BAB 1: PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan meme dan satire digital di media sosial telah mengubah pola komunikasi politik masyarakat
Indonesia secara mendasar. Diskusi politik yang dahulunya dilakukan melalui tulisan panjang di surat kabar atau
acara televisi dengan bahasa formal dan argumentatif, kini bertransformasi secara masif.
Cukup dengan satu gambar sederhana yang dilengkapi teks pendek, sebuah pesan politik mampu memengaruhi jutaan orang dalam hitungan jam. Makalah ini secara khusus membahas pengubahan realitas kebahasaan dan budaya publik Indonesia dalam era meme dan satire digital. Perjalanan panjang ini dimulai sejak Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014.
Baca juga: Meme Politik, Pancasila, dan Kasus Viral: Humor, Kritik, atau Penghinaan?
Pada saat itu, Pahrun (2015) melakukan penelitian terhadap 50 meme yang beredar di Twitter dan Facebook. Hasil analisis menunjukkan bahwa Joko Widodo menjadi sasaran terbesar dengan persentase mencapai 45% dari total meme, yang sebagian besar membahas isu korupsi dan kemampuan kepemimpinannya.
Prabowo Subianto juga tidak luput dari sorotan dengan 35% kritik yang menonjolkan masa lalunya. Temuan ini menjadi titik awal bagaimana bahasa politik mulai bergeser menjadi lebih ringkas, tajam, dan sering kali sarkastis.
Fenomena tersebut terus berkembang dengan akselerasi yang semakin tinggi di tahun-tahun berikutnya.
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tahun 2017 menjadi salah satu contoh paling mencolok.
Arifin dan Chairiyati (2017) menganalisis sebanyak 200 meme dan menemukan bahwa 68% di antaranya bersifat negatif terhadap pasangan Ahok-Djarot, dengan sentimen keagamaan sebagai pemicu utama melalui tagar
#2019GantiPresiden yang kemudian menyebar luas hingga ke pemilu nasional.
Situasi semakin memanas pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Nugraha dkk. (2019) melakukan analisis jaringan sosial dan menemukan adanya 971 titik koneksi serta 1.306 hubungan di platform Twitter. Meme “unicorn” yang menyindir Prabowo berhasil menjadi konten paling viral berkat amplifikasi akun-akun buzzer serta amplifikasi media besar seperti Liputan6.
Di masa kini, TikTok telah mengambil alih peran utama dalam sirkulasi informasi. Nugraha (2025) mencatat bahwa ironi dan sarkasme kini menjadi metode paling populer untuk mengkritik kebijakan pemerintah melalui video-video pendek yang mudah dibagikan secara massal.
Sayangnya, perubahan besar ini membawa dampak negatif yang cukup serius terhadap budaya publik secara
keseluruhan. Bahasa politik yang semula tertata rapi, logis, dan berbasis fakta kini banyak digantikan oleh
perpaduan jargon populer anak muda, simbol emoji, dan gambar sederhana yang penuh dengan makna tersirat.
Akibatnya, ruang diskusi di dunia maya sering kali berubah menjadi ajang saling serang emosional alih-alih
menjadi ruang pertukaran gagasan yang konstruktif. Safwan (2022) menganalisis lima meme yang sedang viral,
seperti frasa “panas banget ucapan beliau”, dan menyimpulkan bahwa konten semacam itu justru membuat
percakapan publik menjadi semakin kasar dan tidak produktif.
Sejalan dengan hal tersebut, Prabawangi dan Fatanti (2021) melalui wawancara dengan 10 pemuda menemukan bahwa meskipun meme dapat membantu meredakan ketegangan politik, 70% di antaranya bersifat destruktif dan memperburuk polarisasi sosial.
Baca juga: Dampak Polarisasi Politik terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat
Generasi Z, yang memperoleh 70% informasi politik dari TikTok, cenderung lebih tertarik pada sindiran humoris daripada analisis 2 yang mendalam. Fenomena ini jelas mengancam tingkat pemahaman kewarganegaraan (civic literacy) di kalangan generasi muda.
Beberapa penelitian terdahulu memang telah membahas isu ini, tetapi masih terbatas pada ruang lingkup
tertentu. Pahrun (2015) berhasil mengklasifikasikan berbagai jenis meme politik secara komprehensif, sedangkan
Safwan (2022) memberikan kritik tajam terhadap dampak satire digital terhadap kualitas wacana publik.
Kedua karya tersebut sangat relevan dengan fokus makalah ini karena sama-sama menyentuh aspek perubahan realitas kebahasaan dan budaya publik.
Namun, keterbatasan penelitian terdahulu terletak pada pendekatannya yang masih bersifat deskriptif parsial dan belum mengintegrasikan dinamika historis dari tahun 2014 hingga 2025, serta belum menawarkan solusi konkret untuk pendidikan kewarganegaraan.
Makalah ini hadir untuk mengisi kekosongan akademis (research gap) tersebut melalui analisis yang lebih menyeluruh.
Nilai penting penelitian ini tidak hanya terletak pada kontribusi teoritis, tetapi juga sangat aplikatif bagi pengembangan materi kuliah kewarganegaraan.
Urgensi kajian ini sangat nyata mengingat Generasi Z akan menjadi kelompok pemilih utama di masa depan. Tanpa pemahaman dan literasi yang tepat terhadap fenomena ini, budaya publik kita berisiko mengalami degradasi yang dapat melemahkan fondasi demokrasi nasional.
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana perkembangan meme dan satire digital memengaruhi transformasi realitas kebahasaan dalam
komunikasi politik publik di Indonesia? - Apa implikasi fenomena meme dan satire digital terhadap dinamika budaya publik serta literasi politik di
kalangan generasi muda? - Bagaimana meme dan satire digital membentuk pola partisipasi masyarakat dalam wacana politik
kontemporer?
1.3 Tujuan Penelitian
- Menganalisis transformasi realitas kebahasaan akibat perkembangan meme dan satire digital dalam komunikasi politik Indonesia.
- Mengidentifikasi implikasi meme dan satire digital terhadap dinamika budaya publik dan literasi politik
generasi muda. - Menguraikan peran meme dan satire digital dalam membentuk pola partisipasi masyarakat pada wacana politik kontemporer.
BAB II: PEMBAHASAN
2.1 Hasil
2.1.1 Pola Temuan Utama Berdasarkan Jawaban Para Narasumber
Hasil wawancara menunjukkan bahwa baik Raisya maupun Diandra melihat pengubahan signifikan dalam cara masyarakat memaknai informasi publik ketika disajikan melalui meme, satire, atau bentuk humor digital lainnya.
Raisya menegaskan bahwa meme menggeser gaya tutur publik dari bentuk formal menjadi gaya percakapan yang lebih santai.
Melalui pergeseran ini, kritik sosial yang sebelumnya disampaikan dalam bentuk argumentatif kini dapat disalurkan lewat humor sederhana yang mudah dipahami.
Ia menyampaikan bahwa kehadiran istilah-istilah seperti relate, receh, atau plot twist dalam diskursus sosial memperlihatkan bahwa bahasa publik kini mengikuti budaya digital yang cepat dan ringan. Namun pada saat yang sama, ia merasa bahwa penyederhanaan isu ke dalam satu gambar atau simbol membuat banyak orang memahami inti persoalan tetapi kehilangan kedalaman konteks.
Diandra menguatkan pola ini dengan menyatakan bahwa representasi tokoh politik dalam meme mengurangi aura otoritas mereka. Bentuk humor membuat figur publik tampil lebih cair dan tidak kaku seperti dalam foto resmi.
Ia juga menyebut bahwa humor membuat isu terasa lebih dekat bagi generasi muda karena gaya bahasanya mudah dipahami dan tidak menuntut konsentrasi tinggi.
Dari keseluruhan temuan awal, dapat dilihat bahwa kedua narasumber memiliki kesamaan pandangan bahwa media digital telah mengubah pola pemaknaan publik melalui kombinasi estetika humor, bahasa sehari-hari, dan simbol visual yang ringkas.
Selain membahas bentuk bahasa, kedua narasumber menunjukkan kecenderungan yang sama dalam memaknai proses penafsiran terhadap konten viral. Raisya menyebut bahwa banyak pengguna menilai pesan dari pilihan kata yang hiperbolik, penggunaan ekspresi visual, serta konteks pembuat konten beserta situasi saat konten tersebut diproduksi.
Ia menjelaskan bahwa indikator-indikator tersebut digunakan untuk membedakan apakah sebuah konten bersifat serius, bercanda, atau sindiran, sehingga pemaknaan sangat bergantung pada sensitivitas pengguna dalam membaca tanda-tanda digital.
Diandra memiliki pandangan serupa, tetapi menambahkan bahwa meme memaksa audiens untuk berpikir lebih keras karena humor tidak selalu langsung dipahami dan kadang membutuhkan latar pengetahuan tertentu agar penafsirannya tepat.
Ia menegaskan bahwa humor membuat isu lebih mudah diingat, tetapi tidak menjamin bahwa pesan dipahami sesuai dengan maksud asli pembuatnya.
Kedua pandangan ini menghasilkan pola temuan bahwa interpretasi konten viral selalu bergantung pada kombinasi faktor linguistik, konteks sosial, dan kompetensi budaya digital.
Temuan ini menjadi landasan bahwa budaya meme tidak hanya mengubah bentuk penyampaian pesan, tetapi juga cara masyarakat menafsirkan informasi yang mereka temui setiap hari.
2.1.2 Tendensi Pemaknaan, Risiko Kesalahpahaman, dan Perubahan Praktik Berbahasa Publik
Jawaban para narasumber memperlihatkan bahwa kecepatan viralitas menjadi faktor penting yang memengaruhi kestabilan makna dalam ruang digital. Raisya menyatakan bahwa ketika konten menyebar dengan sangat cepat, publik sering tidak memiliki waktu untuk memverifikasi informasi sehingga makna pesan menjadi kabur atau salah dipahami.
Ia menilai bahwa situasi ini membuat orang lebih fokus pada bagian paling mencolok atau lucu dari meme daripada memahami keseluruhan pesan yang sebenarnya ingin disampaikan. Hal ini menyebabkan analisis publik sering terputus di tengah jalan karena perhatian pengguna habis tersedot pada elemen visual atau humor saja.
Diandra menguatkan temuan ini dengan menunjukkan bahwa viralitas mendorong respons impulsif, di mana pengguna memberikan reaksi berdasarkan kesan pertama tanpa mengetahui konteks penuh.
Ia menyebut bahwa interpretasi spontan tersebut menghasilkan percakapan daring yang sangat beragam dan tidak selalu selaras dengan maksud awal pembuat konten.
Dari penjelasan dua narasumber tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecepatan penyebaran merupakan faktor yang berpotensi besar menciptakan kesenjangan pemikiran di antara audiens.
Temuan lain yang muncul adalah bahwa interaksi lanjutan seperti komentar, remix, dan reinterpretasi dapat memperluas atau menggeser makna sebuah konten secara substantif. Raisya menjelaskan bahwa setiap orang dapat menambahkan perspektif baru pada konten viral, sehingga makna asli berkembang menjadi beberapa bentuk baru seiring bertambahnya interpretasi kolektif pengguna.
Ia menilai bahwa kondisi ini dapat memperkaya wacana apabila pemahaman pengguna terhadap konteks cukup kuat, tetapi juga dapat menimbulkan penyimpangan apabila dilakukan tanpa membaca maksud awal konten.
Diandra menambahkan bahwa perpindahan konten dari satu platform ke platform lain sering membuat humor kehilangan konteks, sehingga audiens yang tidak familiar dengan versi awal akan menangkap pesan secara berbeda atau bahkan salah sepenuhnya.
Ia menyebut bahwa kondisi ini menciptakan perbedaan pengalaman pemaknaan antara kelompok yang paham budaya digital dan kelompok yang tidak mengikuti perkembangan meme secara intens.
Dari gabungan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa produksi makna dalam ruang digital bersifat sangat dinamis karena setiap interaksi publik berpotensi mengubah arah penafsiran. Seluruh temuan ini menegaskan adanya pola konsisten bahwa meme dan humor digital membentuk realitas bahasa publik yang cair, berubah cepat, dan sangat bergantung pada kompetensi budaya penggunanya.
2.2 Pembahasan
2.2.1 Transformasi Bahasa Publik dalam Kultur Meme dan Satire Digital
Perubahan bahasa publik yang muncul dari budaya meme memperlihatkan bahwa masyarakat kini lebih mengandalkan humor, spontanitas, dan pengakuan bersama sebagai dasar komunikasi. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pengguna tidak lagi bergantung pada tata bahasa baku ketika memahami isu, melainkan pada ekspresi yang akrab dalam budaya internet.
Pola ini sejalan dengan temuan Absari (2025) yang menyebut meme sebagai bentuk wacana budaya yang bekerja melalui kedekatan simbolik, bukan keformalan struktur bahasa. Di ruang seperti ini, bahasa bergerak mengikuti ritme viralitas yang menuntut kecepatan lebih daripada ketepatan. Hal inilah yang menyebabkan kosakata populer di media sosial mengambil alih fungsi penjelasan yang sebelumnya dimiliki oleh paragraf panjang.
Allifiansyah (2016) juga menunjukkan bahwa kaum muda menggunakan bahasa meme sebagai wadah untuk memaknai isu politik tanpa merasa terbebani oleh gaya formal.
Pergeseran tersebut memperlihatkan bahwa bahasa publik tidak lagi mengikuti aturan institusional, melainkan mengikuti cara masyarakat bernegosiasi dengan ruang digital yang bergerak sangat cepat. Pengubahan inilah yang menjadi dasar transformasi bahasa publik Indonesia hari ini.
Kecenderungan masyarakat menafsirkan pesan melalui visual juga memperlihatkan bagaimana mekanisme membaca publik telah bergeser. Berdasarkan wawancara, gambar sering kali menjadi pintu masuk pemahaman sebelum teks dibaca, atau bahkan menggantikan fungsi teks sepenuhnya.
Pola ini sesuai dengan analisis Hamdi dkk. (2025) yang menyebut bahwa meme bekerja dengan memadatkan pesan ke bentuk yang sangat singkat sehingga aspek visual menjadi penentu makna utama.
Namun, pemampatan makna tersebut tidak selalu menguntungkan karena konteks sering kali hilang atau berubah saat konten berpindah ruang. Fajar (2022) menegaskan bahwa humor visual dapat menciptakan pembacaan yang keliru ketika pengguna tidak memahami referensi dalam gambar.
Perubahan cara membaca ini menjelaskan mengapa opini publik dapat berubah sangat cepat, meskipun hanya dipicu oleh satu gambar yang tampil meyakinkan. Dengan demikian, visual bukan lagi sekadar pendukung bahasa, melainkan aktor utama dalam pembentukan makna di ruang digital.
Humor yang melandasi meme juga memainkan peran strategis dalam cara masyarakat menafsirkan isu. Narasumber menggambarkan bahwa humor menciptakan jarak emosional yang membuat topik sensitif lebih mudah dibicarakan.
Baca juga: Ketika Meme Menjadi Bahasa Rasa: Seni Komunikasi yang Tidak Terucap
Temuan tersebut sesuai dengan analisis Wahyudi (2025) yang melihat meme sebagai mekanisme kontrol sosial yang bekerja melalui kelucuan, sehingga kritik dapat disampaikan tanpa memicu resistensi yang berlebihan.
Namun, hadirnya humor tidak selalu menghasilkan pembacaan yang lebih kritis. Banyak kasus menunjukkan bahwa substansi sering kali redup atau hilang karena publik lebih tertarik pada aspek kelucuannya.
Irmadini dkk. (2025) menjelaskan bahwa generasi muda cenderung memprioritaskan hiburan saat berinteraksi dengan isu, sehingga refleksi mendalam hanya terjadi pada sebagian kecil pengguna.
Situasi ini menunjukkan bahwa humor bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga filter kognitif yang memengaruhi cara orang menyaring informasi. Dengan demikian, transformasi bahasa publik tidak sekadar berupa perubahan gaya tutur, melainkan perubahan cara kerja pikiran dalam menghadapi realitas sosial.
2.2.2 Dinamika Pemaknaan dan Konstruksi Makna Kolektif di Ruang Digital
Pemaknaan terhadap meme sangat bergantung pada pengalaman dan pengetahuan setiap pengguna. Wawancara menunjukkan bahwa individu yang sudah terbiasa berinteraksi dengan budaya internet lebih mudah mengidentifikasi ironi atau kritik tersembunyi.
Sebaliknya, pengguna yang kurang akrab cenderung membaca meme secara literal, sehingga makna yang ditangkap berbeda dari yang dimaksudkan.
Kondisi ini senada dengan temuan Absari (2025) yang menyebut bahwa meme hanya bisa dipahami secara utuh ketika pengguna memiliki konteks budaya yang sama dengan pembuatnya.
Perbedaan konteks tersebut menjelaskan mengapa satu meme dapat dipahami secara bertolak belakang oleh kelompok pengguna yang berbeda.
Fajar (2022) juga menegaskan bahwa humor berbasis satire sangat rentan disalahpahami karena membutuhkan kepekaan yang tidak dimiliki semua orang. Hal ini menunjukkan bahwa pemaknaan meme bukan proses spontan, melainkan hasil dari kompetensi budaya digital yang tidak merata di tengah masyarakat.
Makna meme juga tidak pernah stabil karena selalu diproduksi ulang oleh interaksi pengguna. Wawancara mengungkapkan bahwa komentar, remix, dan unggahan ulang dapat mengubah pesan asli secara signifikan, bahkan bertolak belakang dari konteks awalnya.
Proses ini diperjelas oleh Wahyudi (2025) yang memaparkan bahwa meme berfungsi sebagai ruang wacana terbuka di mana makna selalu dinegosiasikan ulang oleh penggunanya.
Irmadini dkk. (2025) juga menemukan bahwa generasi muda menjadikan meme sebagai bentuk dialog nonformal yang memungkinkan makna bergerak secara fleksibel mengikuti aliran percakapan digital.
Perubahan makna ini menunjukkan bahwa pengguna bukan lagi penerima pasif, melainkan aktor yang berperan aktif dalam membentuk orientasi wacana publik.
Akibatnya, makna sebuah meme selalu bersifat temporer dan bergantung pada siapa yang membacanya serta ruang digital tempat ia beredar. Dengan demikian, dinamika pemaknaan di internet adalah proses sosial yang tidak pernah selesai.
Ketimpangan literasi digital juga menciptakan lapisan interpretasi yang tidak merata di masyarakat. Narasumber menggambarkan bahwa sebagian pengguna memahami meme secara mendalam karena memiliki referensi budaya yang luas, sementara yang lainnya hanya menangkap permukaannya saja.
Fenomena ini sejalan dengan temuan Allifiansyah (2016) yang menyebut bahwa meme berfungsi sebagai penanda identitas tertentu, sehingga hanya dapat dipahami sepenuhnya oleh kelompok yang berada dalam komunitas tersebut. Hamdi dkk. (2025) menambahkan bahwa ragam bahasa meme menciptakan komunitas penutur yang memiliki kode simbolik tersendiri.
Ketimpangan ini menjelaskan mengapa satu meme dapat menjadi sangat lucu dan informatif bagi sebagian orang, tetapi dianggap tidak masuk akal oleh kelompok lain.
Perbedaan ini tidak hanya menciptakan keragaman interpretasi, melainkan juga memengaruhi cara opini publik terbentuk.
Dengan demikian, dinamika pemaknaan meme mencerminkan struktur sosial baru dalam masyarakat digital yang ditentukan oleh akses dan kompetensi budaya.
2.2.3 Risiko Penyederhanaan Isu dan Dampaknya terhadap Literasi Publik
Salah satu risiko utama dari penggunaan meme adalah kecenderungan publik untuk memahami isu secara dangkal. Berdasarkan wawancara, banyak pengguna merasa telah memahami suatu isu hanya dengan melihat satu konten lucu yang sedang viral. Padahal, seperti dijelaskan Fajar (2022), satire dalam meme sering kali mengeliminasi elemen penting dari isu yang sedang dibahas.
Ketika konteks dihilangkan, humor justru menciptakan ilusi bahwa pengguna telah memahami inti permasalahan. Temuan Wahyudi (2025) juga memperlihatkan bahwa parodi dapat menutupi bagian paling kritis dari isu, sehingga publik hanya menangkap lapisan permukaannya saja.
Kondisi ini membuat literasi publik menjadi rapuh karena pemahaman didasarkan pada potongan informasi yang terdistorsi. Oleh karena itu, penyederhanaan isu melalui meme perlu dipahami sebagai masalah struktural dalam budaya digital saat ini.
Kecepatan penyebaran meme membuat kesalahan interpretasi menyebar lebih cepat daripada klarifikasinya. Wawancara memperlihatkan bahwa humor memicu respons emosional cepat yang membuat pengguna cenderung bereaksi tanpa mempertimbangkan kebenaran informasi terlebih dahulu.
Fenomena ini sejalan dengan Absari (2025) yang menemukan bahwa humor digital memperkuat respons instan dan mengurangi kecenderungan publik untuk melakukan verifikasi. 2 Irmadini dkk. (2025) juga menyebut bahwa konsumsi visual yang cepat membuat pengguna mengambil keputusan berdasarkan kesan singkat, alih-alih melalui analisis yang mendalam.
Ketika sebuah meme diterima sebagai “representasi kebenaran”—yang padahal merupakan versi penyederhanaan—bias kognitif audiens akan semakin menguat. Dengan demikian, viralitas bukan hanya mempercepat sirkulasi informasi, melainkan juga mengakselerasi distorsi makna di ruang publik.
Dalam jangka panjang, pola penyederhanaan seperti ini berpotensi membentuk kebiasaan baru dalam mengonstruksi pemikiran atas isu sosial. Narasumber menggambarkan bahwa banyak isu serius yang diposisikan seolah-olah hanya menjadi bahan bercanda karena publik terbiasa melihatnya dalam format humor.
Allifiansyah (2016) menunjukkan bahwa generasi muda sering menjadikan dinamika politik sekadar sebagai hiburan, bukan sebagai persoalan publik yang membutuhkan perhatian serius. Fajar (2022) juga menegaskan bahwa humor digital dapat mengikis sensitivitas masyarakat terhadap persoalan yang membutuhkan pemikiran mendalam.
Hal ini membuat ruang publik kehilangan kapasitas reflektifnya dan cenderung bergerak mengikuti arus hiburan massa. Dengan demikian, risiko penyederhanaan isu melalui meme bukan sekadar fenomena kebahasaan, melainkan persoalan mendasar yang memengaruhi kualitas literasi sosial dan politik masyarakat.
BAB III: KESIMPULAN DAN SARAN
Perkembangan meme dan satire digital telah membawa perubahan mendasar dalam realitas kebahasaan dan budaya publik Indonesia. Bahasa politik yang sebelumnya formal, argumentatif, dan berbasis logika, kini bertransformasi menjadi ringkas, visual, dan humor.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa meme tidak hanya mengubah cara pesan disampaikan, melainkan juga cara masyarakat memahami dan menafsirkan informasi politik. Proses pemaknaan menjadi lebih cepat, dinamis, dan bergantung pada kompetensi literasi digital masing-masing individu.
Di satu sisi, meme mampu mendekatkan isu politik kepada generasi muda dengan cara yang lebih ringan dan mudah diakses. Namun, di sisi lain, penyederhanaan pesan, hilangnya konteks, serta dominasi humor berpotensi menurunkan kedalaman pemahaman publik.
Akibatnya, ruang diskursus publik cenderung bergeser dari pertukaran gagasan yang rasional menuju respons emosional yang impulsif. Dengan demikian, fenomena ini menunjukkan bahwa meme dan satire digital berperan sebagai pedang bermata dua: berfungsi untuk memperluas partisipasi politik, sekaligus berisiko melemahkan kualitas literasi dan kohesi sosial dalam masyarakat.
Melihat kompleksitas dampak tersebut, diperlukan upaya strategis untuk meningkatkan kualitas literasi digital masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Pendidikan kewarganegaraan perlu beradaptasi dengan memasukkan pembelajaran kritis terhadap media digital, termasuk kemampuan memahami konteks, mengenali satire, dan memverifikasi informasi.
Selain itu, pengguna media sosial diharapkan lebih reflektif dalam mengonsumsi dan menyebarkan konten, sehingga tidak hanya terpaku pada aspek hiburan tetapi juga mempertimbangkan substansi pesan. Pemerintah dan institusi pendidikan juga dapat berperan aktif dengan mendorong kampanye literasi digital yang relevan dengan budaya populer agar lebih mudah diterima oleh Generasi Z.
Di sisi lain, kreator konten diharapkan mampu menghadirkan meme yang tidak hanya menarik secara visual, melainkan juga edukatif dan bertanggung jawab secara sosial. Melalui kombinasi antara literasi kritis, kesadaran pengguna, dan tanggung jawab kreator, budaya meme dapat diarahkan menjadi sarana komunikasi publik yang tidak hanya menarik, melainkan juga mencerdaskan dan memperkuat kualitas demokrasi Indonesia.
CATATAN KAKI
1. Pahrun. (2015). Analisis Meme Politik Pilpres 2014. Jurnal Komunikasi Politik Indonesia.
2. Arifin, M., & Chairiyati, S. (2017). Analisis Meme Politik Pilkada DKI 2017. Jurnal Komunikasi Indonesia, 6(2), 45-58.
3. Nugraha, D. S., dkk. (2019). Pemetaan Meme Politik Pasca Pilpres 2019. Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi, 8(2), 58-66.
4. Nugraha, D. S. (2025). Examining Political Satire in Indonesian TikTok Videos. LANGUAGE CIRCLE, 19(2), 280-297.
5. Safwan, Y. (2022). Fenomena Bahasa Satire dalam Meme di Media Sosial. Sinar Dunia, 1(4), 52-61.
6. Prabawangi, R. P., & Fatanti, M. N. (2021). Meme Politik dalam Ruang Wacana Komunikasi Politik. Diakom, 4(2).
7. Absari, Chairullia. “Kebebasan berekspresi di era meme: Dinamika budaya, kreativitas, dan etika digital.” Hudan Lin Naas: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora 6, no. 2 (2025): 175-192.
8. Allifiansyah, Sandy. “Kaum muda, meme, dan demokrasi digital di Indonesia.” Jurnal Ilmu Komunikasi 13, no. 2 (2016): 151-164. (Tahun disesuaikan dari 2015 menjadi 2016 sesuai daftar).
9. Hamdi, I., R. Cahyoadji, N. Lutfia, S. P. Nur Islami, and S. Auliatul. “Analisis Ragam Bahasa Dalam “Internet Memes” di Media Sosial.” Jurnal Pendidikan West Science 3, no. 01 (2025): 69-75. (Pada teks menggunakan “Hamdi dkk.” karena penulis lebih dari dua).
10. Fajar, Y. S. “Fenomena Bahasa Satire Dalam Meme di Media Sosial.” Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Ilmu Pendidikan 1, no. 4 (2022): 52–61. (Tahun disesuaikan dari 2020 menjadi 2022 sesuai daftar).
11. Wahyudi, Untung. “Narasi Meme sebagai Mekanisme Kontrol Sosial: Analisis Wacana Visual dalam Budaya Digital.” Journal of Mandalika Social Science 3, no. 1 (2025): 48-54.
12. Irmadini, Ismi Melati, Eko Purwanto, Fitri, Nina Agustin, and Meli Agustin. “Budaya Meme Sebagai Ekspresi Budaya Populer Generasi Z.” Jurnal Desain Komunikasi Visual 2, no. 3 (2025): 10. (Tahun disesuaikan dari 2024 menjadi 2025, penulisan di teks menggunakan “Irmadini dkk.”).
13. Absari (2025). Ibid.
14. Fajar (2022). Ibid.
15. Wahyudi (2025). Ibid.
16. Irmadini dkk. (2025). Ibid.
17. Allifiansyah (2016). Ibid.
18. Hamdi dkk. (2025). Ibid.
19. Fajar (2022). Ibid.
20. Wahyudi (2025). Ibid.
21. Absari (2025). Ibid.
22. Irmadini dkk. (2025). Ibid.
23. Allifiansyah (2016). Ibid.
24. Fajar (2022). Ibid.
DAFTAR PUSTAKA
Absari, C. (2025). Kebebasan berekspresi di era meme: Dinamika budaya, kreativitas, dan etika digital. Hudan Lin Naas: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. doi:10.28944/hudanlinnaas.v6i2.2340
Allifiansyah, S. (2015). Kaum muda, meme, dan demokrasi digital di Indonesia. Jurnal Ilmu Komunikasi. doi:10.24002/jik.v13i2.676
Fajar, Y. S. (2020). Fenomena bahasa satire dalam meme di media sosial. Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan. doi:10.58192/sidu.v1i4.223
Hamdi, I., Cahyoadji, R., Lutfia, N., Nur Islami, S. P., & Auliatul, S. (2025). Analisis ragam bahasa dalam “internet memes” di media sosial. Jurnal Pendidikan West Science. doi:10.58812/jpdws.v3i01.1801
Irmadini, I. M., Purwanto, E., et al. (2024). Budaya meme sebagai ekspresi budaya populer Generasi Z. Jurnal Desain Komunikasi Visual. doi:10.47134/dkv.v2i3.4273
Nugraha, D. S. (2025). Examining Political Satire in Indonesian TikTok Videos: An Analysis of Humor and Commentary. Language Circle: Journal of Language and Literature, 19(2), 280-297.
Prabawangi, R. P., & Fatanti, M. N. (2021). Meme Politik Dalam Ruang Wacana Komunikasi Politik Di Indonesia. Diakom, 4(2), 369982.
Soebakir, D. R., Pratama, B. I., & Hair, A. (2020). Pemetaan Meme Politik Pasca Pemilihan Umum Presiden Indonesia 2019: Mapping Political Memes Post 2019 Indonesian Presidential Election. Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi, 8(2), 58-66.
Wahyudi, U. (2025). Narasi meme sebagai mekanisme kontrol sosial: Analisis wacana visual dalam budaya digital. Journal of Mandalika Social Science. doi:10.59613/jomss.v3i1.251
Penulis:
Muhammad Zacky Mahendra P.Z. (255120600111008)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Brawijaya
Clara Nur Zahrah Wahidah (255120601111010)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Brawijaya
Aditya Nugraha (255120600111013)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Brawijaya
Nessya Enelita Qisthy (255120601111002)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Brawijaya
Nesia Viviyanti Sitompul (255120607111022)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Brawijaya
Dosen Pengampu: Andi Setiawan, S.IP., M.Si.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














