Menjadi dewasa adalah perjalanan yang tidak selalu bisa kita pilih jalannya. Banyak orang mengira kedewasaan datang seiring bertambahnya usia dan pengalaman, tapi kenyataannya, kadang hidup memaksa kita untuk tumbuh lebih cepat dari yang kita harapkan.
Saya, Naila Luthfiah, adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Banyak yang beranggapan bahwa anak bungsu selalu dimanja, mendapat perhatian lebih, dan bisa bebas menjalani hidup tanpa beban berat.
Namun, hidup saya justru berjalan sebaliknya—saya harus menjadi dewasa karena keadaan yang memaksa, bukan karena pilihan atau kesiapan.
Sejak kecil, saya memang sering dianggap sebagai “si kecil” di keluarga. Kakak-kakak saya sudah lebih dulu mandiri, dan orang tua pun menaruh harapan besar pada mereka.
Namun, ketika kakak-kakak saya mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing-kuliah, bekerja, bahkan menikah-perlahan perhatian dan tanggung jawab di rumah mulai bergeser kepada saya. Saya yang tadinya hanya mengikuti arus, tiba-tiba harus belajar mengambil keputusan sendiri.
Ketika orang tua mulai menua dan kesehatan mereka menurun, saya yang masih tinggal di rumah harus ikut membantu mengurus mereka, mengelola keperluan rumah tangga, dan menjaga agar suasana rumah tetap nyaman.
Pada awalnya, saya merasa berat dan tidak siap. Saya sering mendengar cerita bahwa anak bungsu selalu punya banyak waktu untuk bersenang-senang, tapi saya justru harus belajar mengalah dan menahan keinginan pribadi demi keluarga.
Saya belajar mengatur waktu antara kuliah di farmasi yang padat dengan tugas-tugas rumah yang tak pernah habis. Ada kalanya saya iri melihat teman-teman yang bisa bebas pergi nongkrong atau berlibur, sementara saya harus pulang cepat untuk memastikan orang tua makan tepat waktu atau sekadar menemani mereka bercerita.
Terkadang, saya merasa sendirian. Kakak-kakak saya memang selalu siap membantu jika dibutuhkan, tapi jarak dan kesibukan membuat mereka tidak bisa selalu hadir. Saya pun harus belajar menyelesaikan masalah sendiri, baik itu urusan rumah, keuangan, hingga kesehatan orang tua.
Saya belajar menghubungi dokter, membeli obat, bahkan mengelola administrasi rumah tangga yang sebelumnya tidak pernah saya sentuh. Semua itu terjadi bukan karena saya siap, melainkan karena keadaan yang memaksa saya untuk tumbuh lebih cepat.
Di dunia perkuliahan, tantangan lain menanti. Jurusan farmasi dikenal dengan jadwal yang padat, praktikum yang melelahkan, dan tuntutan akademik yang tinggi. Saya harus membagi waktu dan energi antara tugas kampus dan tanggung jawab di rumah.
Kadang saya merasa lelah dan ingin menyerah, tapi saya sadar, saya tidak punya pilihan lain. Saya harus tetap berjalan, karena orang tua dan keluarga saya membutuhkan saya.
Namun, dalam keterpaksaan itu, saya menemukan kekuatan yang tidak pernah saya duga. Saya belajar untuk lebih sabar, teliti, dan bertanggung jawab. Saya mulai memahami pentingnya komunikasi, baik dengan keluarga maupun dengan teman-teman di kampus.
Saya belajar meminta bantuan ketika benar-benar tidak sanggup, dan saya belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa saya lakukan sendiri. Saya juga mulai menghargai waktu luang, sekecil apa pun, dan menikmati momen-momen sederhana bersama keluarga.
Baca Juga: Pola Asuh Permisif Orang Tua dan Kesehatan Mental Anak
Menjadi dewasa karena terpaksa memang tidak mudah. Ada banyak air mata, rasa lelah, dan kadang perasaan tidak adil. Saya sering bertanya-tanya, mengapa saya harus mengalami semua ini? Mengapa saya tidak bisa menikmati masa muda seperti anak bungsu pada umumnya?
Namun, seiring waktu, saya mulai melihat sisi positif dari semua pengalaman ini. Saya menjadi lebih mandiri, tangguh, dan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup. Saya belajar untuk tidak mudah menyerah dan selalu mencari solusi di tengah kesulitan.
Saya juga mulai menyadari bahwa setiap orang punya jalan hidup yang berbeda. Tidak semua anak bungsu bisa bebas dari tanggung jawab, dan tidak semua anak sulung harus selalu kuat. Hidup tidak pernah benar-benar adil, tapi selalu ada pelajaran di balik setiap kejadian.
Saya percaya, keterpaksaan yang saya alami bukanlah sebuah kutukan, melainkan anugerah yang membentuk karakter dan kepribadian saya.
Kini, saya tidak lagi melihat kedewasaan sebagai beban. Saya justru bersyukur karena pengalaman-pengalaman sulit yang saya alami telah mengajarkan banyak hal. Saya menjadi pribadi yang lebih empati, peduli pada orang lain, dan tidak mudah menghakimi.
Saya juga lebih menghargai setiap momen kebahagiaan, sekecil apa pun itu. Saya tahu bahwa hidup tidak selalu mudah, tetapi saya yakin bahwa saya mampu melewati setiap tantangan yang ada.
Baca Juga: Pengaruh Sosial di Medsos: Saat Validasi Mengatur Cara Kita Hidup
Menjadi dewasa memang bukan pilihan yang diinginkan siapa pun. Namun, jika kita mampu menerima dan menjalani proses itu dengan ikhlas, kita akan menemukan kekuatan dan kebijaksanaan yang luar biasa.
Saya percaya, setiap orang yang pernah mengalami keterpaksaan untuk tumbuh dewasa akan menjadi pribadi yang lebih kuat, tangguh, dan siap menghadapi dunia.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang usia, melainkan tentang bagaimana kita menghadapi dan menyikapi hidup. Menjadi dewasa karena terpaksa mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah, selalu bersyukur, dan terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Inilah perjalanan saya, menjadi dewasa karena terpaksa, namun tetap berusaha menjalani hidup dengan penuh harapan dan semangat.
Penulis: Naila Luthfiah
Mahasiswa Farmasi Universitas Islam Indonesia
Aktif juga di BEM
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












