Kesadaran Sampah Masih Rendah, MMD DM UB Ungkap Realita Pengelolaan Sampah di Desa Ranupani

Kesadaran Sampah Masih Rendah, MMD DM UB Ungkap Realita Pengelolaan Sampah di Desa Ranupani
Sumber: Dokumentasi Penulis

Lumajang, MMI – Tim Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) bersama program Doktor Mengabdi dan WasteHub melakukan serangkaian survei dan pemetaan kondisi pengelolaan sampah di Desa Ranupani, kawasan strategis di kaki Gunung Semeru yang juga menjadi destinasi wisata alam unggulan.

Hasilnya menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di desa ini masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi pengetahuan, fasilitas, maupun kebiasaan warga.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Program bertajuk “Waste to Wealth Ranupani” ini yang diketuai oleh bapak Yusri Abdillah, Ph.D., CPM melibatkan 236 Kepala Keluarga dalam survei door-to-door.

Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 67,4% warga masih menganggap sampah tidak bernilai, sementara hanya 32,6% yang menyadari bahwa sampah dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

Lebih lanjut, hanya 24,2% warga yang sudah membiasakan diri memilah sampah di rumah. Sebagian besar responden juga belum memahami konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), bahkan 81% belum pernah mendengarnya. Pemahaman mengenai jenis-jenis sampah juga belum merata, terutama untuk sampah residu yang baru dikenal oleh 61,4% responden.

Menariknya, mayoritas warga telah menyadari potensi ekonomi dari sampah, termasuk pemanfaatannya untuk kompos atau dijual ke pengepul.

Namun, kesadaran ini belum diimbangi dengan pelatihan dan dukungan fasilitas yang memadai.

Misalnya, 92,4% warga tidak memiliki iuran sampah bulanan, dan 88,1% menyatakan tidak ada tempat sampah di jalan, bahkan 97,5% belum pernah melihat kampanye atau sosialisasi pemilahan sampah.

Masalah lain adalah kebiasaan membakar sampah. Sebanyak 21,2% warga masih terbiasa membakar sampah, dengan sebagian besar belum menyadari dampak kesehatannya.

Dalam aspek pemberdayaan, hanya sebagian kecil masyarakat yang tergabung dalam komunitas pengelolaan sampah, dan sebanyak 91,1% warga menyatakan perlunya komunitas kebersihan untuk meningkatkan kesadaran dan koordinasi.

Hambatan utama lainnya meliputi keterbatasan fasilitas (49,5%), kurangnya pengetahuan (35,4%), dan minimnya insentif atau motivasi.

Temuan ini menjadi dasar rekomendasi tim Doktor Mengabdi UB agar dilakukan edukasi lanjutan, penyediaan fasilitas pemilahan, pembentukan komunitas kebersihan, serta integrasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

“Desa Ranupani punya potensi besar, tapi perlu kerja sama lintas pihak untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berdampak ekonomi,” ujar Rey Sekretaris Mahasiswa tim MMD DM UB dalam laporan penutup.

Melalui kolaborasi dengan WasteHub, program ini diharapkan menjadi awal dari perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah, dari yang semula dianggap sebagai beban menjadi sumber daya yang bernilai.

 

Penulis: TIM MMD DM Ranupani 2025
Mahasiswa Universitas Brawijaya

Dosen Pengampu: Yusri Abdillah, Ph.D., CPM

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses