Ketika Esai Ditulis Mesin: Masihkah Kita Perlu Belajar Menulis?

Penggunaan AI dalam Pendidikan
(Sumber: MMI)

Seorang guru SMA di Jakarta pernah berbagi cerita di sebuah forum daring. Suatu pagi ia menerima dua puluh esai siswa dengan kalimat pembuka yang nyaris seragam, struktur paragraf yang seolah dicetak dari satu cetakan, dan pilihan kata yang jauh melampaui kemampuan rata-rata anak kelas X. Ketika ditanya, sebagian siswa menjawab tanpa banyak rasa bersalah, “Itu hasil ChatGPT, Bu.”

Pengakuan sepolos itu menyingkap persoalan yang jauh lebih besar daripada dua puluh lembar tugas yang tidak orisinal. Sejak akhir 2022, ketika ChatGPT mulai diakses luas oleh publik Indonesia, pengajaran bahasa mengalami guncangan yang tak banyak diperkirakan orang. Hanya dengan satu perintah singkat, sebuah esai—lengkap dengan pendahuluan, isi, dan simpulan—bisa muncul dalam hitungan detik.

UNESCO bahkan mencatat bahwa kecepatan adopsi AI generatif di ruang kelas jauh melampaui kesiapan aturan dan panduan etis yang seharusnya menyertainya. Banyak sekolah, termasuk di Indonesia, masih gagap meresponsnya. Di tengah kegagapan itu, muncul satu pertanyaan yang sederhana tetapi mendasar: kalau tugas mengarang sudah bisa dikerjakan mesin, buat apa lagi siswa belajar menulis?

 

Bukan Sekadar Soal Nyontek

Reaksi paling gampang terhadap fenomena ini adalah menuduh siswa curang atau menjiplak. Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu. Pelajaran menulis sejatinya bukan cuma soal menghasilkan teks yang rapi dan gramatikal. Menulis adalah ruang berlatih berpikir: menggali gagasan, menimbang berbagai kemungkinan, memilih kata yang paling pas, lalu merangkainya menjadi alur yang masuk akal.

Para ahli teori menulis sudah lama menegaskan bahwa mengarang bukan aktivitas satu arah—sekadar memindahkan isi kepala ke atas kertas. Menulis adalah proses bolak-balik: merencanakan, menuangkan gagasan, lalu meninjau ulang, berkali-kali. Begitu proses ini diserahkan sepenuhnya kepada mesin, yang hilang bukan cuma keaslian karya, melainkan kesempatan siswa untuk benar-benar berlatih berpikir.

Di sisi lain, melarang AI secara total juga bukan solusi yang realistis. Anak-anak sekarang tumbuh berdampingan dengan teknologi yang akan terus melekat dalam hidup mereka. Kelak mereka bekerja di dunia yang menjadikan AI sebagai mitra menulis—entah di media, humas, industri kreatif, atau pendidikan itu sendiri. Menutup mata dari kenyataan ini sama saja dengan menyiapkan siswa untuk dunia yang sudah tidak ada lagi.

 

Guru: dari Penilai Jadi Pendamping

Di tengah dilema ini, peran guru Bahasa Indonesia justru semakin penting, bukan semakin surut. Bedanya, guru tak lagi cukup hanya membaca dan menilai hasil akhir tulisan. Ia perlu bergeser menjadi pendamping proses berpikir siswa: memberi bantuan terstruktur secara bertahap sampai siswa mampu berdiri sendiri.

Dalam praktiknya, tugas menulis perlu dirancang ulang agar prosesnya terlihat dan bisa didampingi. Alih-alih hanya menilai produk akhir, guru dapat membagi proses menulis menjadi tahapan yang terpantau: diskusi lisan untuk menggali ide, draf pertama yang ditulis tangan, revisi bertahap disertai umpan balik, hingga refleksi tertulis tentang mengapa siswa memilih kata atau susunan tertentu. Ketika yang dinilai bukan lagi sekadar teks jadi, ruang bagi mesin untuk mengambil alih pun otomatis menyempit.

 

Tugas yang “Tahan AI”

Sejumlah guru kreatif sudah mulai mencoba pendekatan baru yang menarik. Ada yang meminta siswa membandingkan tulisan buatan AI dengan tulisan mereka sendiri, lalu menganalisis perbedaannya dari sisi rasa bahasa, kepekaan terhadap konteks lokal, dan kedalaman emosi.

Ada pula yang menjadikan AI sebagai “lawan diskusi”: siswa bertanya kepada AI soal suatu topik, lalu diminta mengkritik, melengkapi, atau membantah jawabannya dengan argumen dan data sendiri.

Cara-cara ini menggeser aktivitas belajar dari sekadar memproduksi teks menuju mengevaluasi, menyanggah, dan mencipta—tingkat berpikir yang jauh lebih tinggi. AI yang semula dianggap ancaman malah bisa mengangkat keterampilan berpikir kritis siswa ke tempat yang lebih terhormat ketimbang sekadar menyalin jawaban.

Tugas juga menjadi lebih “tahan AI” bila berakar pada pengalaman pribadi dan konteks lokal yang tak dimiliki mesin: menulis kenangan tentang kampung halaman, menanggapi peristiwa yang baru terjadi di sekolah, atau merefleksikan sebuah bacaan dari sudut pandang sendiri. Semakin sebuah tugas menuntut suara dan pengalaman khas siswa, semakin sempit ruang bagi AI untuk menggantikannya secara utuh.

 

PR Baru: Etika Digital

Selain menata ulang tugas, pelajaran Bahasa Indonesia juga perlu memasukkan hal yang dulu nyaris tak tersentuh: literasi dan etika menulis di era AI. Apa bedanya terinspirasi dan menjiplak? Kapan AI boleh dipakai sebagai alat bantu, dan kapan justru harus dihindari agar tidak melumpuhkan proses belajar? Bagaimana cara mengakui kontribusi AI dalam sebuah tulisan secara jujur?

Siswa juga perlu memahami bahwa model bahasa seperti ChatGPT bisa saja menghasilkan informasi keliru yang terdengar meyakinkan—kerap disebut “berhalusinasi”—sehingga sikap kritis dan kebiasaan mengecek ulang tetap penting. Sayangnya, panduan etis penggunaan AI di sekolah-sekolah Indonesia masih sangat terbatas. Banyak guru menghadapi situasi ini sendirian, hanya berbekal intuisi masing-masing, padahal ketiadaan aturan bersama justru membuka peluang penyalahgunaan sekaligus kebingungan.

 

Yang Tidak Bisa Ditiru Mesin

Pada akhirnya, kehadiran AI memaksa kita bertanya ulang: sebenarnya apa yang ingin kita ajarkan lewat pelajaran Bahasa Indonesia?

Kalau jawabannya sekadar keterampilan menghasilkan teks yang gramatikal dan rapi, mesin akan selalu lebih cepat dan tak kenal lelah. Tetapi kalau yang ingin diasah adalah kemampuan menyampaikan pikiran sendiri, menyuarakan pengalaman yang khas, dan menjalin makna lewat bahasa, di situlah manusia tetap tak tergantikan.

Ada paradoks yang menarik di sini: teknologi yang semula dikhawatirkan bakal menggantikan manusia justru mengembalikan perhatian kita pada hal-hal yang paling manusiawi. Ketika mesin mampu meniru bentuk, yang tersisa sebagai pembeda adalah apa yang lahir dari dalam diri—sesuatu yang tak bisa dipinjam dari siapa pun, apalagi dari algoritma.

Barangkali inilah saatnya guru Bahasa Indonesia memandang AI bukan sebagai musuh yang harus dikalahkan, melainkan cermin yang memantulkan pertanyaan paling mendasar: apa yang membuat tulisan kita, sebagai manusia, tetap bermakna? Jawabannya mungkin justru terletak pada hal-hal yang paling sulit ditiru mesin—kejujuran pengalaman, keberanian bersuara, dan kesetiaan pada setiap kata yang kita pilih.

 


Penulis: Desti Ayunda
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Semarang


Dosen Pengampu:

  1. Dr. Santi Pratiwi Tri Utami, S.Pd., M.Pd.
  2. Prof. Dr. Drs. Herman Budiyono, M.Pd.

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses