Megathrust hingga saat ini masih menjadi bayang-bayang masyarakat Indonesia yang dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa bisa diprediksi secara pasti.
Megathrust merupakan sebuah fenomena gempa besar yang terjadi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba dari akumulasi tegangan yang terjadi antara dua atau lebih lempeng yang bertumbukan. Pelepasan energi ini terjadi apabila lempeng mengalami stress yang sangat besar dan telah melewati titik kritisnya sehingga patah (fracture) secara tiba-tiba.
Energi yang dilepaskan oleh gempa megathrust termasuk ke dalam kategori yang besar. Sebuah gempa dikatakan sebagai megathrust apabila memiliki magnitude di atas M 7.0. Sejauh ini sejarah mencatat telah terdapat beberapa gempa megathrust yang terjadi di Indonesia, salah satunya dengan magnitude paling besar adalah Gempa Andaman-Aceh (2004) dengan magnitude M 9.1.
Secara geologis Indonesia terletak di antara 3 lempeng besar, yaitu lempeng Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Titik pertemuan 3 lempeng ini menyebabkan Indonesia memiliki zona pertemuan lempeng (zona subduksi) sepanjang daerah Andaman (Aceh) hingga Indonesia bagian timur.
Dilansir dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) tahun 2017, terdapat 13 segmen megathrust di Indonesia dengan 7 segmen di antaranya berada di pulau Sumatera. Hal ini menjadi dasar mengapa banyak sekali gempa besar yang terjadi di wilayah Sumatera. Tujuh segmen megathrust Sumatera antara lain adalah:
- Segmen Aceh-Andaman: M 9.1 (2004)
- Segmen Nias-Simeulue: M 8.6 (2005)
- Segmen Batu:- –
- Segmen Mentawai-Siberut: M 8.5 (1797)
- Segmen Mentawai-Pagai: M 8.4 (2007)
- Segmen Enggano: M 7.3 (2000)
- Segmen Selat Sunda: M 8.5 (1757)
Pada umumnya gempa bumi memiliki waktu ulang (siklus) untuk merilis energi yang telah terakumulasi. Dari tujuh segmen Sumatera, hanya ada 2 segmen yang belum mengalami gempa besar kembali semenjak terakhir kali terjadi gempa besar di sana, segmen tersebut adalah segmen Mentawai-Siberut dan segmen Selat Sunda.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), segmen Mentawai-Siberut terakhir mengalami gempa besar pada tahun 1797 dengan magnitude M 8.5, sedangkan segmen Selat Sunda terakhir mengalami gempa besar pada tahun 1757 dengan magnitude M 8.5. Hal ini menandakan adanya seismic gap atau akumulasi energi yang tersimpan selama lebih dari 200 tahun di sana.
Pergerakan lempeng pada zona subduksi Sumatera rata-rata sebesar 4 cm/tahun (PuSGeN, 2017), hal ini menandakan total stress yang tersimpan hingga saat ini dapat menyebabkan patahan (rupture) sebesar 8-10 meter dengan perkiraan magnitude maksimal (Mmax) sebesar M 8.8-8.9.
Dengan magnitude sebesar ini dapat berpotensi menimbulkan kerusakan bangunan berat serta berpotensi terjadinya tsunami. Wilayah yang berpotensi akan terdampak langsung adalah kepulauan Mentawai, kota Padang, serta pesisir Lampung dan Banten (Rohadi et al, 2018).
Kondisi geologi yang kompleks pada setiap segmen membuat megathrust tidak bisa diprediksi secara pasti kapan akan kembali terjadi, ibarat bom waktu yang tinggal menunggu kapan saat yang tepat untuk meledak.
Sejauh ini, banyak penelitian telah dilakukan oleh PuSGen, BMKG, BRIN, dsb untuk menganalisis pergerakan lempeng serta dampak yang bisa ditimbulkan untuk keperluan mitigasi bencana kedepannya. Dengan itu terdapat beberapa langkah yang dapat pemerintah dan masyarakat lakukan dalam hal mitigasi kebencanaan.
BMKG telah memberikan informasi pada laman bmkg.go.id mengenai prosedur apabila terjadi gempa yang terbagi ke dalam 3 tahapan sebagai berikut:
1. Pra-Gempa (Sebelum Gempa)
- Ketahui lingkungan sekitar seperti posisi pintu keluar darurat dan lokasi terbuka untuk keperluan evakuasi
- Pastikan perabotan seperti lemari atau cabinet tidak mudah roboh
- Persiapkan peralatan darurat seperti P3K, makanan/minuman, dan dokumen-dokumen penting
- Pelatihan dan persiapan tanggap bencana seperti P3K, alat pemadam, dan simulasi evakuasi saat terjadi gempa
2. Saat Gempa
a. Jika di dalam bangunan:
- Berlindung di bawah meja atau struktur yang kokoh
- Lindungi kepala dari reruntuhan bangunan atau benda
- Hindari jendela kaca atau benda berat yang bisa jatuh
- Jangan gunakan lift, gunakan jalur evakuasi darurat
b. Jika di luar bangunan (tempat terbuka):
- Cari tempat yang luas, hindari bangunan, pohon, tiang Listrik, dan objek berbahaya lainnya
c. Jika sedang mengemudi:
- Hentikan kendaraan di bahu jalan, turun, dan pindah ke area yang aman
d. Jika berada di pesisir:
- Segera jauhi bibir pantai dan cari wilayah yang lebih tinggi
- Pasca-gempa
- Evakuasi secara tenang dan tertib
- Jangan masuk kembali ke bangunan yang rusak
- Waspadai terjadinya gempa susulan
- Ikuti informasi resmi dari BMKG atau BPBD melalui media informasi
- Berikan pertolongan pertama kepada korban yang terluka
- Jaga agar tetap tenang, tidak panik, dan berdoa
Megathrust mungkin tidak bisa diprediksi secara pasti dan presisi kapan akan terjadi. Namun satu hal yang pasti, cepat atau lambat megathrust pasti akan terjadi. Hingga saat ini hanya prediksi berbasis keilmuan dan teknologi yang bisa diupayakan dalam kegiatan mitigasi bencana guna mengurangi resiko dan dampak buruk dari bencana yang mungkin terjadi.
Oleh sebab itu, pengetahuan mengenai mitigasi kebencanaan perlu dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai upaya meningkatkan budaya siaga dan tanggap bencana.
Penulis: Zakky Maulana
Mahasiswa Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung
Referensi
Pusat Studi Gempabumi Nasional (PuSGeN). Peta Sumber dan Bahaya Gempa Tahun 2017. (2017) https://luk.staff.ugm.ac.id/gempa/pdf/Pusgen2017PetaGempaIndonesia.pdf
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2024). Edukasi Gempa Bumi dan Tsunami. BMKG. https://www.bmkg.go.id/gempabumi/mitigasi/edukasi-gempabumi-tsunami
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2024). Tentang Gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang “Tinggal Menunggu Waktu”. https://www.bmkg.go.id/berita/utama/tentang-gempa-di-selat-sunda-dan-mentawai-siberut-yang-tinggal-menunggu-waktu
David W. Scholl, Stephen H. Kirby, Roland von Huene, Holly Ryan, Ray E. Wells, Eric L. Geist; Great (≥Mw8.0) megathrust earthquakes and the subduction of excess sediment and bathymetrically smooth seafloor. Geosphere 2015;; 11 (2): 236–265. doi: https://doi.org/10.1130/GES01079.1
Barbot, S. Physics of Megathrust Earthquakes: Introduction. Pure Appl. Geophys. 176, 3813–3814 (2019).https://doi.org/10.1007/s00024-019-02308-y
Hayden Ringer, Jared P. Whitehead. Methodological reconstruction of historical seismic events from anecdotal accounts of destructive tsunamis: a case study for the great 1852 Banda arc mega-thrust earthquake and tsunami. ArXiv 2020, Cornell University. https://doi.org/10.48550/arXiv.2009.14272
Chlieh, J. P. Avouac, K. Sieh, D. H. Natawidjaja, John Galetzka. Heterogeneous coupling of the Sumatran megathrust constrained by geodetic and paleogeodetic measurements. AGU 2008.https://doi.org/10.1029/2007JB004981
Rohadi, Supriyanto & Sunardi, Bambang & Perdana, Yusuf & Kurniawan, Telly & Rasmid, Rasmid & Haryoko, Urip. (2018). Tsunami Modeling in the Sunda Strait in related to potential Disaster in Lebak, Pandeglang and Jakarta.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












