Perkembangan media massa dan media digital dalam beberapa tahun belakangan ini telah menghasilkan transformasi besar dalam pola komunikasi masyarakat serta interpretasi mereka terhadap budaya. Bahasa dan budaya yang sebelumnya berkembang secara spontan dalam rutinitas harian kini sering kali diwujudkan dan dipengaruhi oleh isi konten media.
Program televisi, berita online, film, serta platform media sosial memperkenalkan berbagai bentuk bahasa baru yang dengan cepat tersebar luas dan menjadi norma baru, khususnya di antara generasi muda. Perubahan dalam pemilihan kata, gaya berbicara, serta pandangan terhadap budaya tertentu merupakan elemen dari dinamika bahasa dan budaya yang diciptakan oleh media.
Di satu pihak, media memberikan peluang luas untuk pertukaran budaya dan inovasi dalam bahasa. Namun, di pihak lain, media juga bisa menimbulkan simplifikasi, distorsi, bahkan stereotip budaya yang tidak selalu mencerminkan realitas.
Oleh karena itu, penting untuk menelaah bagaimana bahasa dan budaya digambarkan di media, faktor-faktor apa yang mendorong kemunculannya, serta implikasinya terhadap masyarakat.
Bentuk Realitas Kebahasaan dan Budaya dalam Media
1. Penerapan Bahasa Sehari-hari dan Gabungan Bahasa
Media sering kali memperkenalkan gaya bahasa yang lebih ringan, seperti kata-kata slang, akronim, serta perpaduan antara bahasa Indonesia dan bahasa asing.
2. Penggambaran Budaya Domestik dan Internasional
Media mempersembahkan elemen-elemen seperti adat istiadat, busana, kuliner, dan nilai-nilai budaya spesifik, baik yang berasal dari dalam negeri Indonesia maupun dari luar negeri.
3. Pembentukan Persepsi Budaya
Media kerap menciptakan pandangan tertentu mengenai komunitas masyarakat yang terkadang tidak selaras dengan kondisi sebenarnya.
4. Arus Bahasa dari Tokoh Publik dan Platform Daring
Ekspresi atau pola bahasa baru sering kali berasal dari selebritas dan kemudian menyebar ke kalangan masyarakat luas.
5. Penggambaran Budaya melalui Simbol Visual
Sebagai contoh, penggunaan motif batik, tarian tradisional, atau hidangan khas daerah hanya sebagai elemen dekoratif tanpa penjelasan yang mendalam.
Faktor Penyebab
1. Globalisasi Pengetahuan
Ketersediaan jaringan internet memungkinkan budaya luar dengan mudah masuk dan memengaruhi pola bahasa serta cara hidup masyarakat.
2. Persaingan dalam Bidang Media
Media biasanya memilih gaya bahasa yang santai dan menarik agar kontennya lebih cepat diterima oleh audiens.
3. Kemajuan Teknologi Digital
Platform media sosial yang berjalan dengan kecepatan tinggi mendorong munculnya tren bahasa dan budaya baru secara berkesinambungan.
Baca juga: Kunci Sukses Bangun Karakter Moral di Tengah Gempuran Teknologi Digital
4. Dampak dari Tokoh Publik dan Pembuat Konten
Pola berbicara atau cara hidup yang mereka tunjukkan mudah diikuti oleh para pengikutnya.
5. Rendahnya Literasi Media
Bukan semua anggota masyarakat yang dapat menyaring informasi, sehingga setiap tren bahasa atau budaya yang muncul langsung diadopsi tanpa pemikiran kritis.
Dampak Positif
1. Pengembangan Wawasan dan Kreativitas Bahasa
Media membantu masyarakat mengenal istilah-istilah baru dengan lebih baik dan membuat bahasa menjadi lebih hidup serta beragam.
2. Perkenalan Budaya Lokal
Berbagai budaya daerah mendapat kesempatan untuk dipromosikan dan dikenal secara lebih luas berkat peran media.
3. Pertukaran Budaya Antarwilayah dan Antarnegara.
Media memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memahami budaya dari daerah atau negara lain tanpa perlu melakukan perjalanan.
4. Penguatan Identitas Budaya
Konten yang menampilkan budaya Indonesia secara menonjol dapat membangkitkan rasa kebanggaan di kalangan masyarakat.
Dampak Negatif
1. Penurunan Kualitas Bahasa Standar
Penggunaan bahasa sehari-hari yang berlebihan dapat menyebabkan masyarakat, khususnya siswa, kurang mahir dalam menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan tepat.
2. Pembentukan Stereotip Budaya
Penyederhanaan informasi oleh media dapat menghasilkan pandangan yang salah terhadap kelompok budaya tertentu.
3. Penguasaan Budaya Asing
Budaya luar yang lebih dominan berpotensi menggeser budaya lokal ke posisi yang kurang penting.
4. Interpretasi Byang Superfisial
Budaya sering kali disajikan sebagai hiburan belaka tanpa kedalaman, sehingga nilai filosofisnya terabaikan.
5. Penyeragaman Budaya
Konten yang serupa membuat masyarakat kehilangan variasi dalam cara pandang dan praktik budaya.
Simpulan
Fenomena realitas bahasa dan budaya di dalam media tidak dapat dilepaskan dari kemajuan teknologi serta arus informasi yang terjadi saat ini. Media memegang peranan penting dalam membentuk pola komunikasi masyarakat dan pemahaman mereka terhadap budaya lingkungan.
Pengaruh ini dapat memberikan manfaat positif, seperti memperluas promosi dan memajukan budaya setempat, tetapi juga memiliki dampak negatif seperti penyimpangan makna dan penggerusan nilai-nilai budaya.
Oleh karena itu, literasi media yang sangat memadai diperlukan agar masyarakat dapat memahami, meluncurkan, dan memanfaatkan media dengan bijaksana tanpa kehilangan identitas bahasa dan budayanya.
Penulis: Azza Maiza Ramadhan
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis, Universitas Brawijaya
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












