Provinsi Banten sering kali disebut sebagai pintu gerbang internasional Indonesia karena keberadaan bandara dan pelabuhan besar.
Namun, jika kita menelusuri wilayahnya lebih dalam, kita akan menemukan sebuah realitas yang kontras.
Banten seolah memiliki dua wajah yang berbeda: wajah utara yang maju dengan pusat industrinya, dan wajah selatan yang masih berjuang melawan keterbatasan.
Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, saya melihat fenomena ini bukan sekadar masalah letak geografis.
Ketimpangan ini adalah persoalan distribusi kesejahteraan.
Berdasarkan pengamatan saya, kemajuan di wilayah utara seperti Tangerang Raya dan Cilegon memang membanggakan, namun kemajuan itu seolah terhenti di perbatasan wilayah selatan seperti Lebak dan Pandeglang.
Menurut pendapat saya, akses jalan dan fasilitas publik adalah kunci utama yang selama ini membedakan kedua wilayah ini.
Kita tidak bisa mengharapkan ekonomi di selatan tumbuh pesat jika untuk membawa hasil tani ke pasar saja masyarakat harus bertaruh nyawa melewati jalan rusak.
Saya berkeyakinan bahwa keadilan bagi warga Banten baru benar-benar tegak jika standar pelayanan publik di pelosok selatan sudah setara dengan apa yang ada di pusat kota.
Pemerintah memang tengah menggenjot pembangunan infrastruktur, seperti jalan tol yang mulai menembus wilayah selatan.
Namun, bagi saya pribadi, pembangunan fisik hanyalah satu bagian dari solusi.
Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana memastikan masyarakat lokal di selatan tidak hanya menjadi penonton saat tanah mereka mulai dibuka untuk industri atau wisata, tetapi juga ikut menjadi pelaku ekonomi yang berdaya.
Saya bermimpi melihat Banten yang inklusif, di mana tidak ada lagi sekat mental yang memisahkan antara ‘orang kota’ di utara dan ‘orang desa’ di selatan.
Kebijakan pemerintah ke depan harus lebih berani memberikan perhatian khusus bagi wilayah-wilayah yang selama ini tertinggal.
Kita butuh keberpihakan yang nyata, bukan sekadar janji manis di atas kertas.
Pada akhirnya, kejayaan sebuah provinsi tidak dihitung dari seberapa kaya wilayah pusatnya, melainkan dari seberapa kecil jarak antara yang paling maju dan yang paling tertinggal.
Sudah saatnya kita menata ulang arah pembangunan agar seluruh warga Banten bisa merasakan arti kemerdekaan dan kemakmuran yang sesungguhnya secara merata.
Penulis: Viky Ramadhan
Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan, Universitas Pamulang
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












