Ekonomi Dunia di Bawah Bayang-Bayang Perang: Pertumbuhan Melambat, Perdagangan Terancam, Indonesia di Persimpangan

Ekonomi Dunia
Ilustrasi Ekonomi Dunia (Sumber: Penulis)

Perekonomian global kembali menghadapi tekanan besar, kali ini bukan dari pandemi atau perang dagang, melainkan konflik bersenjata di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut fase ini sebagai “ekonomi global dalam bayangbayang perang”, karena dampaknya terasa pada harga energi, rantai pasok, dan aliran modal, termasuk di Indonesia.

 

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

IMF Pangkas Proyeksi: Dunia Melambat, Inflasi Mengancam

Dalam World Economic Outlook April 2026, IMF merevisi proyeksi pertumbuhan global menjadi sekitar 3,1 persen pada 2026 dan sekitar 3,2 persen pada 2027, turun dari sekitar 3,4 persen pada 2025 dan jauh di bawah ratarata prapandemi 3,7 persen.

Inflasi global diperkirakan naik ke sekitar 4,4 persen pada 2026. Dalam skenario terburuk, jika konflik berkepanjangan dan jalur strategis terganggu, pertumbuhan global berisiko tertekan ke kisaran 2,0–2,5 persen, yang mendekati ambang resesi global.

 

Selat Hormuz: Satu Jalur Laut, Dampak Global

Selat Hormuz, jalur transit sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadi titik krisis utama. Arus lalu lintas kapal komersial di kawasan ini anjlok secara signifikan, sementara harga minyak Brent melonjak lebih dari 10 persen dalam beberapa hari dari sekitar level USD 70an per barel ke atas USD 80 per barel, dengan risiko menembus sekitar USD 99 per barel jika situasi memburuk. Di sisi transportasi, ribuan penerbangan global terganggu atau dibatalkan, sementara biaya logistik dan premi asuransi kapal melonjak tajam.

 

Perdagangan Internasional: Dari Rekor ke Tekanan

Perdagangan barang dunia pada 2025 tumbuh sekitar 4,6 persen, didukung lonjakan permintaan produk berbasis kecerdasan buatan (AI). Namun, dalam proyeksi 2026, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperkirakan pertumbuhan perdagangan barang global melambat tajam ke sekitar 1,9 persen, bahkan berpotensi turun ke sekitar 1,4 persen jika harga energi tetap tinggi.

Baca juga: Peluang dan Tantangan Kolaborasi Kebijakan Perdagangan Internasional di Indonesia

Proporsi perdagangan dunia yang berada di bawah prinsip MostFavored Nation (MFN) juga menurun menjadi sekitar 72 persen, dari sekitar 80 persen setahun sebelumnya, menandai erosi sistem perdagangan multilateral.

 

Indonesia: Antara Guncangan dan Peluang

Bagi Indonesia, proyeksi pertumbuhan bervariasi: Bank Dunia memperkirakan sekitar 4,7 persen, IMF sekitar 5,0 persen, dan ADB memperkirakan sekitar 5,2 persen pada 2026. Bank Indonesia mencatat outflow sekitar Rp21 triliun hingga pertengahan April 2026, dipicu sentimen risiko global (riskoff).

Dalam asumsi makro dan perhitungan internal, setiap kenaikan USD 1 per barel harga minyak dapat menambah beban subsidi energi sekitar Rp10,3 triliun, sementara tambahan penerimaan pajak diperkirakan sekitar Rp3,5 triliun. Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 berada di sekitar USD 70 per barel, sedangkan harga ratarata Brent telah berada di kisaran USD 72 per barel, sehingga ruang fiskal menjadi lebih sempit.

Di sisi lain, sebagai eksportir utama batu bara, CPO, nikel, dan emas, Indonesia berpotensi diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa dampak konflik belum secara signifikan menurunkan PDB Kuartal I 2026, namun tekanan pada neraca perdagangan diperkirakan mulai terasa pada periode April–Juni 2026.

 

Respons Kebijakan

IMF, WTO, Bank Dunia, dan UNCTAD menegaskan bahwa risiko ke bawah mendominasi prospek ekonomi global, sehingga koordinasi kebijakan moneter dan fiskal internasional, serta langkahlangkah responsif di tingkat domestik, menjadi sangat penting. Bagi Indonesia, kunci utama adalah diversifikasi energi dan pasar ekspor, penguatan cadangan strategis, serta pendalaman kerja sama ekonomi ASEAN.

Dalam bayang-bayang perang, ketangguhan ekonomi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga stabilitas dan kedaulatan ekonomi nasional.

 


Penulis: Siti Rahmah Miftahul Janah
Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang 


Dosen Pengampu: Dina Novita, S.E, MM


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses