Bahasa Tidak Punah, Ia Terseleksi: Perkawinan Sosiolinguistik dengan Teori Evolusi Darwin

Adaptasi dan Evolusi Bahasa
Teori evolusi Charles Darwin dapat 'dikawinkan' dengan sosiolinguistik Pierre Bourdieu untuk membedah mengapa bahasa harus adaptif agar tetap eksis. Dalam ekologi bahasa, yang bertahan bukanlah yang paling tua, paling murni, atau paling benar, melainkan yang paling mampu memenuhi kebutuhan hidup penuturnya. (Ilustrasi: Dok. Penulis)

Beberapa hari ini, minat akan bahan bacaan saya jatuh pada bacaan bertema evolusi, mulai dari evolusi geologinya Charles Lyell hingga evolusi biologi dari Charles Darwin. Bahan bacaan ini meningkatkan kecintaan saya terhadap alam, juga paham bahwa manusia bukan suatu pusat apa-apa; bahkan, cenderung menjadi organisme yang seram.

Dari bahan bacaan ini juga, saya menyadari bahwa ada satu sistem universal yang membuat suatu hal tinggal atau hilang, yaitu evolusi sebagai akibat dari seleksi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Evolusi sebagai Akibat dari Seleksi

Sagan dan Druyan (1992), dalam bukunya yang berjudul Shadows of Forgotten Ancestors, menjelaskan tentang konsep seleksi buatan manusia dan seleksi alam dengan mengutip beberapa paragraf dari buku fenomenal Charles Darwin yang berjudul Origin of Species.

Baca juga: Menyaring Filsafat dengan Berfikir Historis, Menemukan Esensi

Sederhananya, beberapa paragraf itu menjelaskan bahwa untuk bertahan hidup, suatu organisme membutuhkan sumber makanan di dalam kondisi ekologis tempatnya tinggal. Lalu, kondisi ekologis tertentu memberi keuntungan sumber daya terhadap organisme dengan ciri atau karakteristik spesifik.

Sehingga, organisme dengan ciri atau karakteristik yang paling menguntungkan untuk kondisi ekologis itu mendapatkan sumber makanan dengan kuantitas yang lebih banyak. Di lain sisi, organisme-organisme yang tidak memiliki ciri khusus menguntungkan ini mendapati sumber makanan mereka termonopoli, perlahan mereka kehilangan sumber makanan, dan akhirnya punah. Dari banyaknya alasan kepunahan, punah akibat seleksi alam menjadi salah satunya.

Organisme-organisme yang “lolos seleksi” ini perlahan-lahan berevolusi ke arah yang tidak acak (suatu kesalahpahaman bahwa masyarakat kontemporer menganggap evolusi berjalan acak). Keteraturan dari evolusi berada pada fakta bahwa evolusi bergerak ke arah kecocokan terhadap kondisi ekologis (survival of the fittest), hingga menghasilkan organisme-organisme yang terkesan diciptakan pada kondisi alam yang luar biasa, oleh suatu entitas yang maha baik menempatkannya sedemikian sempurna.

Prinsip evolusi biologis seperti ini ternyata berlaku juga pada suatu alat topang hidup yang seperti ada dan tiada dalam keseharian kita, yaitu bahasa. Bahasa menjadi alat komunikasi manusia di mana ide, hubungan, dan pesan melekat padanya (Halliday dan Matthiessen, 2014) yang kemudian bertransmisi di antara satu otak dan yang lainnya. Alat transmisi ide, hubungan, dan pesan ini dapat mengalami seleksi alam dan evolusi jika kita memandangnya sebagai suatu organisme.

Bahasa sebagai Organisme

Pandangan bahwa bahasa merupakan organisme hidup sesungguhnya sudah lama digagas oleh para linguis. Bahkan, Thomas Jones dalam Sumarsono (2002) menegaskan bahwa bahasa adalah “benda alam yang organis, yang dibentuk berdasarkan hukum-hukum pasti, berkembang karena mempunyai prinsip internal dalam hidupnya, kemudian mati karena bahasa tidak lagi memahami dirinya sendiri.”

Dalam pandangan ini, terlihat sangat jelas bahwa bahasa bisa dipandang sebagai suatu alat yang juga tunduk pada suatu sistem universal yang saya kemukakan pada permulaan tulisan. Bahasa yang kita gunakan hari ini, yang saya gunakan untuk mengungkapkan ide perkawinan dua teori dari dua disiplin ilmu yang berjauhan ini, bukan serta-merta langsung ada.

Sebaliknya, ia lahir dari sistem komunikasi yang memenangi proses seleksi, kemudian berevolusi menuju arah kecocokan yang tidak lagi bersifat ekologis, melainkan berlandaskan etnografis—yakni keselarasan dengan kehidupan sosial dan budaya tempatnya digunakan. Singkatnya, bahasa mengalami seleksi dan evolusi karena ia adalah sebuah organisme.

Baca juga: Bahasa yang Mulai Kehilangan Rumahnya

Jika kita memandang bahwa bahasa adalah sebuah organisme, maka penutur dari bahasa tersebut adalah sumber daya yang membuat organisme itu bertahan hidup.

Penutur sebagai Sumber Daya

Untuk melanjutkan hidup, organisme membutuhkan sumber daya makanan sebagaimana bahasa membutuhkan penutur untuk tetap ada. Ada hubungan dialektis antara penutur suatu bahasa dan bahasa yang digunakannya.

Sebagaimana disampaikan oleh Pierre Bourdieu (1991) dalam Language and Symbolic Power, bahasa menjaga penutur tetap ‘hidup’ melalui fungsi komunikatifnya, sementara penutur menjaga bahasa tetap hidup dengan terus menggunakannya. Di sisi lain, tersedia berbagai opsi bahasa yang mampu mengambil alih penutur—selayaknya organisme tertentu memonopoli sumber daya dalam suatu kondisi ekologis. Pada titik inilah, seleksi alam mengambil peran dalam pergeseran dan, jika dibiarkan, pemunahan bahasa.

Kondisi yang paling memungkinkan terjadinya pergeseran bahasa adalah ketika bahasa lain mampu memfasilitasi kebutuhan komunikasi penuturnya di berbagai ranah sekaligus (Wilian, 2020). Pergeseran ini tentu berisiko memicu kepunahan jika berlangsung terus-menerus dan merambah ranah-ranah yang sebelumnya dikuasai bahasa lama. Berangkat dari fenomena ini, muncul argumen logis bahwa—layaknya organisme—bahasa harus memiliki karakteristik spesifik agar mampu bertahan hidup dalam kondisi etnografis yang dinamis.

Dengan meminjam konsep seleksi alam Charles Darwin sekaligus memandang penutur sebagai sumber daya, bahasa membutuhkan evolusi agar tetap eksis dan senantiasa mampu memfasilitasi kebutuhan komunikasi para penuturnya. Dalam konteks ini, melestarikan bahasa bukan sekadar masalah konservasi, melainkan soal adaptasi.

Adaptasi Bahasa sebagai Alat Juang

Warganet sering sekali menuntut warganet yang lain untuk menggunakan suatu bahasa sebagaimana bahasa itu diperuntukkan, yang mana ini benar, namun di satu sisi berisiko.

Jika suatu bahasa terus digunakan sebagaimana bahasa itu digunakan di waktu yang lampau, adaptabilitas dari bahasa itu akan berkurang. Ketika suatu bahasa tidak bisa lagi beradaptasi untuk memenuhi fungsi komunikatif tertentu, maka bahasa lain akan “mencuri” penutur dari bahasa itu. Di titik ini, bahasa yang kaku terhadap adaptasi terlihat seperti organisme yang kekurangan makanan karena tidak memiliki ciri yang unggul.

Baca juga: Realitas Kebahasaan dan Budaya dalam Media

Berangkat dari hal itu, untuk menjaga suatu bahasa tetap hidup, tidak hanya dibutuhkan tuturan yang rutin. Di sisi yang lebih dalam, dibutuhkan kemampuan adaptasi bahasa yang mumpuni, suatu adaptasi di mana bahasa tersebut mampu menyandikan atau mengartikulasikan pengalaman, ekspresi, dan perasaan tertentu yang berkembang mengikuti arus jaman.

Oleh karena itu, jangan sesekali merasa aneh dalam menyikapi penambahan kosa-kata di dalam kamus. Itu dilakukan serta-merta untuk menjaga adaptabilitas bahasa, yang menjaga agar sumber dayanya tidak diambil alih oleh organisme lain. Karena dalam ekologi bahasa, yang bertahan bukan bahasa yang paling tua, bukan bahasa yang paling murni, juga bukan bahasa yang paling benar, tetapi bahasa yang paling mampu memenuhi kebutuhan hidup penuturnya.

Referensi:

Bourdieu, P. (1991). Language and Symbolic Power. Harvard University Press

Halliday, M. A. K. & Matthiessen, M. I. M. (2014). Halliday’s Introduction to Functional Grammar. Milton Park: Routledge.

Sagan, C., Druyan, A. (1992). Shadows of Forgotten Ancestors. Democritus Properties.

Sumarsono. (2002). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda.

Willian, S. (2020). Pemertahanan Bahasa dan Pergeseran Identitas Etnis: Kajian Sosiolinguistik Antropologis. Mataram University Press.


Penulis: I Made Chandra Arya Putra
Alumnus Program Studi Sastra Inggris, Universitas Mataram


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi  

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses