Surabaya, MMI — Dalam upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran berbasis praktik klinis, kegiatan magang dilaksanakan di Adi Husada Cancer Center Surabaya pada periode 5 Januari hingga 5 Mei 2026.
Program ini diikuti oleh Clara Chindy Aulia (NPM: 23037010001), mahasiswa Program Studi Fisika dengan peminatan fisika medis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Selama pelaksanaan magang, mahasiswa dibimbing oleh dosen pembimbing akademik, Bapak Fajar Timur, S.Si., M.Si., serta pembimbing lapangan, Bapak Achmad Haries Firmansyah, S.Si., yang merupakan fisikawan medis di unit radioterapi Adi Husada Cancer Center.
Adi Husada Cancer Center merupakan unit layanan kesehatan yang berfokus pada penanganan penyakit kanker, khususnya dalam bidang radioterapi. Unit ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern, termasuk perangkat radioterapi dan sistem perencanaan terapi yang mendukung proses pengobatan pasien secara optimal.
Keberadaan tenaga profesional seperti dokter spesialis onkologi radiasi dan fisikawan medis menjadikan layanan di unit ini terintegrasi dan berbasis standar klinis.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami secara langsung proses perencanaan radioterapi menggunakan teknik Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) dan Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT).
Kedua teknik tersebut merupakan metode terapi radiasi modern yang memanfaatkan modulasi intensitas sinar untuk menghasilkan distribusi dosis yang lebih presisi dan sesuai dengan bentuk target tumor pasien.

Pada tahap awal perencanaan, mahasiswa mengikuti proses observasi data hasil CT-Simulator pasien yang digunakan sebagai dasar dalam Treatment Planning System (TPS).
Melalui sistem ini, dilakukan delineasi atau penentuan batas target tumor serta organ sehat di sekitarnya yang harus dilindungi, atau yang dikenal sebagai Organ at Risk (OAR). Proses delineasi menjadi tahap krusial karena akan menentukan arah distribusi dosis radiasi yang direncanakan.
Baca Juga: Cara Mengirim Laporan Magang ke Media Online: 100% Terbit
Mahasiswa juga mempelajari bagaimana parameter teknis dalam TPS diatur untuk menghasilkan distribusi dosis yang optimal. Parameter tersebut meliputi energi foton yang digunakan, sudut gantry, konfigurasi Multi Leaf Collimator (MLC), serta jumlah monitor unit.
Dalam teknik IMRT, radiasi diberikan melalui beberapa sudut dengan modulasi intensitas yang berbeda-beda pada tiap segmen. Sementara pada teknik VMAT, penyinaran dilakukan dengan pergerakan gantry secara rotasi penuh mengelilingi pasien, sehingga distribusi dosis dapat diberikan secara lebih efisien dan merata.
Melalui keterlibatan dalam proses planning kasus pasien, mahasiswa memahami bahwa setiap rencana terapi harus mempertimbangkan keseimbangan antara dosis yang cukup untuk menghancurkan sel kanker dan perlindungan maksimal terhadap jaringan sehat.
Proses optimasi pada TPS dilakukan secara bertahap hingga diperoleh distribusi dosis yang memenuhi kriteria klinis yang telah ditetapkan oleh dokter spesialis onkologi radiasi dan fisikawan medis.
Selain aspek teknis, mahasiswa juga menyaksikan bagaimana kolaborasi antar profesi berlangsung dalam tim radioterapi. Dokter onkologi radiasi berperan dalam menentukan target klinis dan dosis terapi, sementara fisikawan medis memastikan perhitungan dosis serta parameter teknis telah sesuai standar keselamatan radiasi.
Radioterapis turut berperan dalam pelaksanaan simulasi dan terapi. Sinergi antar profesi ini menjadi bagian penting dalam menjamin kualitas layanan kepada pasien.

Kegiatan magang ini memberikan pengalaman nyata mengenai penerapan ilmu fisika medis dalam dunia klinis. Mahasiswa tidak hanya memahami teori mengenai distribusi dosis dan interaksi radiasi dengan jaringan, tetapi juga melihat bagaimana teknologi berperan besar dalam meningkatkan akurasi terapi kanker.
Ketelitian hingga skala milimeter menjadi standar dalam setiap proses perencanaan, mengingat sedikit pergeseran posisi atau kesalahan perhitungan dapat mempengaruhi hasil terapi.
Dari sisi pengembangan kompetensi, pengalaman ini memperluas wawasan mahasiswa mengenai tanggung jawab profesional dalam bidang radioterapi. Perencanaan terapi bukan sekadar proses teknis di depan komputer, melainkan bagian dari upaya menyeluruh untuk memberikan harapan kesembuhan bagi pasien kanker.
Setiap kasus pasien memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan perencanaan yang spesifik dan terukur.
Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3, Good Health and Well-Being, yang menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan kesehatan.
Melalui pemanfaatan teknologi radioterapi modern seperti IMRT dan VMAT, rumah sakit berupaya menghadirkan terapi yang lebih efektif dan aman bagi pasien.
Menurut pembimbing lapangan, kegiatan magang ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami tanggung jawab profesional dalam menjamin keselamatan pasien.
“Kehadiran mahasiswa magang juga memberikan manfaat bagi unit radioterapi, karena mahasiswa turut membantu dalam proses dokumentasi kegiatan di unit radioterapi serta penyusunan materi publikasi. Melalui kegiatan tersebut, informasi mengenai layanan radioterapi di Adi Husada Cancer Center juga dapat lebih dikenal oleh masyarakat,” ujarnya.
Ke depannya, mahasiswa berharap pengalaman ini dapat menjadi bekal dalam mengembangkan kompetensi di bidang fisika medis, khususnya dalam radioterapi modern.
Sementara itu, pihak mitra berharap materi dan praktikum yang telah diterima selama proses magang bisa bermanfaat untuk keberlanjutan dalam bidang fisika medik, terutama bagi mahasiswa yang akan melanjutkan perjalanan kedepan sebagai profesi Fisikawan Medis.
Sebagai penutup, mahasiswa menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim radioterapi di Adi Husada Cancer Center atas kesempatan dan bimbingan yang diberikan selama masa magang.
Pengalaman ini menjadi langkah awal dalam membangun kompetensi profesional di bidang fisika medis, sekaligus memperkuat pemahaman bahwa perencanaan radioterapi merupakan proses yang membutuhkan ketelitian, kolaborasi, dan tanggung jawab tinggi demi keselamatan serta kualitas hidup pasien.
Penulis: Clara Chindy Aulia
Mahasiswa Fisika Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Jawa Timur
Dosen Pengampu: Fajar Timur, S.Si., M.Si.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












