Potensi Mikroalga Laut sebagai Pelopor Biofuel Masa Depan

Biofuel mikroalga

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia dihadapkan pada realitas ekonomi yang menantang akibat fluktuasi dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Kenaikan ini dipicu oleh dua faktor utama, di antaranya tingginya ketergantungan Indonesia pada minyak mentah (crude oil) akibat penurunan produksi (lifting) minyak domestik serta ketidakstabilan harga minyak mentah dunia.

Ketergantungan yang tinggi pada bahan bakar fosil tidak hanya membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, tetapi juga mempercepat krisis lingkungan akibat emisi karbon.

Sebagai negara maritim dengan garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan krisis energi ini melalui optimalisasi sumber daya laut.

Mikroalga merupakan salah satu komoditas laut yang belum dieksplorasi secara maksimal, khususnya dari divisi Chlorophyta (alga hijau).

Eksplorasi Chlorophyta sebagai bahan baku biofuel menjadi langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian energi nasional, menstabilkan harga, dan mendukung transisi menuju energi berkelanjutan.

Bagaimana Pemanfaatan Chlorophyta sebagai Biofuel?

Chlorophyta merupakan salah satu divisi mikroalga yang mempunyai kandungan lipid atau lemak di dalam sel. Chlorophyta dikenal memiliki dinding sel yang mampu mengakumulasi lipid dalam jumlah besar, terutama TAG.

Menurut Doan et al. (2026), Chlorophyta, khususnya pada spesies Chlorella, Scenedesmus, dan Tetraselmis, dapat menyimpan energi hingga lebih dari 30% dari berat kering selnya dalam bentuk trigliserida (TAG). Pada kondisi stres tertentu, kandungan lipid dapat meningkat hingga 50% dari berat keringnya.

Minyak tersebut kemudian diekstraksi dan diproses melalui transesterifikasi menjadi biodiesel berkualitas tinggi. Berbeda dengan tanaman penghasil biofuel lainnya, seperti sawit dan tebu yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk panen, Chlorophyta memiliki siklus hidup yang singkat dan dapat membelah diri dalam hitungan jam. Dengan demikian, lahan yang relatif kecil mampu menghasilkan minyak dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Proses Chlorophyta Menjadi Biofuel

Drying

Proses pertama diawali dengan tahap pemanenan dan dewatering. Setelah mikroalga mencapai puncak kepadatan sel dan kandungan lipid tertinggi di dalam kolam budidaya, biomassa yang melayang di dalam air laut dipisahkan menggunakan teknik flokulasi atau sentrifugasi.

Proses ini menghasilkan pasta alga pekat yang kemudian harus dikeringkan sepenuhnya, baik melalui penjemuran di bawah sinar matahari maupun metode spray drying, untuk menghilangkan kadar air.

Ekstraksi Lipid

Proses dilanjutkan ke tahap ekstraksi lipid. Struktur dinding sel Chlorophyta yang sangat kokoh membuat mekanisme pemecahan dinding sel harus dilakukan terlebih dahulu menggunakan gelombang ultrasonik.

Setelah dinding sel hancur, pelarut organik seperti n-heksana dialirkan untuk mengikat minyak yang keluar dari dalam sel.

Campuran pelarut dan minyak tersebut kemudian dipanaskan agar pelarut menguap dan dapat digunakan kembali, sehingga menyisakan minyak alga murni yang siap dikonversi.

Transesterifikasi

Minyak alga murni yang diperoleh belum dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan karena memiliki tingkat viskositas yang terlalu tinggi.

Oleh karena itu, minyak tersebut harus melalui proses transesterifikasi, yaitu trigliserida dari minyak alga direaksikan dengan alkohol rantai pendek, seperti metanol, menggunakan katalis basa (NaOH atau KOH).

Reaksi kimia ini memutus rantai lemak kompleks dan menghasilkan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai senyawa penyusun biodiesel berkualitas tinggi, serta menghasilkan produk sampingan berupa gliserol yang memiliki nilai ekonomi bagi industri kosmetik.

Pada tahap akhir, biodiesel maupun bioetanol mentah yang dihasilkan akan melalui proses pemurnian, pencucian, dan filtrasi untuk menghilangkan sisa katalis serta alkohol agar memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), sehingga siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.


Penulis: Swietenia Purnamasari
Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Jenderal Soedirman


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses