Saya sebagai calon ahli ilmu pangan dengan pengalaman yang dimiliki, saya harus memiliki kontribusi untuk negara Indonesia.
Menurut saya, tantangan yang muncul dalam 5-10 tahun ke depan berkaitan dengan pangan. Kualitas dan kuantitas menjadi hal penting dalam pangan.
Saat ini banyak ditemukan masalah terkait kesehatan, perubahan pola konsumsi, dan meningkatnya gaya hidup modern sehingga dengan ini pangan fungsional modern menjadi penting.
Sebagai calon ahli ilmu pangan, saya memiliki ide membuat produk berbasis modern dari bahan dasar kunyit karena banyak senyawa bioaktifnya.
Senyawa bioaktif kunyit memiliki aktivitas biologis sebagai antioksidan, neuroprotektif, antitumor, anti-inflamasi, anti-asidogenik, radioprotektif dan radang sendi (Amalraj et al. 2017).
Berdasarkan fokus yang saya tekankan dan melalui STEAM, saya ingin mengembangkan produk pangan fungsional berbahan dasar kunyit yang modern, berkualitas, dan dapat diterima konsumen.
Berdasarkan hal ini, kontribusi saya dalam STEAM sebagai berikut:
1. Science
Berdasarkan aspek science, saya ingin mempelajari lebih dalam mengenai senyawa bioaktif pada kunyit, seperti kurkumin. Kurkumin adalah salah satu jenis senyawa pada kunyit.
Contoh penelitian (Kharat et al. 2017) memanfaatkan kurkumin pada makanan dan suplemen, namun memiliki kelarutan, stabilitas, dan bioavailabilitas yang rendah.
Baca Juga: Peran STE(A)M dalam Membangun Ketahanan Pangan Indonesia: Sebuah Perspektif Calon Ahli Pangan
Menurut saya stabilitas kurkumin dan interaksi kurkumin dengan molekul lain perlu diteliti dan dipelajari lebih dalam.
Kendala dan tantangan terkait stabilitas dan interaksi tersebut memicu saya untuk mendapatkan ide, strategi, dan metode yang efektif untuk mengatasi kendala terkait stabilitas senyawa bioaktif kurkumin ketika digabungkan dengan produk pangan.
2. Technology
Berdasarkan aspek technology, saya tertarik mempelajari teknik pengolahan yang tepat untuk mempertahankan senyawa kurkumin.
Teknologi, seperti mikroenkapsulasi dan ekstraksi mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan.
Penelitian (Huang et al. 2020) mendapatkan kurkumin yang dienkapsulasi memiliki stabilitas yang baik terhadap panas.
Penelitian (Slacek et al. 2023) juga menunjukkan ekstraksi pada suhu 60°C memiliki kandungan kurkumin lebih tinggi.
Inovasi teknologi yang diterapkan pada kunyit tidak hanya menekankan aspek fungsionalnya saja, tetapi juga menghasilkan senyawa bioaktif yang dapat dipertahankan.
Saya ingin menjamin proses produksi yang dilakukan meningkatkan stabilitas senyawa kurkumin sehingga produk yang dihasilkan aman, berkualitas, dan bermanfaat.
3. Engineering
Berdasarkan aspek engineering, saya ingin mengembangkan kunyit menjadi produk minuman fungsional atau snack bar kunyit yang kaya nutrisi.
Aspek engineering yang ingin saya terapkan adalah quality control pada seluruh kegiatan produksi. Quality control ini menjadi bagian yang ingin saya kuasai sebagai calon ilmu pangan.
Baca Juga: Yuk Kenali Manfaat Kunyit sebagai Obat Hipertensi
Tujuan quality control adalah menjaga konsistensi kualitas produk, meminimalkan kesalahan, dan meningkatkan kepuasan konsumen akan produk (Sharmile et al. 2025).
Produksi dengan quality control ini akan menghasilkan produk yang aman dan terjaga.
4. Art
Berdasarkan aspek art, saya merasa inovasi pangan fungsional tidak cukup hanya menekankan nilai berkualitas dan sehat, namun juga harus memiliki visual produk yang menarik.
Saya ingin menekankan kemasan dan desain yang modern sehingga kunyit tidak lagi dianggap produk tradisional, seperti jamu, tetapi sudah berkembang dalam konsep yang lebih modern.
Konsep kemasan dan desain modern tersebut harus dibuat sesuai kesukaan generasi muda saat ini. Kemasan modern yang didesain harus diikuti dengan kemampuan dalam mendesain.
Penelitian (Kancana et al. 2024) menyatakan pandangan maupun perilaku konsumen berpengaruh besar terhadap design thinking sehingga kinerja inovasi dapat ditingkatkan.
Berdasarkan hal ini, saya terinspirasi ingin menerapkan design thinking dalam mengembangkan produk inovasi berbahan dasar kunyit.
Design thinking ini berperan besar dalam menghasilkan desain kemasan produk kunyit modern yang dapat mengikuti trend anak muda saat ini.
5. Mathematics
Berdasarkan aspek mathematics, sebagai calon ilmu pangan, saya ingin menerapkan matematika dalam melakukan inovasi produk fungsional berbasis kunyit.
Menurut saya matematika ini berfungsi dalam membentuk formulasi produk, analisis data, maupun perbaikan produksi.
Penelitian (Komonsing et al. 2022) juga menghubungkan kondisi pengeringan dengan degradasi pada kurkuminoid dalam bentuk kurva matematika.
Baca Juga: Kunyit Ajaib: Menguak Keajaiban Curcuma Sebagai Obat Penurun Demam
Matematika ini dapat digunakan dalam menentukan perbandingan formulasi kunyit dan membentuk model matematika terkait perubahan senyawa bioaktif selama produksi.
Melalui hal ini, saya dapat mengembangkan produk yang dapat dibuktikan secara ilmiah dengan data yang dimiliki.
Matematika juga membantu saya menilai apakah kualitas produk yang dihasilkan konsisten atau tidak sehingga akan dapat terpantau.
Kesimpulan
Peran saya sebagai calon ilmu pangan dalam STEAM, saya ingin menjadi peneliti yang dapat berinovasi menghasilkan produk berbahan dasar kunyit yang tidak hanya bermanfaat melainkan juga menarik dan teruji dari segala aspek.
Saya merasa dengan pendekatan STEAM ini saya dapat berkontribusi lebih karena pengembangan produk kunyit di negara Indonesia terbilang cukup sedikit hingga saat ini.
Penulis: Ela Roswasti Angelia Syeba Ginting (F0505251038)
Mahasiswa Prodi Ilmu Pangan, IPB University
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Amalraj A, Pius A, Gopi Sreerag, Gopi Sreeraj. 2017. Biological activities of curcuminoids, other biomolecules from turmeric and their derivatives. J Tradit Chinese Med Sci. 7(2):205–233. doi:10.1016/j.jtcme.2016.05.005.
- Huang C, Wang S, Yang H. 2020. Evaluation of thermal effects on the bioactivity of curcumin microencapsulated with porous. Processes. 8(172):1–19. doi:10.3390/pr8020172.
- Kancana S, Farida N, Ngatno N, Prabawani B. 2024. Is design thinking the bridge to the success of product innovation. Di dalam: Proceedings of the International Conference on Multidisciplinary Studies. Atlantis Press SARL. hlm 100–108.
- Kharat M, Du Z, Zhang G, Mcclements DJ. 2017. Physical and chemical stability of curcumin in aqueous solutions and emulsions: impact of pH, temperature, and molecular environment. J Agric Food Chem. 65:1525–1532. doi:10.1021/acs. jafc.6b04815.
- Komonsing N, Reyer S, Khuwijitjaru P, Mahayothee B, Müller J. 2022. Drying behavior and curcuminoids changes in turmeric slices during drying under simulated solar radiation as influenced by different transparent cover materials. Foods. 11(696):1–17. doi:https://doi.org/10.3390/foods11050696.
- Sharmile N, Chowdhury RR, Desai S. 2025. A comprehensive review of quality control and reliability research in micro-nano technology. Technologies. 13(94):1–45. doi:https://doi.org/10.3390/technologies13030094.
- Slacek G, Kotnik P, Osmi A, Postružnik V, Knez Ž, Finšgar M, Marevci MK. 2023. The extraction process, separation, and identification of curcuminoids from turmeric Curcuma longa. Foods. 12:1–14. doi:https://doi.org/10.3390/foods1221400.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












