Edukasi Pemanfaatan Limbah Cangkang Telur sebagai Pupuk Organik

Edukasi Pemanfaatan Limbah Cangkang Telur
Edukasi Pemanfaatan Limbah Cangkang Telur sebagai Pupuk Organik.

Abstrak

Limbah rumah tangga seperti cangkang telur memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik alami. Cangkang telur mengandung sekitar 90–95% kalsium karbonat (CaCO₃), yang berfungsi meningkatkan kesuburan tanah.

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat RT 04/RW 08 Kelurahan Cilodong, Kota Depok, tentang pemanfaatan limbah cangkang telur sebagai pupuk organik melalui kegiatan sosialisasi dan penyuluhan edukatif.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Metode pelaksanaan meliputi presentasi interaktif, diskusi partisipatif, serta evaluasi pengetahuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat sebesar 85% terkait manfaat dan proses pengolahan cangkang telur, serta 80% peserta berhasil membuat pupuk organik sederhana secara mandiri.

Program ini berkontribusi terhadap peningkatan kesadaran lingkungan, penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), dan penguatan peran masyarakat dalam pengelolaan limbah rumah tangga secara berkelanjutan.

Kata Kunci: limbah cangkang telur, pupuk organik, sosialisasi, edukasi lingkungan, PKM.

Pendahuluan

Peningkatan konsumsi telur di Indonesia menghasilkan limbah cangkang yang cukup besar setiap tahunnya. Sebagian besar limbah ini dibuang tanpa pengolahan, sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Padahal, cangkang telur memiliki kandungan mineral utama berupa kalsium karbonat (CaCO₃), magnesium, dan fosfor yang bermanfaat bagi tanaman.

Rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengelola limbah rumah tangga menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya volume sampah organik.

Program PKM ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat tentang pemanfaatan cangkang telur sebagai pupuk organik alami yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.

Metode Pelaksanaan

Kegiatan PKM dilaksanakan selama satu bulan di RT 04/RW 08, Kelurahan Cilodong, Kota Depok. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif yang terdiri atas beberapa tahapan: (1) koordinasi dan survei awal untuk menentukan lokasi serta jumlah peserta; (2) penyusunan materi sosialisasi tentang kandungan nutrisi cangkang telur, manfaat ekologis, dan langkah pembuatan pupuk; (3) penyuluhan edukatif dengan media presentasi visual dan video pendek; serta (4) evaluasi pengetahuan peserta melalui tanya jawab dan kuesioner. Peserta kegiatan meliputi masyarakat umum.

Baca Juga: Kreatif! Dari Limbah Kulit Pisang dan Jeruk, Sejatea Jadi Inovasi Teh Ramah Lingkungan Karya Mahasiswa UP

Hasil dan Pembahasan

Kegiatan sosialisasi menghasilkan peningkatan signifikan dalam pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga. Berdasarkan hasil evaluasi, 85% peserta memahami manfaat cangkang telur sebagai pupuk organik, dan 80% peserta berhasil membuat pupuk padat maupun cair secara mandiri.

Peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung, terutama pada sesi praktik pembuatan pupuk. Kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran untuk menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dalam kehidupan sehari-hari.

Selain aspek edukatif, kegiatan ini berpotensi meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui produksi pupuk organik rumah tangga. Dengan demikian, program PKM ini tidak hanya berdampak pada aspek pengetahuan, tetapi juga pada perubahan perilaku dan budaya lingkungan yang berkelanjutan.

Kesimpulan dan Saran

Program Kemitraan Masyarakat tentang pemanfaatan limbah cangkang telur sebagai pupuk organik telah berhasil meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat RT 04/RW 08 Kelurahan Cilodong terhadap pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga.

Sosialisasi edukatif dan praktik sederhana terbukti efektif dalam mendorong partisipasi aktif warga. Untuk keberlanjutan program, disarankan agar masyarakat membentuk kelompok pengelola limbah organik dan melakukan pelatihan lanjutan dengan dukungan dari perguruan tinggi serta pemerintah setempat.

Kegiatan ini dapat dijadikan model implementasi pengelolaan limbah berbasis masyarakat yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan.

Penulis:
1. Ilham Zaky Zanuar
2. Johan Wirayudatama
3. Adi Nugroho
4. Assyam Aditya Alif S.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Dosen Pengampu: Oktarina Heriyani, S.Si., M.T.

 

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

Bandura, A. (1986). Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. Prentice-Hall.

Ellen MacArthur Foundation. (2019). Circular Economy: Closing the Loop for a Sustainable Future. London: EMF Press.

Kingori, A. M. (2011). A Review of the Uses of Eggshells and Shell Membranes. International Journal of Poultry Science, 10(11), 908–912.

Rahmawati, D., & Sari, M. (2021). Public Awareness and Behavior in Household Waste Management in Urban Areas of Indonesia. Jurnal Ilmu Lingkungan, 19(1), 23–35.

Susanti, R., & Wijayanti, A. (2022). The Effect of Eggshell Fertilizer on Soil Acidity and Plant Growth. Indonesian Journal of Agricultural Science, 18(2), 77–85.

Yuwono, T., Kurniasih, D., & Prasetyo, A. (2020). Utilization of Eggshell Waste as Organic Fertilizer: A Study on Environmental Management and Soil Improvement. Journal of Environmental Science and Sustainable Development, 4(2), 155–162.

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses