Best Tourism Village: Apakah Desa Wisata Indonesia Sudah Siap Mendunia?

Wisata Indonesia
Best Tourism Village (Sumber: MMI)

Ketika desa wisata Indonesia mulai mendapat perhatian dunia, muncul satu pertanyaan penting yang jarang dibahas: apakah kita benar-benar siap menjadi destinasi berkelas global, atau hanya sedang mengejar popularitas sesaat?

Pertanyaan ini menjadi relevan di tengah meningkatnya perhatian terhadap program Best Tourism Villages (BTV) yang diinisiasi oleh UN Tourism, sebuah penghargaan internasional yang diberikan kepada desa-desa yang berhasil mengembangkan pariwisata secara berkelanjutan dan berbasis masyarakat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui platform Jejaring Desa Wisata (JADESTA), ribuan desa wisata telah terdata dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Banyaknya desa wisata ini menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata berbasis desa telah menjadi salah satu strategi penting dalam pembangunan pariwisata nasional.

Namun, banyaknya jumlah desa wisata tidak serta-merta menunjukkan kesiapan untuk bersaing di tingkat internasional. Dalam praktiknya, masih banyak desa wisata yang mengukur keberhasilan hanya dari jumlah kunjungan wisatawan.

Semakin ramai suatu destinasi, semakin dianggap berhasil. Akibatnya, pembangunan sering kali lebih berorientasi pada penciptaan daya tarik visual yang mudah viral di media sosial dibandingkan membangun fondasi keberlanjutan yang kuat.

Fenomena ini terlihat dari menjamurnya pembangunan spot foto, kafe tematik, atau fasilitas wisata yang mengikuti tren sesaat. Tidak ada yang salah dengan inovasi tersebut, tetapi persoalan muncul ketika pembangunan fisik justru lebih diprioritaskan daripada penguatan kapasitas masyarakat, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan.

Padahal, ketiga aspek inilah yang menjadi inti dari konsep desa wisata dan indikator penting dalam penilaian Best Tourism Villages.

Ironisnya, kekuatan utama desa wisata bukanlah fasilitas modern yang dimilikinya, melainkan keaslian pengalaman yang ditawarkan. Wisatawan datang ke desa untuk merasakan kehidupan lokal, mengenal budaya setempat, menikmati lingkungan yang masih terjaga, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Ketika desa mulai kehilangan identitasnya karena terlalu mengejar tren pasar, maka daya tarik yang membedakannya dari destinasi lain perlahan ikut menghilang.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah keterlibatan masyarakat lokal. Dalam konsep ideal desa wisata, masyarakat merupakan pelaku utama pembangunan pariwisata. Mereka tidak hanya menjadi pekerja atau penerima dampak, tetapi juga pengambil keputusan dan penerima manfaat utama.

Sayangnya, dalam beberapa kasus, keuntungan ekonomi dari sektor wisata masih belum dinikmati secara merata. Ketika masyarakat hanya menjadi pelengkap dalam pengembangan destinasi, maka tujuan pemberdayaan yang selama ini digaungkan menjadi sulit tercapai.

Baca juga: Teluk Lampung: Strategi Ekowisata Berkelanjutan untuk Konservasi Laut dan Pemberdayaan Masyarakat

Aspek lingkungan juga menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Banyak desa wisata berkembang karena memiliki sumber daya alam yang masih terjaga, mulai dari persawahan, pegunungan, sungai, hingga kawasan hutan. Namun, peningkatan aktivitas wisata tanpa pengelolaan yang baik dapat memunculkan berbagai masalah seperti sampah, pencemaran, eksploitasi sumber daya alam, hingga perubahan fungsi lahan.

Tidak sedikit destinasi yang menggunakan label “ekowisata” sebagai strategi pemasaran, tetapi belum menerapkan prinsip konservasi secara konsisten dalam pengelolaannya.

Padahal, standar yang digunakan dalam Best Tourism Villages tidak hanya menilai keindahan destinasi. Penilaian juga mencakup tata kelola, keberlanjutan ekonomi, pelestarian budaya, pengelolaan lingkungan, infrastruktur, serta keterlibatan masyarakat dalam pembangunan pariwisata. Dengan kata lain, penghargaan ini menilai kualitas pembangunan desa secara menyeluruh, bukan sekadar popularitas destinasi.

Indonesia sebenarnya telah membuktikan bahwa desa wisata lokal mampu memperoleh pengakuan dunia. Desa Wisata Nglanggeran menjadi desa Indonesia pertama yang meraih penghargaan Best Tourism Village pada tahun 2021.

Selanjutnya, Desa Wisata Penglipuran memperoleh penghargaan serupa pada tahun 2023, disusul oleh Desa Wisata Jatiluwih dan Desa Wisata Wukirsari pada tahun 2024. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa standar global bukanlah sesuatu yang mustahil dicapai oleh desa wisata Indonesia.

Namun, keberhasilan beberapa desa tersebut seharusnya tidak membuat kita terlena. Penghargaan internasional tidak boleh dipandang sebagai tujuan akhir pembangunan desa wisata.

Terlalu fokus mengejar pengakuan dapat membuat desa lebih sibuk memenuhi indikator penilaian dibandingkan menjawab kebutuhan masyarakatnya sendiri. Pada akhirnya, esensi desa wisata bukanlah memperoleh penghargaan, melainkan menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang berkelanjutan.

Karena itu, tantangan terbesar desa wisata Indonesia bukanlah kurangnya potensi, melainkan bagaimana mengelola potensi tersebut secara konsisten dan berkelanjutan. Pembangunan fisik perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan masyarakat, pelestarian budaya, serta perlindungan lingkungan.

Desa wisata juga perlu memanfaatkan teknologi dan digitalisasi bukan hanya untuk promosi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi dan pelayanan wisatawan.

Program Best Tourism Villages seharusnya menjadi momentum refleksi bagi desa-desa wisata di Indonesia. Pengakuan dunia memang membanggakan, tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa pariwisata benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga lingkungan tetap lestari, dan mempertahankan identitas budaya lokal.

Ketika keseimbangan tersebut berhasil diwujudkan, maka pengakuan internasional bukan lagi sesuatu yang harus dikejar, melainkan konsekuensi alami dari pengelolaan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

 


Penulis: Poppy
Mahasiswa Magister Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses