Erupsi Semeru dan Realitas Kerentanan Indonesia
Gunung Semeru di Jawa Timur yang berada di perbatasan Lumajang dan Malang kembali meletus pada Rabu, 19 November 2025 sore hari. Aktivitas vulkanis meningkat, disertai luncuran material dan awan panas sejauh 7 km dari puncaknya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan statusnya hingga level IV atau awas.
Indonesia terletak pada Sirkum Pasifik terbesar dan teraktif di dunia atau yang dikenal sebagai Pasifik Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Dengan panjang lebih dari 40.000 km, Cincin Api Pasifik mencakup sekitar 75% gunung berapi aktif di dunia. Sekitar 127 dari 457 gunung berapi di Sirkum Pasifik tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Tak heran mengapa Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari masa ke masa sering merujuk pada posisi Indonesia tersebut sebagai alasan utama terjadinya bencana alam. Kondisi geografis ini menyebabkan masyarakat hidup berdampingan dengan potensi letusan gunung berapi.
Kerusakan akibat letusan tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga memberikan dampak kesehatan seperti gangguan pernapasan akibat abu vulkanik. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana berada dalam situasi rentan apabila tidak memiliki sistem mitigasi dan kesiapsiagaan yang memadai.
Baca juga: Dampak Erupsi Gunung Semeru terhadap Masyarakat Sekitar
Bagaimana Peran Keselamatan?
Laporan dari PVMBG melalui aplikasi MAGMA (Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia) mencatat terdapat 4.308 letusan gunung api di Indonesia terhitug dari awal tahun 2025.
Gunung api yang paling banyak meletus menurut GoodStats adalah Semeru, yaitu sebanyak 1.819 kali hingga 19 November 2025. Riwayat erupsi ini menunjukkan pola aktivitas vulkanik yang terus berulang sejak pertama kali tercatat pada tahun 1.818.
Erupsi gunung berapi merupakan kejadian yang tidak dapat dicegah, namun dampaknya dapat ditekan apabila aspek keselamatan diterapkan secara menyeluruh. Namun, fokus penanganan dalam banyak kasus sering lebih bertumpu pada tahap pasca-kejadian dibanding pencegahan.
Padahal, prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menekankan pentingnya kesiapsiagaan, identifikasi bahaya, serta pengendalian risiko sebagai langkah awal untuk melindungi manusia dari potensi cedera maupun kematian.
Mengenali Bahaya Erupsi dari Persprektif K3
Dalam pendekatan K3, langkah pertama adalah melakukan identifikasi bahaya. Pada erupsi Semeru, berbagai bahaya dapat muncul mulai dari gugurnya awan panas yang bersifat fatal, abu vulkanik yang mengganggu pernapasan dan penglihatan, serts ancaman lahar yang dapat menyeret apa saja di jalurnya.
Tidak hanya masyarakat, tim SAR (Search and Rescue) dan relawan juga menghadapi bahaya tambahan seperti runtuhan bangunan, jalur terputus, serta paparan panas berlebih. Dengan mengenali jenis bahaya secara cepat, langkah mitigasi dapat disusun lebih efektif.
Menghitung Dampak pada Masyarakat dan Petugas
Setelah bahaya diidentifikasi, tahap berikutnya adalah menilai risiko berdasarkan tingkat keparahan dan kemungkinan terpapar. Pada erupsi Semeru, beberapa wilayah pemukiman beraada terlalu dekat dengan zona merah (bahaya), sehingga peluang paparan semakin tinggi.
Selain itu, terbatasnya akses informasi dan minimnya sistem peringatan dini menyebabkan proses evakuasi sering dilakukan mendadak. Tanpa penilaian risiko yang akurat, kebijakan penanganan bencana akan bersifat reaktif dan tidak mampu melindungi masyarakat secara maksimal.
Strategi Pengendalian Risiko di Kawasan Rawan Letusan
Dalam hirarki pengendalian K3, pilihan utama adalah eliminiasi yaitu dengan memindahkan masyarakat yang berada di kawasan zona merah. Pengendalian secara teknis dapat dilakukan dengan menyediakan jalur evakuasi, papan informasi bahaya, dan early warning system yang mudah dipahami masyarakat.
Pada segi administratif, adanya SOP (Standar Operasional Prosedur) evakuasi, pelatihan simulasi, dan edukasi masyarakat mengenai bahaya gunung berapi sangat diperlukan. Selain itu, penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) berupa masker N95, helm, goggles, dan respirator penting untuk petugas dan relawan dalam menjaga keselamatan.
Kunci Mengurangi Korban Erupsi
Salah satu faktor yang memperburuk mitigasi bencana di Indonesia adalah lemahnya budaya selamat di tengah masyarakat. Mayoritas masyarakat menganggap peringatan dini sebagai hal sepele.
Bahkan ada yang memilih untuk tetap bertahan di rumah meski berada di kawasan zona merah. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya simulasi rutin dan minimnya akses edukasi kebencanaan. Pembentukan budaya selamat membutuhkan komitmen jangka panjang dengan kolaborasi pemerintah, lembaga pendidikan, serta masyarakat itu sendiri.
Kesiapsiagaan Berbasis K3 sebagai Investasi Keselamatan Bangsa
Terjadinya erupsi Semeru memberi pengingat bahwa keselamatan harus menjadi prioritas dalam setiap peraturan kebencanaan. Dengan menerapkan prinsip K3 di seluruh tingkatan mulai dari masyarakat hingga pemerintah, dampak bencana dapat diminimalkan secara terpengaruh.
Kesadaran, edukasi, dan penerapan prosedur keselamatan yang baik merupakan kunci untuk menciptakan masyarakat yang lebih siap sedia dalam menghadapi bencana alam di masa mendatang.
Penulis: Idhea Awaly Nurlathifah
Mahasiswi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Universitas Airlangga
Dosen Pengampu: Deddy Kurniawansyah, SE.MA., Ak., CA., ASEANCPA., CertDA., Ph.D
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














