Merchandise K-Pop: Mengubah Self-Reward Menjadi Pemborosan

Merchandise K-Pop
Merchandise K-Pop: Mengubah Self-Reward Menjadi Pemborosan. Sumber: Penulis.

Popularitas K-Pop terus meningkat semenjak industri musik ini hadir pada tahun 1990-an serta kemunculan grup BTS dan BLACKPINK yang kini menjadi ikon global di industri musik K-Pop telah memikat hati banyak orang dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja hingga orang dewasa.

Penggemar K-Pop dikenal dengan tingginya antusiasme dan loyalitas mereka terhadap idolanya, mereka rela melakukan dukungan apapun demi sang bintang. Oleh karena itu, agensi melihatnya sebagai peluang besar untuk menciptakan merchandise sebagai bentuk identitas fans group dan menjadi tren koleksi yang menyenangkan bagi penggemar.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Mulai dari lightstick untuk konser dengan berbagai variasi bentuk dan warna, photocard selca (selfie), gantungan kunci, boneka karakter, aksesoris, dan lainnya dengan harga yang beragam mulai dari ratusan hingga jutaan rupiah. Merchandise K-Pop memang sangat unik.

Tidak heran, produk-produk tersebut selalu menjadi incaran para penggemar ketika agensi mengeluarkan koleksi terbaru. Dengan seiring berjalannya waktu, industri ini telah mengeluarkan berbagai macam merchandise untuk penggemar dengan kreativitas tanpa batas yang terkadang menghasilkan sebuah tren baru.

Namun, di balik maraknya merchandise K-Pop, muncul perspektif berbeda yang melihat kegiatan ini sebagai kebiasaan boros tanpa manfaat yang jelas sehingga memicu pertanyaan mengenai “apakah ini bentuk self-reward atau pemborosan?”.

Baca Juga: Indonesia Raya di Konser NCT Dream: Cerminan Persatuan dan Keadilan Sosial ala K-Pop

Biasanya, ketika berhasil mencapai salah satu target dalam hidup, kita sering membeli sesuatu sebagai bentuk self-reward.

Di kalangan penggemar K-Pop terkadang mereka mewujudkannya dengan membeli merchandise yang sudah diincar sejak lama, tetapi jika motivasi membeli bukan lagi karena sebuah pencapaian, melainkan karena rasa takut tertinggal (FOMO), mengikuti tren viral, dan ingin dianggap sebagai fans sejati, disinilah akar masalah yang semula positif perlahan berubah menjadi negatif.

Fear of Missing Out (FOMO) merupakan kecemasan akibat takut tertinggal tren viral, kebiasaan, atau pengalaman orang lain. Mereka akan melakukan atau mengikuti segala aktivitas orang lain agar tidak terlihat kurang pergaulan.

Ketika FOMO telah masuk kedalam diri seorang penggemar, akan timbul rasa iri hati yang berdampak buruk bagi kondisi finansial dan mengubah mereka menjadi fanatik. Hal ini terjadi karena FOMO cenderung mengacaukan pola pikir dan menghilangkan kendali diri dalam membatasi pengeluaran.

Akibatnya, pembelian dilakukan tanpa pertimbangan dan tidak memprioritaskan kebutuhan utama, melainkan mendahulukan keinginan yang bersifat kesenangan sesaat.

Perilaku ini membuat seseorang menghabiskan uang tanpa batas untuk sesuatu yang tidak terlau penting, tanpa memikirkan dana simpanan untuk keperluan mendesak di masa mendatang.

Baca Juga: Loyalitas Konsumen terhadap Promotor Konser K-Pop di Kalangan Dewasa Awal

Kondisi ini sangat berbahaya, terutama bagi penggemar remaja. Sebagian dari mereka belum memiliki penghasilan sendiri dan masih mengandalkan uang saku untuk kesehariannya.

Jika mereka masuk ke dalam perilaku tersebut akan sulit untuk dihentikan, berakibat adanya pemaksaan kepada orang tua untuk menuruti keinginannya, tidak bisa membedakan barang asli dan palsu karena tergiur harga yang lebih murah, termakan rayuan oknum penjual, dan lainnya.

Perilaku buruk ini jika dibiarkan akan membentuk kebiasaan konsumtif yang tidak sehat hingga mereka dewasa. Maka dari itu, pengawasan orang tua terhadap penggunaan media sosial anak sangat penting agar tidak terpengaruh oleh dampak buruk yang memicu perilaku FOMO dan konsumtif.

Pada akhirnya, bukan membeli merchandise sebagai bentuk self-reward yang menjadi masalah, melainkan hilangnya kontrol diri seorang penggemar yang telah berubah menjadi fanatik akibat FOMO.

Idola K-Pop memang sumber kebahagiaan kita dan mereka akan selalu bersinar diatas panggung, maka dari itu jangan sampai keserakahan mengendalikan diri kita untuk melakukan perkara yang dapat merusak keadaan di masa depan.

Selain pengawasan, remaja juga perlu diberi pemahaman tentang manajemen keuangan, khususnya dalam membedakan mana kebutuhan yang penting dan kebutuhan yang bisa ditunda, agar paham dampak buruk dari sifat boros.

Hanya memiliki beberapa merchandise saja sudah mengeksperikan diri sebagai penggemar dari idola tersebut, mendukung segala aktivitas mereka dengan hal positif dan mendukung ketika idola mengalami ujaran kebencian dari non-fans saja sudah bentuk cinta.

“Thank you for letting me be a part of your happiness”.

“Thank you for the love though”.

-Mark Lee.


Penulis: Erlin Agustin
Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses