, dan diskusi dengan peserta kegiatan guna mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan, partisipasi, serta kemandirian masyarakat setelah mengikuti program. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar untuk menyusun rekomendasi pengembangan program di masa mendatang sehingga rumah produksi sayuran hidroponik dapat terus berkembang sebagai model pemberdayaan masyarakat yang mendukung ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Hasil dan Pembahasan
Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat melalui rumah produksi sayuran hidroponik berbasis ramah lingkungan di Padang Bandung telah berjalan sesuai dengan tahapan yang direncanakan dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas masyarakat. Kegiatan diawali dengan identifikasi kondisi mitra yang menunjukkan bahwa masyarakat memiliki keterbatasan lahan untuk budidaya tanaman, rendahnya pemanfaatan pekarangan rumah secara produktif, serta minimnya pengetahuan mengenai teknologi budidaya sayuran yang efisien dan ramah lingkungan. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan sayuran masyarakat masih bergantung pada pasokan dari luar wilayah sehingga rentan terhadap fluktuasi harga dan ketersediaan produk. Hasil pelaksanaan program menunjukkan bahwa masyarakat mampu memahami konsep dasar budidaya hidroponik setelah mengikuti kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang diberikan oleh tim pelaksana. Peningkatan pengetahuan terlihat dari kemampuan peserta dalam menjelaskan kembali prinsip kerja sistem hidroponik, manfaat budidaya tanpa tanah, serta pentingnya penerapan pertanian ramah lingkungan. Selain itu, masyarakat juga memperoleh wawasan mengenai peluang pemanfaatan lahan sempit sebagai sarana produksi pangan dan sumber pendapatan keluarga.
Pada aspek keterampilan, masyarakat telah mampu melakukan berbagai tahapan budidaya hidroponik secara mandiri, mulai dari penyemaian benih, pembuatan larutan nutrisi, pengaturan pH dan TDS, hingga pemeliharaan tanaman. Melalui metode praktik langsung (learning by doing), peserta dapat memahami teknik budidaya hidroponik dengan lebih baik dibandingkan hanya melalui penyampaian teori. Keterampilan ini menjadi modal penting bagi masyarakat untuk mengembangkan budidaya sayuran secara berkelanjutan setelah program pengabdian selesai dilaksanakan. Pembangunan rumah produksi sayuran hidroponik berbasis ramah lingkungan menjadi salah satu capaian utama program. Rumah produksi yang dilengkapi dengan instalasi hidroponik sistem NFT (Nutrient Film Technique) berhasil dibangun dan dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran serta unit produksi masyarakat. Instalasi tersebut mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal melalui sistem sirkulasi nutrisi yang efisien dan penggunaan air yang lebih hemat dibandingkan metode budidaya konvensional. Keberadaan rumah produksi ini juga menjadi contoh nyata penerapan teknologi tepat guna yang dapat direplikasi oleh masyarakat secara mandiri.

Dari aspek produksi, sistem hidroponik yang diterapkan mampu menghasilkan berbagai jenis sayuran daun seperti pakcoy dan sawi dengan kualitas yang baik. Tanaman menunjukkan pertumbuhan yang seragam, warna daun yang hijau segar, serta tingkat keberhasilan hidup yang tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa teknologi hidroponik mampu menjadi solusi efektif dalam mengatasi keterbatasan lahan sekaligus menghasilkan produk pangan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi. Selain itu, penggunaan nutrisi yang terkontrol dan minimnya penggunaan pestisida mendukung terciptanya sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan. Keberhasilan program juga terlihat dari meningkatnya partisipasi dan kemandirian masyarakat. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai peserta pelatihan, tetapi juga terlibat aktif dalam pembangunan instalasi, penanaman, pemeliharaan, hingga proses panen. Tingginya partisipasi ini menunjukkan adanya perubahan sikap dan pola pikir masyarakat terhadap pentingnya pemanfaatan lahan sempit secara produktif. Masyarakat mulai menyadari bahwa pekarangan rumah dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan keluarga sekaligus peluang usaha yang bernilai ekonomis.
Dari sisi ekonomi, hasil panen yang diperoleh mampu membantu memenuhi kebutuhan sayuran keluarga sehingga mengurangi pengeluaran rumah tangga. Selain itu, masyarakat juga mulai memahami potensi pemasaran hasil panen sebagai sumber pendapatan tambahan. Meskipun masih dalam tahap awal pengembangan, keberadaan rumah produksi hidroponik membuka peluang terbentuknya usaha kelompok berbasis pertanian modern yang dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang. Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan bahwa program pengabdian berhasil meningkatkan pengetahuan, keterampilan, partisipasi, dan kemandirian masyarakat dalam budidaya sayuran hidroponik berbasis ramah lingkungan. Program ini tidak hanya memberikan manfaat dalam aspek ketahanan pangan keluarga, tetapi juga mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat serta penerapan praktik pertanian yang berkelanjutan. Dengan demikian, rumah produksi sayuran hidroponik di Padang Bandung dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berpotensi untuk dikembangkan dan direplikasi pada wilayah lain dengan karakteristik permasalahan yang serupa.

Simpulan
Kegiatan pengabdian masyarakat melalui rumah produksi sayuran hidroponik berbasis ramah lingkungan di Padang Bandung telah berhasil dilaksanakan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Program ini mampu menjadi solusi terhadap permasalahan keterbatasan lahan, rendahnya pemanfaatan pekarangan rumah, serta kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai teknologi budidaya sayuran yang modern dan ramah lingkungan. Melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan, praktik langsung, serta pendampingan, masyarakat memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola budidaya sayuran hidroponik menggunakan sistem NFT (Nutrient Film Technique). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat telah mampu memanfaatkan lahan sempit secara lebih produktif melalui pembangunan rumah produksi sayuran hidroponik yang berfungsi sebagai sarana pembelajaran dan unit produksi. Selain mendukung ketahanan pangan keluarga melalui penyediaan sayuran sehat dan berkualitas, program ini juga membuka peluang usaha yang berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat. Penerapan teknologi hidroponik yang hemat air dan ramah lingkungan turut mendukung terciptanya praktik pertanian berkelanjutan di tingkat masyarakat. Secara keseluruhan, program pengabdian ini berhasil meningkatkan keberdayaan masyarakat dari aspek pengetahuan, keterampilan, partisipasi, dan kemandirian dalam mengelola budidaya sayuran hidroponik. Dengan demikian, rumah produksi sayuran hidroponik berbasis ramah lingkungan di Padang Bandung dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dalam mendukung ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Universitas Sunan Gresik melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) yang telah memberikan dukungan dan pendanaan sehingga kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Desa Padang Bandung, mitra pengabdian, serta seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program. Penghargaan yang setinggi-tingginya diberikan kepada seluruh anggota tim pelaksana yang telah bekerja sama dalam pelaksanaan kegiatan “Pengabdian Masyarakat melalui Rumah Produksi Sayuran Hidroponik Berbasis Ramah Lingkungan di Padang Bandung”. Semoga hasil kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat serta menjadi kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian lingkungan.
Referensi
- Lingga, P. (2011). Hidroponik: Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Jakarta: Penebar Swadaya.
- Roidah, I. S. (2014). Pemanfaatan lahan dengan menggunakan sistem hidroponik. Jurnal Universitas Tulungagung BONOROWO, 1(2), 43–50.
- Siswadi, S., & Teguh, Y. (2015). Pengaruh konsentrasi nutrisi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi hijau pada sistem hidroponik. Jurnal Agronomika, 9(1), 46–54.
- Notoatmodjo, S. (2018). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
- Chambers, R. (1994). Participatory Rural Appraisal (PRA): Analysis of Experience. World Development, 22(9), 1253–1268.
- Resh, H. M. (2013). Hydroponic Food Production: A Definitive Guidebook for the Advanced Home Gardener and the Commercial Hydroponic Grower (7th ed.). Boca Raton: CRC Press.
- Mulyani, A., & Sarwani, M. (2013). Karakteristik dan potensi lahan suboptimal untuk pengembangan pertanian di Indonesia. Jurnal Sumberdaya Lahan, 7(1), 47–55.
- Suhardiyanto, H. (2009). Teknologi Rumah Tanaman untuk Iklim Tropika Basah. Bogor: IPB Press.
- Suryani, E. (2015). Budidaya sayuran secara hidroponik sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan rumah tangga. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 21(3), 35–41.
- Badan Pangan Nasional. (2023). Strategi Penguatan Ketahanan Pangan Nasional. Jakarta: Badan Pangan Nasional.
Penulis:
– Istna Nabila Zulfa
– Mira
– Friska Indrian
Dosen Program Studi D4 Manajemen Pelabuhan dan Logistik Maritim, Universitas Sunan Gresik (USG)
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















