Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keluarga dalam Pelaksanaan Program Keluarga Berencana

Pelaksanaan Program Keluarga Berencana

Latar belakang          

Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia memiliki masalah utama yang dihadapi yaitu tingginya pertumbuhan penduduk. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (2010–2020), laju pertumbuhan penduduk Indonesia meningkat sebesar 1,25 persen per tahun (Badan Pusat Statistik 2021).

Pertumbuhan penduduk tentu berpengaruh signifikan terhadap perkembangan ekonomi dan kesejahteraan negara. Pertambahan penduduk di Indonesia umumnya bisa dikatakan 99,9% disebabkan oleh kelahiran, sisanya berupa migrasi.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia, salah satunya ialah dengan program Keluarga Berencana (KB). Program Keluarga Berencana merupakan program yang dirancang oleh pemerintah dengan tujuan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dan jumlah penduduk.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Pentingnya Program Kampung KB bagi Keluarga Indonesia

Program ini dirancang dalam rangka mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) dengan mengendalikan kelahiran sekaligus menjamin terkendalinya pertumbuhan penduduk. Ada beberapa pihak yang pro maupun kontra terhadap program ini, dengan beberapa pertimbangan dan dampaknya. Beberapa faktor juga memengaruhi keputusan keluarga untuk mengikuti program KB.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keluarga mengikuti KB

Implementasi program keluarga berencana salah satunya dengan penggunaan alat kontrasepsi yang tersedia bagi pria dan wanita. Faktor-faktor pendorong keluarga dalam menjalankan program KB dapat berupa faktor eksternal dan faktor internal.

Salah satu faktor tersebut ialah adanya program penyuluhan dan sosialisasi dari dinas-dinas terkait beserta dukungan yang besar dari pemerintah setempat, sedangkan untuk faktor internal yaitu dikarenakan faktor ekonomi yang belum mencukupi sehingga pasangan suami istri memutuskan untuk menunda kehamilan.

Faktor lain yang berpengaruh ialah pekerjaan di mana beberapa keluarga sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak mempunyai waktu luang untuk mengurusi anak dan ingin menjaga jarak kelahiran anaknya. Adapun dukungan suami juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi sebuah keluarga dalam memutuskan untuk ber-KB.

Peran suami dalam keluarga sangat dominan dan memegang kekuasaan dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan alat kontrasepsi atau tidak karena suami dipandang sebagai pelindung, pencari nafkah dan pembuat keputusan. Faktor penting lainnya  dalam upaya program keluarga berencana adalah pemilihan alat kontrasepsi yang tepat.

Faktor yang mempengaruhi pemilihan alat kontrasepsi

Pemilihan kontrasepsi berdasarkan efektivitasnya dikategorikan menjadi dua pilihan metode kontrasepsi seperti suntik, pil, dan kondom yang termasuk dalam kategori non metode kontrasepsi jangka panjang (non MKJP) dan kategori metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti IUD, implan, MOW, dan MOP.

Dalam suatu penelitian menunjukkan keluarga yang ber-KB di Indonesia lebih menyukai pemakaian metode kontrasepsi non-MKJP dibanding MKJP.  Hal tersebut dikarenakan metode kontrasepsi non MKJP memiliki harga yang relatif murah, sedangkan biaya untuk pemasangan pemakaian MKJP cenderung lebih mahal.

Baca Juga: Mahasiswa UMM bersama Dinas P3AP2KB Kota Batu Membagikan Alat KB

Faktor yang memengaruhi seseorang dalam pemilihan alat kontrasepsi yang akan digunakan antara lain faktor individu, faktor kesehatan, dan faktor metode kontrasepsi seperti biaya dan efek samping.

Faktor lain yang berpengaruh ialah informasi di mana faktor ini menjadi hal yang paling berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi dalam rahim. Makin baik informasi pelayanan KB maka makin tinggi pemilihan alat kontrasepsi dalam rahim.

Dampak positif dan negatif dalam KB

Keputusan keluarga dalam mengikuti program KB juga dipengaruhi oleh dampak positif dan negatif dari program itu sendiri. Adapun dampak positif yang dirasakan beberapa keluarga dengan dua orang anak yang menjadi narasumber adalah membantu mencegah memiliki anak ketiga sehingga dapat menyesuaikan keadaan ekonomi dalam keluarga.

Pengaturan ekonomi keluarga juga berdampak dalam hal lainnya seperti pada aspek pendidikan anak dan kesehatan keluarga. Dampak positif yang lebih besar ialah penurunan angka pertumbuhan penduduk. Program KB memiliki fungsi untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga sehingga dapat mengurangi angka kelahiran. Selain itu, dampak lain yang dirasakan adalah penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.

Permasalahan reproduksi ibu yang dapat terjadi karena persalinan yang terlalu sering adalah pendarahan, penyakit pada rahim, kesehatan anak yang dilahirkan terganggu, bahkan kematian pada ibu dan anak.

Hal tersebut menjadi alasan mengapa jarak kelahiran ibu harus diatur sehingga kesehatan reproduksi ibu terjaga serta anak yang dilahirkan dalam kondisi normal. Berdasarkan hal tersebut program KB berperan penting dalam mendukung peningkatan kesehatan, pendidikan serta kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Dusun Tawang Meninggalkan Kesan Bagi Mahasiswa KKN-PPM UGM

Selain memiliki dampak positif, program KB juga memiliki dampak negatif. Salah satu dampak negatif yang dirasakan adalah jadwal menstruasi yang tidak teratur dan badan menjadi mudah lelah. Efek samping yang dirasakan ini masih menjadi perdebatan karena tidak semua mengalami hal yang sama dan mungkin saja efek samping tersebut bergantung pada kondisi pemakainya.

Efek samping lain yang dirasakan adalah penurunan gairah seksual pada pasangan wanita karena penggunaan alat kontrasepsi juga dapat memengaruhi hormon. Hal tersebut menuntut para ibu untuk pandai memilih alat kontrasepsi dan sangat perlu dikonsultasikan dengan dokter atau bidan sehingga tidak menimbulkan efek samping yang berat.

Dampak positif yang lebih besar adalah penurunan angka pertumbuhan penduduk. Program KB memiliki fungsi untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga sehingga dapat mengurangi angka kelahiran.

Namun disisi lain program KB juga memiliki dampak negatif, salah satu dampak negatif yang dirasakan adalah jadwal menstruasi yang tidak teratur dan badan menjadi mudah lelah. Tetapi  efek samping tersebut bergantung pada kondisi pemakainya.

Sofie Dehan Fahlevie
Asyiva Octaria
Nur Hafifah
Nadzifatussya’diyah
Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia
IPB University

Koordinator: Dr. Megawati Simanjuntak, SP, M.Si
Dosen Pengampu: Ir. MD.Djamaluddin, M.Sc & Dr. Yulina Eva Riany, S.P., M.Ed
Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen

Editor: Diana Pratiwi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI