Ada momen yang mungkin pernah kamu rasakan entah tengah malam scrolling TikTok, atau pagi-pagi buka grup WhatsApp, lalu tiba-tiba ada yang posting tangkapan layar portofolio kripto mereka yang naik tiga kali lipat dalam seminggu. Reaksinya macam-macam: kagum, iri, atau langsung buka aplikasi exchange dan mulai deposit. Itulah titik paling berbahaya dalam perjalanan finansial generasi kita.
Dulu, orang berinvestasi karena kebutuhan: menabung untuk masa pensiun, beli rumah, atau biaya pendidikan anak. Prosesnya panjang, membosankan, dan tidak ada yang tahu kecuali kamu dan penasihat keuanganmu. Sekarang? Investasi sudah jadi konten.
Laporan terbaru dari Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 mencatat bahwa 93% responden di Indonesia sudah familiar dengan aset kripto dan lebih dari separuhnya adalah Gen Z yang aktif menjadikan kripto sebagai topik percakapan sehari-hari di media sosial. Bukan di ruang rapat, bukan di seminar keuangan. Melainkan di grup Telegram, di kolom komentar YouTube, dan di FYP mereka.
Baca juga: GameStop dan Psikologi Investor: Ketika Euforia Pasar Memengaruhi Keputusan Investasi
Kepala Departemen Pengawasan Inovasi Aset Keuangan Digital OJK, Dino Milano Siregar, memberikan catatan yang cukup menggugah: keterlibatan anak muda di pasar kripto “tidak semua didorong oleh pemahaman yang kuat, tetapi juga oleh faktor social learning, peer influence, hingga FOMO yang sangat kuat.”. Kalimat itu sebetulnya bukan kritik. Itu deskripsi jujur tentang bagaimana keputusan finansial kita dibentuk hari ini bukan karena kalkulator, tapi karena timeline.
Fear of Missing Out bukan sekadar istilah psikologi pop. Ini mekanisme sosial yang sudah ada jauh sebelum internet ada naluri purba untuk tidak tertinggal dari kelompok. Bedanya, dulu kamu hanya bisa membandingkan diri dengan tetangga sekampung. Sekarang, kamu membandingkan diri dengan jutaan orang sekaligus, setiap detik, tanpa henti.
Dan media sosial tidak menampilkan gambaran yang utuh. Yang viral adalah cerita sukses: si A beli Bitcoin waktu harganya masih murah, si B dapat 10x dari meme coin dalam dua minggu. Yang tidak viral adalah si C yang nyangkut di koin yang hilang dalam hitungan menit, atau si D yang jual di harga paling bawah karena panik.
Baca juga: Investasi Bukan Soal Angka: Mengapa Psikologi Menentukan Segalanya
Penelitian observasional terhadap komunitas diskusi online menemukan lonjakan fenomena groupthink dalam dua tahun terakhir individu cenderung mengambil keputusan berdasarkan konsensus komunitas, bukan analisis independen. Hasilnya? Gelombang beli masif saat harga naik, gelombang jual panik saat harga turun. Semua bersamaan. Semua karena ikut-ikutan.
Ini bukan soal bodoh atau pintarnya seseorang. Bahkan orang yang paham investasi pun bisa tergoda. Karena masalahnya bukan kapasitas intelektual masalahnya adalah tekanan sosial yang intens dan konstan.
Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar mengejar cuan. Di era media sosial, portofolio investasi sudah bertransformasi menjadi bagian dari identitas. Memiliki kripto tertentu bukan cuma keputusan finansial ini sinyal tentang siapa kamu, nilai apa yang kamu pegang, komunitas mana yang kamu masuki.
Makanya tidak heran kalau banyak anak muda merasa inferior ketika melihat teman-temannya sudah “onboard” sementara mereka belum. Tekanan bukan lagi dari pasar tapi dari lingkaran sosial.
APRDI mencatat bahwa hanya sekitar 7 persen penduduk Indonesia yang berinvestasi secara aktif. Angka ini kecil tapi pertumbuhannya dipenuhi oleh anak muda yang masuk bukan karena strategi finansial yang matang, melainkan karena tidak mau dianggap ketinggalan zaman. Investasi yang semestinya jadi alat mencapai kebebasan finansial, berubah jadi ajang validasi sosial.
Harga meme coin sangat dipengaruhi sentimen media sosial dan tren viral bukan nilai fundamental. Volatilitasnya ekstrem. Banyak proyek kripto yang dipromosikan dengan janji keuntungan besar ternyata tidak punya utilitas yang jelas, bahkan berakhir sebagai skema penipuan.
Kasus klasiknya adalah Squid Game Coin beberapa tahun lalu: harganya meroket fantastis di tengah hype, lalu runtuh dalam sekejap setelah para pembuatnya kabur membawa dana investor. Mereka yang masuk karena FOMO kehilangan segalanya dalam hitungan jam. Tapi siapa yang menceritakan kisah itu di FYP? Tidak ada yang viral dari kerugian.
Baca juga: FOMO dan Prospektus Digital sebagai Faktor Penentu Keputusan Investasi Saham IPO Generasi Z
Solusinya bukan melarang Gen Z berinvestasi. Justru sebaliknya makin banyak orang muda yang mulai melek investasi adalah hal yang baik dan perlu didukung. Masalahnya ada pada mengapa mereka masuk. Apakah karena punya tujuan finansial yang jelas? Atau karena takut dianggap kurang kekinian?
Literasi finansial yang sesungguhnya bukan tentang hafal istilah bullish dan bearish, atau bisa baca grafik candlestick. Literasi adalah kemampuan untuk duduk tenang di tengah kebisingan sosial, lalu bertanya pada diri sendiri: apakah keputusan ini masuk akal untuk hidupku, atau ini cuma karena semua orang sedang melakukannya?. Dua pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi dalam kenyataannya, sangat sulit dijawab jujur ketika notifikasi terus berdatangan dan timeline terus bergulir.
Tidak ada yang salah dengan ingin kaya. Tidak ada yang salah dengan investasi kripto, saham, atau instrumen apapun selama dilandasi pemahaman dan strategi yang jelas. Yang perlu dipertanyakan adalah ini: apakah kamu berinvestasi, atau kamu hanya tidak ingin merasa tertinggal?
Karena pasar finansial tidak peduli dengan perasaanmu. Ia tidak peduli kamu merasa tertinggal, atau kamu baru ikut tren. Ia hanya bergerak mengikuti mekanismenya sendiri dan di ujung perjalanan itu, yang membayar biaya keputusan impulsif adalah dompetmu, bukan timeline-mu. Jadi, sebelum deposit berikutnya: matikan dulu notifikasinya. Pikir satu menit. Dan tanya diri sendiri ini untuk masa depanku, atau ini untuk story-ku?
Penulis:
- A Dinda Thufail Manah
- Bagas Bintang Pangestu
- Ellen Sefianingsih
- Gita Marsela
- Muhammad Ilham
- Ria Aulia
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Ria Aulia S.EI., M.Sc.
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












