Bagaimana AI Bikin Ketegangan Iran-Israel Makin Memanas?

Kecerdasan Buatan
Ilustrasi Rudal (Sumber: MMI)

Salah satu dampak AI yang paling terlihat dalam ketegangan Iran-Israel adalah di bidang militer. Israel yang berafiliasi dengan AS jelas mendapat sumber daya yang sangat besar dalam ketegangan yang tengah berlangsung.

Salah satu contohnya adalah sistem Iron Dome yang menggunakan kecerdasan AI yang berhasil mendeteksi dan menangkal serangan rudal dari Iran. Hal ini membuat sistem pertahanan Israel semakin kokoh dan sulit untuk ditembus.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, Iran juga tak mau kalah dengan Israel yang mempunyai sistem canggih abad 21 ini. Mereka sedang proses mengembangkan drone bersenjata yang sama-sama menggunakan kecerdasan AI untuk menavigasi penargetan.

Drone buatan Iran terbang lebih lama dan menghindari deteksi radar. Di antara drone-drone itu diketahui pula dua model paling terkenal milik Iran, yakni Shaded 129 dan Shaded 136 (Mengutip dari Tempo). Keduanya dimaksudkan untuk menembus pertahanan udara Israel yang sekaligus membantu rudal balistiknya untuk menghantam target.

AS sebagai sekutu Israel tak kurang-kurang membantu dengan skala besar termasuk dengan membagikan teknologi AI yang dikembangkannya. Tapi, hal ini juga memicu semangat dan kewaspadaan Iran dengan mengembangkan teknologi AI nya.

Fenomena yang terjadi layaknya permainan bidak catur yang semakin kilat. Kecerdasan AI membuat serangan demi serangan menjadi lebih presisi dan juga menambah efek dahsyat yang akan ditimbulkan. Kalau dilihat dari sudut pandang lain, ini juga beresiko terhadap eskalasi serangan yang lebih tinggi dan berdampak lebih besar dan luas.

Misal ketika satu pihak melancarkan serangan secara mendadak dengan eskalasi yang cukup besar, maka besar kemungkinan pihak lawan akan melancarkan serangan balasan dengan skala lebih besar lagi. Makannya dengan adanya AI di tengah-tengah ketegangan yang terjadi antara Iran-Israel sangat riskan akan resiko yang berdampak seperti efek domino.

Selain peran AI di bidang fisik seperti militer, AI juga berperan besar di dunia maya. Sebagai contohnya Israel mempunyai unit cyber seperti Unit 8200 yang digunakan untuk meretas sistem Iran.

Unit 8200 ini setara dengan Badan Keamanan Nasional AS atau GCHQ Inggris dan merupakan unit militer tunggal terbesar di pasukan pertahanan Israel. Unit ini merupakan turunan turunan dari unit-unit pemecah kode dan intelijen awal yang dibentuk pada kelahiran negara Israel tahun 1984 (Mengutip dari Tempo).

Baca juga: Artificial Intelligence vs Kemanusiaan

Iran kembali tidak hanya berdiam diri tetapi justru terpicu untuk mengimbangi kekuatan serangann cyber dari Israel yang dibantu oleh AS. Iran diketahui menggunakan “proksi” sebagai tools dalam operasi serangan cyber.

Menurut salah satu artikel mengatakan bahwa mulai dari tahun 2012, setidaknya serangan cyber milik Iran sudah tak hanya sekadar merusak situs web biasa tetapi berkembang jadi denial of service dan jenis serangan lain yang bisa mengganggu atau menghancurkan sistem.

Hal ini meliputi serangan penolakan layanan distribusi (DDoS) yang membuat orang tidak bisa mengakses situs target, ditambah serangan lebih parah yang bisa menghapus data atau mematikan komputer lawan sepenuhnya.

Sejalan dengan teori geopolitik menurut Guilio Douhet, W. Mitchel, Saversky dan J.F Charless Fuller yang menerangkan bahwa kekuatan udara paling menentukan dalam penguasaan suatu wilayah atau selanjutnya disebut dengan “Wawasan Dirgantara”.

Melihat ketegangan yang sedang terjadi antara Iran-Israel yang saling serang menggunakan jalur udara, ditambah lagi dengan keduanya masing-masing terus mengembangkan daya serang udara mereka dengan kecerdasan AI menciptakan atmosfer pertempuran yang mencekam.

Secara keseluruhan, AI telah mengubah dinamika ketegangan Iran-Israel. Menggeser pola konflik dari yang sebelumnya sangat bergantung terhadap operasi militer konvensional menjadi peperangan dengan konsep hybrid yang jelas lebih kompleks.

Perubahan ini bukan hanya menambah kengerian peperangan secara fisik tetapi ditambah dengan ruang digital yang di mana derasnya informasi semakin mudah dikendalikan, lebih jauhnya dimanipulasi ditambah dengan jaringan yang dengan mudah dilumpuhkan dan tentunya strategi perang dapat diubah hanya dalam hitungan detik.

Untuk dapat menekan ketegangan yang terjadi apalagi di era digitalisasi ini yang semakin deras akan segala informasi dan teknologi, beberapa langkah dapat dipertimbangkan sebagai upaya meminimalisir eskalasi.

Pertama, perlunya mekanisme komunikasi darurat yang turut melibatkan pihak ketiga yang netral guna memitigasi mis-kalkulasi akibat serangan cyber ataupun berbagai gangguan sistem yang mudah disalahartikan sebagai agresi militer.

Kedua, dapat ditempuh dengan transparansi teknologi yang disepakati secara internasional. Hal ini menjadi penting untuk mengatur penggunaan teknologi terbarukan seperti AI dalam sistem pertahanan agar tidak menimbulkan kecurigaan berlebih dan menciptakan eskalasi yang lebih besar.

Ketiga, kerja sama global menjadi pamungkas dalam menekan ketegangan yang terjadi antara Iran-Israel, yaitu dengan cara menetapkan etika penggunaan AI di ranah militer. Karena ketika penggunaan AI tidak dibatasi secara jelas, alih-alih mempermudah dan memperkuat pertahanan, justru malah menjadi stimulus munculnya konflik baru.

 

Penulis: Naufal Farhan Nabil
Mahasiswa Ilmu Politik, Universitas Siliwangi

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses