Penulis: Fatimah Azzahra
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih
Hubungan antara Indonesia dan Taiwan merupakan bentuk interaksi yang unik karena tidak dilandasi oleh pengakuan diplomatik formal.
Meskipun ada kebijakan “One China Policy”, kedua pihak justru terus tumbuh dan memilih jalur yang lebih lembut dan inklusif, yaitu lewat diplomasi budaya.
Kedekatan sosial yang terjalin antara masyarakat Indonesia dan Taiwan menjadi bukti bahwa hubungan antarbangsa tidak selalu harus dibangun melalui jalur politik resmi.
Dalam berbagai kesempatan, kegiatan kebudayaan, pendidikan, dan sosial menjadi jembatan penghubung yang efektif antara dua entitas yang secara politik berada pada posisi berbeda.
Diplomasi di Jalur Non-formal
Indonesia berpegang pada One China Policy, yang berarti hanya mengakui Republik Rakyat Tiongkok sebagai satu-satunya representasi sah dari “China”.
Akan tetapi, hal itu tidak menghentikan hubungan ekonomi dan sosial dengan Taiwan.
Melalui Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, interaksi non-formal tetap berjalan aktif, terutama di bidang kebudayaan dan pendidikan.
Setiap tahun, KDEI bersama komunitas diaspora Indonesia di Taiwan mengadakan berbagai kegiatan budaya.
Indonesian Cultural Festival, pameran batik, hingga pertunjukan seni tradisional menjadi simbol persahabatan antar masyarakat.
Baca Juga: Perubahan Hubungan Diplomatik Kepulauan Solomon dari Taiwan ke Tiongkok
Di acara seperti ini, masyarakat Taiwan dapat mengenal lebih dekat warisan budaya Indonesia yang kaya dan beragam mulai dari tari daerah, kuliner nusantara, hingga musik tradisional.
Di sisi lain, Taiwan juga aktif memperkenalkan budayanya kepada masyarakat Indonesia melalui pameran dan festival budaya.
Hubungan dua arah ini memperlihatkan bahwa diplomasi budaya bukan sekadar upaya promosi kebudayaan, tetapi juga alat untuk memperkuat rasa saling menghormati dan memahami perbedaan.
Peran Pendidikan dan Diaspora
Selain melalui kegiatan budaya, hubungan Indonesia–Taiwan juga tumbuh pesat di bidang pendidikan.
Ribuan mahasiswa Indonesia menempuh studi di berbagai universitas di Taiwan melalui program beasiswa pemerintah dan kerja sama akademik.
Para mahasiswa ini tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga menjadi duta budaya yang memperkenalkan nilai-nilai Indonesia di lingkungan kampus internasional.
Sementara itu, komunitas diaspora Indonesia termasuk tenaga kerja migran dan pelajar memainkan peran penting sebagai jembatan sosial.
Mereka memperkenalkan Indonesia melalui interaksi sehari-hari, kegiatan sosial, dan perayaan budaya.
Dari ruang kecil inilah diplomasi non-formal menemukan kekuatannya: membangun kedekatan melalui hubungan manusia, bukan protokol diplomatik.
Baca Juga: One China Policy Kembali Membuat Taiwan Kehilangan Negara yang Mengakuinya
Kedekatan tanpa Pengakuan
Diplomasi budaya antara Indonesia dan Taiwan membuktikan bahwa pengakuan politik bukan satu-satunya jalan untuk membangun kedekatan.
Interaksi yang lahir dari kegiatan budaya, pendidikan, dan komunitas masyarakat mampu melampaui batas formalitas politik.
Kedekatan yang dibangun lewat budaya sering kali lebih tulus, karena berangkat dari rasa saling ingin mengenal dan menghargai.
Di era global yang penuh ketegangan geopolitik, diplomasi budaya menjadi alternatif damai yang menegaskan bahwa seni, pengetahuan, dan interaksi manusia tetap menjadi bahasa universal hubungan antarbangsa.
Melalui jalur budaya, Indonesia dan Taiwan menunjukkan bahwa kerja sama tidak harus menunggu pengakuan yang terpenting adalah keinginan untuk saling memahami dan tumbuh bersama sebagai masyarakat yang beradab.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












