Surakarta, MMI – Guna mencetak tenaga ahli kebencanaan yang profesional dan siap pakai, mahasiswa Program Studi Manajemen Penanggulangan Bencana Politeknik Akbara Surakarta sukses menyelesaikan pelatihan intensif Pertolongan pada Ketinggian (High Angle Rescue).
Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kota Surakarta selama tiga hari, mulai tanggal 9 hingga 11 Desember 2025.
Pelatihan ini diikuti oleh gabungan mahasiswa lintas angkatan, yakni dari semester 1, 3, dan 5. Kolaborasi ini bertujuan untuk menyeragamkan standar kompetensi teknis mahasiswa sejak dini sebelum terjun ke lokasi bencana yang sebenarnya.
Mentalitas dan Fisik Jadi Kunci Utama
Tri Puji, instruktur dari Basarnas Surakarta, menegaskan bahwa modal utama seorang penyelamat (rescuer) tidak hanya keberanian. Berdasarkan standar operasional Basarnas, ada fondasi utama yang wajib dimiliki sebelum bicara soal teknik.
“Tentunya untuk menjadi seorang rescuer itu ada tiga unsur. Yang pertama skill, pengalaman, terus mentalitas. Fisik, mentalitas, skill, itu yang paling utama,” tegas Tri Puji saat memberikan materi kepada mahasiswa.
Menurutnya, ketahanan fisik dan kestabilan mental sangat menentukan keberhasilan operasi, mengingat tidak ada manusia yang sempurna, namun kesiapan jasmani dan rohani harus selalu dijaga.
Uji Adrenalin di Tower 15 Meter
Setelah pemantapan teori, para mahasiswa langsung dihadapkan pada praktik lapangan yang menantang di tower latihan setinggi 15 meter. Di sini, mahasiswa mempraktikkan teknik ascending (naik tali) dan descending (turun tali/rappelling).
Maheswara Padantya Saputra, peserta semester 5, mengungkapkan bahwa praktik di ketinggian 15 meter ini sangat efektif untuk melatih kedisiplinan terhadap prosedur keselamatan (safety procedures). Satu kesalahan kecil dalam pembuatan simpul atau pemasangan alat bisa berakibat fatal, sehingga fokus tinggi sangat dituntut.
Kuasai Teknik Evakuasi Kompleks
Selain teknik perorangan, mahasiswa juga mendalami teknik evakuasi beregu. Hasanah Ayu Hapsari, salah satu peserta, menuturkan bahwa materi yang diberikan instruktur sangat mendalam, terutama mengenai sistem pemindahan korban yang cedera.
“Kami diajarkan cara memasang sistem lifting (pengangkatan) dan lowering (penurunan), serta manajemen tandu. Ini memberikan pemahaman teknis yang nyata bagi kami sehingga lebih paham penggunaan alat,” ungkap Hasanah.
Baca Juga: Membangun Budaya Selamat di Kawasan Rawat Bencana: Erupsi Gunung Semeru
Kemampuan melakukan lifting dan lowering ini sangat krusial dalam skenario bencana di mana korban tidak mampu bergerak sendiri dan harus dievakuasi dari area curam atau gedung bertingkat dengan aman.
Pahami Tupoksi Operasi SAR
Tak hanya soal teknik, mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) Basarnas agar tidak terjadi tumpang tindih peran saat di lapangan. Tri Puji menjelaskan secara spesifik kapan Basarnas turun tangan.
“Tupoksi kami untuk Badan SAR Nasional itu adalah pencarian dan pertolongan. Intinya kami itu tugasnya adalah tim evakuasi manusia dalam keadaan bahaya maupun dalam keadaan pencarian,” jelas Tri Puji.
Dengan selesainya pelatihan ini, mahasiswa Politeknik Akbara Surakarta kini telah mengantongi bekal kompetensi teknis yang mumpuni serta pemahaman operasional yang tepat, menjadikan mereka aset berharga bagi dunia penanggulangan bencana di masa depan.
Penulis: Maheswara Padantya Saputra
Mahasiswa Manajemen Penanggulangan Bencana Politeknik Abdi Kemanusiaan Bangsa dan Negara (AKBARA) Surakarta
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














