Nasib Pekerja di Bawah Bayang-Bayang Kecerdasan Buatan

Masa Depan Pekerja
Yang menentukan masa depan pekerja Indonesia bukanlah kecerdasan buatan, melainkan kesiapan kita dimasa sekarang dalam menghadapinya kelak dimasa depan.
Setiap kali kecerdasan buatan (AI) dibicarakan dalam konteks dunia kerja, perdebatan selalu jatuh ke dua kubu yang sama antara pro dan kontra, ancaman atau peluang. “AI akan merampas pekerjaan kita dan membuat kita tersisihkan”, kata yang pesimis.
“AI akan menciptakan pekerjaan baru yang lebih baik dan mempermudah pekerjaan kita”, balas yang optimis. Keduanya benar dan justru karena keduanya benar, perdebatan itu kehilangan inti persoalannya.
Bagi Indonesia, pertanyaan yang lebih tepat adalah bukan apakah AI memusnahkan atau melahirkan pekerjaan, melainkan bagi orang yang optimis dan memiliki semangat serta visi kedepan adalah siapa yang akan menikmati pekerjaan baru itu dan siapa yang ditinggalkan.

Angka-angka memberikan kita gambaran yang positif untuk bersikap terhadap peluang yang ada. Studi McKinsey memproyeksikan otomatisasi berpotensi menghilangkan hingga 23 juta pekerjaan di Indonesia pada 2030, tetapi pada saat yang sama menciptakan antara 27 hingga 46 juta pekerjaan baru termasuk sekitar sepuluh juta jenis pekerjaan yang hari ini bahkan belum ada namanya.

Secara matematis, penelitian tersebut adalah  positif. Indonesia diramalkan justru surplus lapangan kerja. Akan tetapi sesuatu yang indah sering kali menyembunyikan sesuatu yang gelap. Surplus nasional tidak berarti apa-apa bagi seorang operator pabrik tekstil berusia 50 tahun di Bandung yang kehilangan pekerjaannya dan tak punya jalan masuk ke profesi “data analyst” yang sedang tumbuh.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di sinilah temuan Bank Dunia dalam laporan Future Jobs (2025) layak menjadi peringatan. Di lima negara ASEAN sepanjang 2018–2022, adopsi robot industri memang menciptakan sekitar dua juta pekerjaan bagi pekerja formal berketerampilan tinggi tetapi pada periode yang sama menggusur sekitar 1,4 juta pekerja formal berketerampilan rendah dari pekerjaan rutin dan manual.

BACA JUGA: Trans Jatim & Aplikasi Trans Jatim Ajaib dalam Pusaran Smart Cities dan Urbanisasi Digital

Teknologi tidak membagikan keuntungannya secara merata. Yang menang adalah para pekerja muda yang keterampilannya melengkapi mesin, yang kalah adalah pekerja yang lebih tua di lini perakitan, yang banyak di antaranya terdorong ke pekerjaan bergaji lebih rendah atau ke sektor informal. AI bukan air pasang yang mengangkat semua perahu secara bersamaan. Ia mengangkat sebagian, dan membenamkan sebagian lain.

Menurut Abdurrahaman yang merupakan seorang profesional di bidang bug hunter, “garis pemisahnya makin jelas, pekerjaan biasa yang bersifat repetitif akan kian tergerus dan digantikan entah oleh AI itu sendiri, entah oleh orang yang mampu mengoperasikannya (AI) karena pada akhirnya semua bermuara pada satu kata “efisiensi”, yang menjadi sangat ironi, pekerjaan yang dulu paling kita anggap “aman” karena berhubungan dengan komputer dan meja kerja malah kini yang paling terdampak, tugas-tugas digital yang berpola dan berulang seperti contoh mengisi data, menyusun laporan rutin, menjawab pertanyaan standar, justru jenis pekerjaan yang semacam inilah yang paling mudah dipelajari mesin”.

Sehingga pro dan kontra yang sesungguhnya bukan lagi persaingan antara manusia dan kecerdasan buatan, melainkan antara mereka yang bisa bekerja bersama AI dan mereka yang hanya bisa dikalahkan olehnya. Pekerja yang menguasai AI tidak menghadapi ancaman, tetapi merekalah yang justru menjadi lebih produktif, lebih bernilai, dan lebih sulit digantikan. Sementara pekerja yang tidak bisa beradaptasi, berisiko menjadi beban efisiensi yang akan dipangkas lebih dulu.

Persoalannya, struktur ketenagakerjaan Indonesia membuat kita berada pada posisi yang rentan. Per November 2025, BPS mencatat sekitar 57,7 persen tenaga kerja, lebih dari 85 juta orang berada di sektor informal tanpa kontrak resmi, tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian penghasilan dari bulan ke bulan.

Bank Dunia menilai negara-negara Asia Timur dan Pasifik memang relatif kurang rentan terhadap pengurangan tenaga kerja akibat AI dibanding negara berpendapatan tinggi, akan tetapi sekaligus kurang siap untuk memanen manfaatnya. Bagi pekerja informal, transformasi teknologi bukan soal kehilangan kursi di kantor, melainkan soal makin sempitnya ruang untuk naik kelas. Ketika pekerjaan formal level awal yang selama ini menjadi tangga pertama menuju kelas menengah mulai diserap otomatisasi, jalur mobilitas sosial itu ikut terkikis.

Gejalanya sudah terasa, dan bukan sekadar ramalan jauh. Sepanjang Januari–November 2025, tercatat lebih dari 79 ribu pekerja terkena pemutusan hubungan kerja, naik sekitar 32 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dengan manufaktur sebagai sektor paling terpukul.

Setiap tahun, sekitar 3,5 juta pencari kerja baru memasuki pasar, sementara ekonomi hanya sanggup menyerap kurang dari dua juta. Tekanan ini berlapis persaingan global, perlambatan industri, dan otomatisasi bekerja bersamaan.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir bahkan secara terbuka menyoroti, awal Juni 2026, bahwa ketidakpastian kerja akibat digitalisasi dan AI kini menjadi kecemasan generasi muda bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara maju, merujuk gelombang pemberhentian pekerja teknologi di Amerika Serikat.

Maka, menggantungkan harapan pada janji “pekerjaan baru akan datang” tanpa memastikan siapa yang bisa mengisinya adalah bentuk kelalaian.

Pekerjaan baru memang akan tercipta, persis seperti yang diramalkan, tetapi pekerjaan itu menuntut keterampilan teknis, kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta keterampilan sosial dan emosional yang tidak otomatis dimiliki oleh mereka yang baru saja tergeser.

Tanpa jembatan, kelahiran pekerjaan baru dan kematian pekerjaan lama hanya akan berlangsung di dua dunia yang terpisah satu untuk yang siap, satu lagi untuk yang ditinggalkan.

Jembatan itu bernama pelatihan ulang dan jaminan sosial. Bukan dalam bentuk program seremonial yang berhenti di sertifikat, melainkan ekosistem belajar sepanjang hayat yang benar-benar terhubung dengan kebutuhan industri, kesadaran inilah yang seharusnya dan wajib kita miliki, kita jangan pernah merasa cukup dan berhenti belajar karena merasa sudah aman dan nyaman dengan hal yang sedang kita nikmati saat ini, tapi kita harus memiliki kesadaran untuk selalu mengembangkan potensi dan keahlian diri kita.

Lulusan kita terus bertambah, tetapi pada kenyataan nya di lapangan, banyak para lulusan s1 dan sederajat, yang bahkan kualitas nya tidak memnuhi standar yang diperlukan dan diinginkan oleh industri, pengangguran terdidik menjadi paradoks yang menyesakkan.

Pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan tidak bisa lagi bergerak sendiri-sendiri dan lambat. Kurikulum harus berani dibenahi, pelatihan vokasi diarahkan ke keterampilan yang dapat saling melengkapi bukan bersaing dengan mesin, bahkan harus bisa menguasai AI tersebut, dan jaring pengaman sosial diperluas hingga menjangkau pekerja informal yang selama ini berada di luar perlindungan.

Kekeliruan cara pandang yang perlu kita koreksi bersama adalah kita sering menyikapi AI seperti gelombang alam yang datang dengan sendirinya, sesuatu yang hanya bisa kita terima sebagai musibah atau syukuri.

Pada kenyataan nya dampak AI terhadap pekerja, sebagian besar ditentukan oleh keputusan manusia itu sendiri, bagaimana perusahaan memilih menerapkannya, bagaimana negara meregulasinya, dan seberapa serius kita berinvestasi pada manusianya serta yang tak kalah penting, seberapa serius kita terhadap diri kita sendiri dalam mempersipakan dan mengupgrade diri kita.

Teknologi yang sama juga bisa menjadi alat yang memperbanyak pekerjaan, membebaskan manusia dari tugas yang membosankan atau monoton, agar bisa mengerjakan pekerjaan yang lebih bermakna atau menjadi alasan efisiensi yang dingin untuk memangkas tenaga kerja demi laba yang lebih besar. Pilihan itu bukanlah milik mesin. Pilihan itu adalah milik kita dan kita yang menentukan nya ingin seperti apa.

Nasib pekerja Indonesia di era Kecerdasan Buatan, pada akhirnya, tidak sedang ditulis oleh algoritma di Silicon Valley. Ia sedang ditulis di ruang rapat kementerian, di kurikulum sekolah, di kebijakan perusahaan, dan di keputusan kita hari ini untuk berinvestasi pada manusia atau tidak, serta yang paling penting dan harus kita sadari adalah pentingnya kita untuk selalu mengupgrade diri kita sendiri, penting nya kita sadar bahwa belajar dan mengembangkan diri itu tidak boleh berhenti sampai kapan pun, karena pada akhirnya kita lah yang paling bertanggung jawab atas diri kita sendiri, baik dan buruk nya kita di masa yang akan datang, itu ditentukan dari usaha dan kesungguhan kita dimasa sekarang, buah yang kita petik saat ini adalah hasil tanaman yang ditanaman bebrapa tahun lalu, buah yang akan kita petik dimasa depan adalah hasil dari tanaman yang akan kita tanam sat ini. Keceerdasan buatan memang akan mengubah dunia kerja, itu adalah suatu keniscayaan. Yang belum pasti adalah apakah perubahan itu akan menjadikan rakyat kita lebih sejahtera atau justru memperdalam jurang yang sudah menganga. Dan ketidakpastian itu, untungnya masih sepenuhnya berada di tangan kita.


Penulis: Ahmad ‘Izzuz Zaman
Mahasiswa Perbandingan Mazhab UIN Raden Fatah Palembang


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses