Festival Kampung Cempluk ke-15: Membangkitkan Kesenian Tradisional dan Ekonomi Lokal di Malang

Saksikan kemeriahan Festival Kampung Cempluk ke-15 di Kabupaten Malang! Nikmati pertunjukan seni, kuliner khas, dan suasana yang penuh keceriaan.
Festival Kampung Cempluk ke-15 (Sumber: Foto Penulis).

Malang, MMI – Festival Kampung Cempluk kembali hadir untuk yang ke-15 kalinya di Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Acara ini secara resmi dibuka pada Senin sore (6/10/2025) oleh Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib dan berlangsung selama enam hari, dari tanggal 6 hingga 11 Oktober.

Festival ini bertujuan untuk menjaga warisan budaya sekaligus memberikan ruang bagi pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Gandheng Roso, Tandur Budoyo” yang mengajak masyarakat bersatu untuk merawat dan melestarikan budaya lewat ragam pertunjukan seni serta hiburan yang melibatkan warga, pelajar, dan mahasiswa.

Kepanitiaan terdiri atas berbagai kalangan warga Kampung Cempluk, dari remaja hingga dewasa, dengan partisipasi aktif mahasiswa sebagai relawan, menegaskan semangat gotong royong yang tumbuh sepanjang penyelenggaraan festival.

Perayaan Festival Kampung Cempluk dimulai dengan rangkaian kirab budaya yang sarat makna. Salah satu momen penting adalah prosesi Manusuk Sima, yang menjadi simbol pembersihan niat dan harapan agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan sukses.

Setelah kirab pada sore hari, acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni di panggung utama pada malam hari. Sepanjang enam hari pelaksanaan, pengunjung disajikan beragam hiburan seperti tari tradisional, pertunjukan musik band, vokal, dan pertunjukan bantengan yang menjadi magnet utama.

Semua penampil berasal dari warga sekitar yang antusias menampilkan bakatnya. Panitia juga membuka kesempatan luas bagi masyarakat dan mahasiswa untuk turut serta dalam pertunjukan.

Selain kegiatan seni, pengunjung dapat menikmati kuliner UMKM lokal yang berjajar di sepanjang gang, mencoba permainan modern, serta wahana seperti goa hantu dan photobooth bergaya tempo dulu yang berkolaborasi dengan mahasiswa Universitas Brawijaya.

Dekorasi stand UMKM maupun area festival juga ditata dengan nuansa tempo dulu, misalnya melalui penambahan hiasan jerami dan ornamen tradisional yang menghadirkan suasana klasik. Bahkan beberapa rumah warga turut dihias dengan gaya serupa, sehingga semakin memperkuat atmosfer khas desa tempo dulu.

Seluruh rangkaian dekorasi ini membuat pengunjung seolah diajak bernostalgia untuk merasakan kembali kehidupan sederhana khas pedesaan pada masa lampau.

 

Photobooth Gaya Tempo Dulu (Sumber: Foto Penulis).

Baca Juga: Festival Srawung Kampung di Kotagede Yogyakarta

Indi, salah satu panitia inti, menyampaikan harapannya agar Festival Kampung Cempluk bisa terus digelar secara rutin setiap tahun demi menjaga kelangsungan budaya sekaligus mendukung UMKM.

“Saya berharap festival ini menjadi agenda tahunan yang mampu menarik lebih banyak wisatawan dari dalam maupun luar daerah,” kata Indi dengan penuh optimisme.

Seorang pengunjung dan warga setempat, Dini, yang rutin hadir di festival ini, memberikan penilaian positif. “Saya sangat menikmati acara ini. Selain menghibur, festival ini sukses menghidupkan kesenian tradisional dan memperkenalkan budaya kepada generasi muda. Aneka jajanan UMKM yang unik dan ramah di kantong juga memberi dampak positif bagi perekonomian warga,” kata Dini mewakili semangat para pengunjung lainnya.

Stand Kuliner UMKM (Sumber: Foto Penulis).

Festival Kampung Cempluk ke-15 layak mendapatkan apresiasi tinggi. Dengan tema “Gandheng Roso, Tandur Budoyo,” festival ini menunjukkan komitmennya untuk terus menggelorakan kesenian dan budaya lokal.

Baca Juga: Mini Exhibition Pagelaran Kampung Tugu: Menyapa Sejarah lewat Benda Peninggalan

Acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang interaksi serta pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan ritual budaya dan pertunjukan seni modern maupun tradisional. Sinergi budaya yang tercipta menjadi kekuatan utama festival ini, sementara dukungan terhadap UMKM menjadi strategi penting yang harus terus dikembangkan.

Festival Kampung Cempluk juga berperan sebagai sarana edukasi budaya dan pendorong perekonomian masyarakat. Berkat kontribusi aktif warga dan dukungan pemerintah daerah, kegiatan ini berhasil menguatkan identitas budaya sekaligus menumbuhkan kebanggaan akan seni tradisional.

Ke depan, diharapkan festival ini dapat terus berevolusi dengan ide-ide segar tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang menjadi fondasi masyarakat Kampung Cempluk.

Penulis: Dyta Anniza Nafiatul Ulya
Mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan Universitas Negeri Malang

 

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses